Judul blog‘Final’

[KBM3] Anak Muda Sekitar Kita

Posted on Updated on

Kulit putih bersih tengah jadi idaman gadis saat ini. Dengan rambut lurus hitam mengkilat serta badan kurus langsingdan berpakaian modis dan sedikit seksi. Ya itulah tren saat ini. Tren yang diadaptasi dari pergaulan dan tentu saja dari tontonan.

Sebagian besar orang tua sudah tahu bahwa pergaulan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan anak. Lalu bagaimana dengan tontonan ?. Sudah tahukah mereka bahwa acara televisi yang anak-anak mereka tonton, juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan si anak ?. Belum tahu atau sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu karena orang tua juga suka dengan acara televisi itu?. Begitukah ?.

Hampir semua acara di televisi, khususnya sinetron, menampilkan hal-hal yang cenderung tidak mendidik. Misalkan cerita tentang anak remaja yang didalamnya hanya berisi soal cinta, patah hati, merencanakan perbuatan jahil, gaya hidup hedonisme dan lain sebagainya.Tak sedikitpun menyajikan gairah sekolah, menuntut ilmu, memilah teman, menjalin persahabatan, melakukan hal-hal yang seru bersama sahabat dengan tetap tidak meninggalkan nilai-nilai positif di dalamnya, berhubungan baik dengan keluarga, dan hal-hal positif lainnya. Ada juga sinetron bergenre dewasa, yang didalamnya hanya terdapat konflik-konflik yang terasa terlalu dibuat-buat. Minim unsur pesan. Pesan yang dirasa oleh penonton, hanya sekedar rasa sedih, jengkel, kesal, dan geregetan. Karena sebagian besar alur cerita mengumbar penderitaan yang dialami pemeran utama. Dan meminimalkan cerita bagaimana proses pemeran utama menjadi bahagia. Mengenai semangatnya yang pantang menyerah. Tentang optimis dan hal-hal positif lainnya. Ini terbalik. Alhasil, penonton akan menjadi begitu melankolis. Mendayu-dayu. Terharu biru. Inilah fakta acara yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun tv negeri ini. Yang tentu saja memberikan dampak negatif terhadap masyarakat, terutama kalangan anak muda.

Saat ini, tanpa disadari, anak muda negeri ini sudah kehilangan jati diri. Mereka akan mengikuti tren yang tengah digandrungi oleh siapa yang mereka tonton, siapa idola mereka. Sebagaimana yang terjadi saat ini. Anak muda tengah berlomba tampil cantik ala artis korea. Hal ini tidak hanya digandrungi oleh anak muda kota saja. Anak muda desa pun melakukan hal yang sama. Ingin segera tampil cantik dengan menggunakan produk cantik instan yang tentu saja ada kandungan berbahaya di dalamnya. Namun, mereka tetap tak peduli.

Tak hanya itu. Penampilan anak muda kota juga mengadaptasi gaya penampilan artis korea dan artis barat. Begitu juga dengan anak muda desa. Mungkin bagi anak muda yang berkecukupan, mengikuti tren tentu saja tidak menjadi masalah. Tapi akan menjadi masalah bagi anak muda yang tidak berkecukupan. Mengikuti tren = melilit leher orang tua.

Namun sayangnya, derasnya arus tren yang berulang-ulang disajikan di tv dan selanjutnya juga diikuti oleh teman-temannya membuat si anak muda yang tidak berkecukupan ini menjadi memaksakan kehendaknya kepada Kepada kedua orang tua tanpa ada rasa asih di hatinya. Na’udzubillah.

Itu baru pengaruh tontonan televisi terhadap penampilan anak muda. Selanjutnya adalah mempengaruhi gaya hidup kalangan anak muda. Hari-hari mereka di sekolah, sebagian besar diisi dengan bahasan-bahasan tentang percintaan. Membicarakan kawan yang ini, guru yang itu, produk kecantikan yang ini, dan pakaian yang itu, tempat nongkrong yang di sini atau yang di situ. Hampir tak ada kalimat fokus belajar. Dan hal ini, mungkin saja akan berlanjut seusai sekolah hingga ketika berada di rumah. Kedua poin ini menggambarkan bagaimana pola pikir si anak muda yang didalamnya berisi seputar hal-hal yang memberikan kesenangan bagi mereka. Lupa dengan kewajiban. Bahkan lalai dengan hak yang telah orang tua berikan kepadanya yakni menikmati dunia pendidikan. Perasaan mereka pun lebih cenderung melankolis, memilih menyerah bahkan lari saat menghadapi hal-hal yang membuat mereka merasa tak enak. Sedikit pengetahuan dan berpikiran sempit.

Bagaimana ?. Parah bukan ?. Begitu hebatnya dampak yang ditimbulkan dari menonton acara tv yang berkualitas rendah. Lalu bagaimana ?. Adakah cara untuk mengatasinya ?.Tentu. Pasti ada solusi. Apa sajakah itu ?.

Pertama, orang tua. Jika ingin si anak berubah maka yang harus berubah terlebih dahulu adalah orang tua. Orang tua merupakan pondasi utama bagi si anak. Contoh, suri tauladan pertama dan utama bagi si anak. Orang tua harus berlaku layaknya orang tua. Kata tua yang Mengikuti kata orang bukan sekedar bermakna jumlah usia. Namun lebih mengarah kepada sifat yang dewasa dan bijaksana. Jadi begitulah seharusnya orang tua. Ia merupakan sosok yang bijaksana, dewasa, tidak egois, tidak apatis, dan mengerti serta paham dengan anaknya sendiri.

Kedua, memberlakukan dan menjalankan aturan main menonton televisi, bergaul, beribadah, serta waktu belajar kepada si anak. Jika orang tua telah berubah, menjadi orang tua sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah melakukan pendekatan untuk memberikan pemahaman kepada si anak. Mana hal-hal positif yang harus ia lakukan, dan hal-hal negatif yang harus ia jauhi. Berontak, sudah pasti. Namun, orang tua harus tetap konsisten dengan aturan yang mereka buat.

Ketiga, didiklah mereka sesuai dengan zamannya. Ada sebuah hadits nabi yang mengatakan “didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”. Saat ini, teknologi tengah berkembang dengan pesat. Hampir semua alat yang digunakan manusia tidak luput dari sentuhan teknologi. Salah satunya adalah smartphone yang terus saja mengalami pembaharuan teknologi dalam jangka waktu yang relatif pendek. Smartphone merupakan barang favorit anak muda. Kemanapun mereka pergi selalu membawa serta smartphone-nya. Fungsi utama smartphone adalah memberikan kemudahan memperoleh informasi, menjalin relasi, menyelesaikan beberapa masalah itu ini. Lalu bagaimana dengan anak muda ?. Apakah ia menggunakan smartphone sesuai dengan fungsinya ?.Nah, di sinilah tugas orang tua yakni menjelaskan apa fungsi smartphone yang sebenarnya. Tak sampai di situ, orang tua tetap harus memantau anaknya. Minimal sering menanyakan apa yang tengah ia lakukan dengan smartphonenya. Paling tidak si anak tahu kalau orang tua memperhatikannya. Tapi akan lebih baik lagi jika orang tua juga bisa menggunakan teknologi yang digunakan oleh si anak. Inilah salah satu makna dari hadits di atas, yakni mendidik anak sesuai zamannya, menyiratkan agar orang tua juga harus tetap terus belajar.

Ke empat, bekali anak dengan ilmu agama. Zaman semakin memprihatinkan. Dimana moral sudah terbuang. Uang menjadi idaman. Rasa peduli pun sudah berada di titik empty. Oleh sebab itu, bekalilah anak dengan ilmu agama sejak dini. Agar iman dan taqwa kepada Sang Pencipta tak pernah luput di dadanya. Agar tetap peduli terhadap sesama. Agar tetap baik budi pekertinya. Dan agar menjadi anak sholih atau sholihah. Baiklah demikian ulasan mengenai anak muda di sekitar kita. Semoga bermanfaat. Amin

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share: