[Karya KBM3] Kenali Technology Gap Antara Anak dan Orang Tua

[Karya KBM3] Kenali Technology Gap Antara Anak dan Orang Tua

Posted on Updated on

 

“Nama aku Sarah, umur 13 tahun. Waktu tau aku bisa lolos masuk SMP Negeri favorit, Mama beliin aku sebuah smarthone. Walaupun bukan keluaran terbaru, tapi aku seneng soalnya lewat smartphone ini banyak hal yang bisa aku lakuin. Mama bilang ini berguna buat aku kalo nyari artikel untuk tugas. Aku seneng banget karena selain buat kerjain tugas juga smartphone ini berguna buat kepoin kakak kelas, ngegosip sama temen di whats app, up date berita artis kesayangan, sampe main games. Kadang aku bingung kenapa tiap kali diajak Mama ngobrol tuh selalu aja pas aku lagi asik-asiknya mainin smartphone. Aku jadi kebiasaan dengerin Mama ngomong tapi mata nggak lepas dari smartphone ku. Akhirnya malah diomelin Mama. Katanya aku anak ga sopan. Nah, kok aku yang disalahin sih?”

Pengakuan Sarah (bukan nama sebenarnya), seorang siswi kelas 7 sebuah SMP  di kota Bandung.

“Nama saya Kartika, umur 46 tahun. Saya seorang Ibu dari dua orang anak perempuan. Yang sulung sudah hampir lulus kuliah, sedangkan si bungsu masih kelas satu di SMP Negeri favorit di kota Bandung. Saya heran sama kelakuan anak jaman sekarang. Si Sarah tuh, si bungsu, masa Mamanya ngajak ngobrol, itu mata masiiiihhhh nempel mulu ke layar HP. Duh, kita kan bukan radio yang cuman bisa didengerin. Eh, giliran saya tegur, malah ngambek. Itu ada apa sih HP nya? Saya takut apa yang Sarah lakuin malah bukan belajar. Giliran saya omelin, malah ngacir katanya belum ngerjain PR. Masa bisa posisi seorang Ibu diganti sama benda buatan manusia? Manusianya yang bikin juga pasti punya Ibu kan ya?”

Curhat Ibu Kartika (nama disamarkan), Ibunda Sarah.

Technology Gap

Well teman-teman sekalian. Mungkin curhatan di atas udah nggak asing lagi kita deneger di kehidupan sehari-hari. Tentang seorang remaja yang anteng banget di depan layar smartphone yang dia punya sampe natap Mamanya waktu ngajak ngobrol juga enggan. Anaknya bingung kenapa Mamanya ngomel mulu, Mamanya bingung kenapa anaknya kok nggak sopan sama dia. Ini salah satu contoh kerusakan moral yang terjadi dekat dengan kita. Yuk selanjutya kita sebut ini Technology Gap antara anak dan orang tua.

Saking niatnya ikutan lomba ini, ceritanya saya dan rekan saya coba membagikan kuisioner ke 25 siswa/i SMP di kota Bandung dan 30 orang tua yang kebetulan sedang menghadiri rapat orang tua. Kuisionernya sendiri hanya berisi beberapa pertanyaan sederhana tentang mereka, orang tua, dan teknologi.

Tadaaaaaa inilah hasilnya 😀

62% siswa mengaku tidak bisa hidup tanpa koneksi internet

73% orang tua merasa kesal anaknya tidak bisa fokus pada pembicaraan mereka saat sedang bermain gadget

7 dari 8 remaja mengaku tidak terlalu memperhatikan teman/keluarga saat sibuk online.

Penyebab Technology Gap

Masih inget istilah “Usia hanyalah angka”? Ah, kata siapa ya? Buktinya usia tuh bikin perubahan banyak dalam hidup kita. Orang tua jaman dulu, waktu umurnya lima tahun mainannya ya petak umpet, panjat pohon, congklak, cublak cublak suweng, adu kelereng, dan banyak lainnya. Coba bandingin sama jaman sekarang. Anak lima tahun ngerti banget gimana caranya main Angry Birds. Cerdas sih,tapi kalo malah kecanduan games gimana?

Derasnya era globalisasi bikin teknologi dengan cepat berkembang dari tahun ke tahun. Bayangin aja, kita bisa melihat dunia, melihat keindahan dunia, tahu tradisi dan budaya setiap daerah di dunia, hanya dari benda kecil yang biasa kita sebut smartphone. Ngirit ongkos kan? Nggak usah naik pesawat, kapal, atau nabung jauh-jauh hari buat tahu itu semua. Cukup klik ini dan klik itu. Tapi itu dilihat dari sudut pandang remaja.

Sebaliknya,kalau orang tua mikirnya lain. Ini anak ngapain sih berjam jam di depan layar HP? Gimana sosialisasi sama temennya ntar? Bener-bener teknologi bisa ngerusak moral remaja jaman sekarang! Begitu kira-kira pendapat orang tua.

Intinya technology gap ini terjadi ketika orang tua nggak memahami apa yang dilakuin anaknya berjam jam di depan layar smartphone. Pun anak tidak mampu menjelaskan dengan baik seberapa bergunannya perkembangan teknologi ini bagi mereka.

Bagaimana cara mengatasi Technoloy Gap ini?

Orang tua bilang teknologi jaman sekarang bisa nyebabin kerusakan moral remaja. Menurut saya itu bisa dibilang kerusakan moral remaja ketika si remaja udah nggak bisa menghormati kedua orang tuanya. Ingat ayat berikut?

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra: 23-24).

Atau ayat berikut?

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Nah udah jelas kan betapa Allah juga perintahkan manusia untuk berbakti kepada Ibu Bapaknya? Masih nggak hormat? Naudzubillahimindzalik kalo sampe orang tuanya sakit hati terus keceplosan berdo’a yang kurang baik. Ridho Allah tergang ridho orang tua. Kalo oratuanya aja udah sebel sampe sakit hati, gimana Allah?

Tapi, yuk kita coba cari solusinya bareng-bareng. Biar anak senang orang tua pun tenan

1. Untuk remaja: Terapkan peraturan untuk diri sendiri.

Buat para remaja, tanpa internet pasti hari-hari mereka bakal sepi.Seperti hasil kuisioner diatas, 62% remaja bilang nggak bisa hidup tanpa koneksi internet. Ah, lebai banget tuh. Setiap hari mereka terbiasa up date status di facebook, twitter, posting foto di instagram, share lokasi di path, banyak banget deh pokoknya. Tapi sekarang coba dibuka lagi Al-Qurannya dibaca lagi surat Al Isra 23-24 atau Al Ahqaaf 15 plus artinya. Ayo kita mulai hormati orang tua. Bikin peraturan sendiri: pokoknya seseru apapun kegiatan kita dengan smartphone, kalo orang tua lagi ngomong, langsung letakkan gadget nya ya.

2. Untuk remaja: Dekati orang tua.

Dekati orang tua dsini, maksudnya coba sekali-kali ajarin Mama atau Papa pake smartphone kita. Ajarin aplikasi yang menyenangkan kayak resep resep masakan yang bisa diakses lewat internet, atau download waktu solat biar selalu ingat kapan waktunya solat dimanapun kita berada.

3. Untuk orang tua: Coba buka hati dan pikiran.

Buka hati dan pikiran untuk memahami karakteristik anak. Kalau memang sukanya terus terusan di depan layar, coba buat agenda liburan dengan peraturan no smartphone around. Permainan kecil kecilan saja ala keluarga seperti petak umpet sama Papa Mama, atau memasak bersama. Yang penting anak tidak nempel terus sama smartphone. Beri tahu pula dengan hati-hati jika radiasi smartphone bisa berbahaya buat tubuh kita bila terlalu sering digunakan.

4. Untuk orang tua: Mendo’akan anak

Ya, mendoakan anak adalah suatu kewajiban bagi orang tua. Doakan anak menjadi anak soleh/solejah, berbakti sama orang tua, agama, nusa dan bangsa. Serahin semuanya sama Allah. Anak kan tipan Allah, jadi sebiisa mungkin orang tua didik anak dari dini untuk mengenal agama. Nanti Insyaallah anaknya pasti ngerti sendiri moral dan etika kepada orang tua dan lingkungan sekitar.

Well done, semua masalah Insyaallah ada solusinya kok. Tetap jadi ang tua yang baik buat anak, dan anak yang selalu menyenangkan hati orang tua, ya! Jaga moral yuk untuk para remaja, taati Allah dan Rasul-Nya, dan tak lupa berbakti pada kedua orang tua. Supaya apa? Supaya akhirat senantiasa kita kejar, dan dunia pun bisa kita genggam. 🙂

 

 

 

 

 

 

Please like & share: