[Karya KBM3] Remaja vs Pemuda

[Karya KBM3] Remaja Vs Pemuda

Posted on Updated on

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya…

 

Beri aku 10 pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”

 

~Ir. Soekarno~

Kamu pernah mendengar kata-kata diatas? Mungkin sebagian besar pernah mendengar hanya saja pada bagian “Beri aku 10 pemuda, makan akan ku guncangkan dunia”, lantas bagian yang atasnya kapan kamu pernah mendengar? Mungkin hari ini saat kamu membaca artikel ini (hanya menduga, maaf jika salah…). Tapi tenang saja hari ini saya hanya akan membahas bagian bawahnya saja, tepatnya pada bagian “Beri aku 10 pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”.

Sepintas memang tidak ada yang perlu dipertanyakan dalam kalimat “Beri aku 10 pemuda, dst…”, hanya saja muncul rasa penasaran dalam benak saya. Mengapa harus “pemuda”, bukannya remaja?, bukankah itu sama saja, pemuda ya remaja, remaja juga pemuda, jawaban inilah yang selalu saya dapatkan dari teman-teman. Ya memang sama tapi tak serupa, mengapa Ir. Soekarno menggunakan padanan kata pemuda bukan remaja dalam kalimat diatas?, mengapa dinamakan Sumpah Pemuda bukannya Sumpah Remaja?, bahkan dalam kebanyakan kisah-kisah perjuangan islam sering disebutkan “pemuda” bukan “remaja”. Bukankan ini patut untuk ditelusuri?. Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu identik sekali dengan perjuangan, semangat, kerja keras, waktu untuk berkarya, bertanggung jawab, dst. Lain halnya dengan remaja yang saat ini sangat identik dengan senang-senang, foya-foya, dan buang duit. Loh kok? ini buktinya.

 

Mereka berjoget tanpa memikirkan aurat yang entah disengaja ataupun tidak mereka pertontonkan kepada khalayak ramai dan terkesan mempertunjukkan tarian erotis bahkan mereka tertawa tanpa beban, banyak yang bergumam “maklumi saja, toh masih SMA”.

Memang secara biologis “remaja” berada pada usia 12-20 tahun, sedangkan pada rentang usia 21-30 tahun disinilah para pemuda biasanya menunjukkan jati dirinya. Ingatkah teman-taman ketika perang khandaq berkecamuk, semua laki-laki berusia 15 tahun ke atas ikut berjihad. Usamah bin Zaid begitu kuat keinginannya untuk jihad dalam perang Khandaq ini padahal usianya baru menginjak 15 tahun setelah sebelumnya ia tidak diperkenankan untuk ikut dalam perang Uhud karena usianya yang masih terlalu muda. Dan kemudian pada saat perang membuka kota Makkah (Futuh Makkah), pemuda yang baru berusia 20 tahun tetapi sudah menjadi sorotan tatkala di medan perang, dialah Abdullah Ibn Umar atau Ibn Umar. Dan lihatlah Isma’il yang telah mengorbankan dirinya untuk disembelih dengan penuh kesadaran demi keimanannya kepada Allah SWT. Subhanallah diusia muda sudah mencapai titik kedewasaan yang mumpuni, telah tercermin dalam diri mereka sikap seorang pemimpin yang jujur dan amanah. Lantas mengapa remaja di Indonesia enggan untuk bermetamorfosis menjadi seorang pemuda? bahkan diusia yang telah pantas menyandang “dewasa”pun mereka masih menikmati kehidupan sebagai remaja yang gemar foya-foya. jika diibaratkan membangun rumah, remaja adalah masa untuk memilih bentuk rumah, ukuran rumah, bahan apa saja yang akan digunakan, dsb. Lain halnya dengan pemuda, pada fase ini mereka sudah membangun rumah dengan perencanaan yang telah dirancang semasa remaja.

Siapa atau apa yang harus disalahkan? Orang tua kah? Guru? ataukah Sistem Pendidikan di Indonesia. Sudahlah, letih sekali mendengar keluhan perihal ini dan itu yang disangkut pautkan dengan ketiganya, sudah habis masa untuk melakukan perubahan yang tak kunjung menjadi kenyataan mungkin akan terus menjadi wacana jika Orang tua, guru dan sistem pendidikan yang akan memperbaiki moral generasi muda. Maka pantaslah jika dikatakan para pemuda di Indonesia telah hilang setelah Indonesia tidak lagi berjuang melawan penjajah, setujukah kamu?

Lantas bagaimana baiknya? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah lama memikirkan pemecahan masalah tentang hal ini, maka untuk memberikan perhatian terhadap peran orang tua dalam mendidik anak yaitu dengan membentuk direktorat yang menangani peran orang tua dalam pendidikan sehingga para orang tua mendapatkan wadah tempat mereka bertanya mengenai penanganan anak-anak mereka. Sistem pendidikan pun akan cenderung lebih meningkatkan prestasi dan kemandirian remaja jika sistem pendidkan yang homogeny seperti pendidikan pesantren. Cobalah tanya tentang cita-cita pada remaja di sekolah formal non pesantren, pastilah kebanyakan diantara mereka akan lebih memilih untuk menjadi dokter, pilot dsb jarang diantara mereka yang ingin menjadi seorang guru karena seringnya mereka berpapasan dengan kelakuan guru yang tidak patut dicontoh. Tapi coba tanya pada remaja yang mengenyam pendidikan di pesantren, “Aku ingin jadi ustadz seperti ustadz fulan”. Inilah salah satu keberhasilan pendidikan di pesantren, sebab guru-guru yang mengajar di pesantren selain mengajar mereka juga mendidik sembari menjadi panutan bagi murid-muridnya.

 

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

 

Please like & share: