[KBM3] Gadget dan Perbaikan Moral Kawula Muda Bangsa

[KBM3] Gadget dan Perbaikan Moral Kawula Muda Bangsa

Posted on Updated on

Teknologi yang kian canggih telah menyulap dunia menjadi hanya seukuran telapak tangan saja. Jika dulu butuh waktu berbulan-bulan untuk menyampaikan sepucuk surat dari Indonesia ke Amerika, kini hanya sekian detik saja. Bahkan nyaris tak berjeda! Memanfaatkan aplikasi pesan instan seperti Blackberry Messenger dan WhatsApp, waktu bisa dipangkas berlipat-lipat. Belum lagi peran aplikasi teleconference seperti Skype yang memungkinkan pengguna bertatap muka.

Teknologi-teknologi itu semuanya terdapat dalam gadget, istilah yang akhir-akhir ini kian mem-booming akibat popularitas dan aksesibilitasnya (penulis memaksudkan gadget untuk semua piranti teknologi mutakhir, khususnya di bidang komunikasi seperti smartphone, tablet dan sejenisnya). Murahnya harga dan meningkatnya gaya hidup menjadi dua dari sekian alasan pentingnya memiliki gadget. “Di era ini, kita butuh informasi dalam waktu cepat!”, “gadget membuat kita up to date,” adalah beberapa alasan yang kita temui untuk membenarkan seseorang memiliki gadget. Maka mewabahlah fenomena demam gadget di dunia.

Hal itu juga melanda bangsa ini. Semua bak tersihir dengan kecanggihan invensi teknologi itu. Di toko-toko, para pramuniaga bermain gadget di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan. Di arisan-arisan, ibu-ibu berbicara sembari menekan-nekan tombol tabletnya. Di sekolah-sekolah, siswa-siswa tak lagi memperhatikan penjelasan guru karena sedang bermain game online di HP touchscreen-nya. Di jalan-jalan, orang-orang tak sadar berdiri di terik matahari karena sibuk dengan notifikasi di smartphone-nya. Bahkan di mesjid-mesjid, bapak-bapak mengganti zikir seusai shalat dengan melihat-lihat pesan barunya.

Sekarang mari kita fokuskan saja pembahasan ini pada kawula muda. Gadget, dengan segala keajaibannya, tidak dapat dipungkiri akan melalaikan siapa saja, termasuk remaja. Kecanggihan seperti yang telah disebutkan di awal tulisan menciptakan tagline negatif bagi teknologi, “menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh”.

Belum lagi kehadirannya kian memudahkan akses kawula muda terhadap internet. Kemudahan ini akan membuka jalan untuk akses situs pornografi dan game online, dua hal yang digandrungi anak muda.

Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka degradasi moral yang kita takutkan akan memarak. Bagaimana tidak, situs pornografi dan game online sekarang sudah bertransformasi menjadi sejenis ‘candu niskala’, candu yang tidak dapat dilihat wujudnya namun dapat dirasakan akibatnya. Kenyataan yang kita temui hari ini adalah betapa banyak anak-anak sekolah yang bolos hanya karena ingin bermain game online di warnet. Betapa banyak siswa laki-laki yang masih di bawah umur memperkosa teman perempuannya setelah melihat video porno di internet. Hal ini tentu saja tidak boleh dibiarkan terus-menerus terjadi. Perlu ada upaya perbaikan moral yang cepat dan tepat untuk menanggulangi semua ini.

Perbaikan moral tersebut selalu berasaskan bottom-up, dimulai dari bawah. Peran dan tugas orang tua menjadi yang utama dalam mengangkat moral generasi muda bangsa. Orang tua yang hanya memberikan anaknya gadget tanpa mengawasi jelas telah melakukan kesalahan besar. Orang tua yang semacam ini disebut indulgent parent atau permissive parent. Mereka cenderung menuruti semua kemauan anak tanpa memberikan tuntunan. Anak yang dididik oleh orang tua tipe ini kelak akan impulsive, tidak patuh, menentang jika diminta sesuatu yang bertentangan dengan keinginan sesaatnya, kurang tenggang rasa, dan kurang toleran dalam bersosialisasi. Karena itu, langkah pertama dalam perbaikan moral anak dalam penggunaan gadget adalah dengan melakukan pengawasan terhadap penggunaan gadget oleh anak.

Keterangan video: Seorang ayah memukul anaknya karena bermain game online terlalu lama.

Selanjutnya, guru juga diharapkan mampu menyulap gadget menjadi sarana yang mampu memperbaiki moral remaja, bukan malah menjerumuskannya ke dalam kubang dosa. Seorang guru yang peduli terhadap pembinaan moral akan mencari segala cara untuk memperbaiki kualitas moral anak didiknya. Cara yang ditempuh bisa beragam, misalnya saja memberikan tugas untuk me-review sebuah aplikasi di Playstore, menyuruh siswanya untuk mengunduh aplikasi evaluasi ibadah harian dan mengisinya dengan catatan akan ada reward di masa evaluasi, dan sebagainya. Selain itu, gadget juga bisa digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar. Penggunaan gadget yang intens ini—dengan tidak menafikan fasilitas belajar lainnya—akan memperkecil kesempatan siswa untuk melakukan hal-hal yang tidak baik selama di sekolah.

Terakhir, pemerintah, khususnya Kementerian Informasi dan Komunikasi, memang sangat diharapkan untuk meningkatkan kerja kerasnya. Sejauh ini, apa yang sudah dilakukan oleh pemerintahan SBY sudah cukup baik. Pemerintahan era Jokowi hanya tinggal melanjutkan dan melengkapi kekurangan di sana-sininya. Situs-situs pornografi harus terus dilacak dan ditutup aksesnya. Jika perlu, akses untuk game online ‘dipersulit’ untuk menghindari kecanduan anak-anak bangsa terhadap hal-hal yang melalaikan waktu belajar mereka.

Harapannya, semoga kita semua bahu-membahu dalam memperbaiki kualitas moral bangsa yang masih bobrok ini. Jika tidak dimulai dari sekarang, kita tidak yakin apakah besok masih ada waktu.

 

 

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share: