Kita Yang Berantas Mereka Atau Mereka Yang Akan Binasakan Kita!

[Karya KBM3] Kita Yang Berantas Mereka, Atau Mereka yang Akan Binasakan Kita!

Posted on Updated on

Assalamu’alaikum sahabat, tidak terasa kita telah berada pada awal tahun 2015 ini. Dan tak terasa pula, kita telah melewati tahun demi tahun dengan banyak hal. Di sepanjang tahun 2014 kemarin, hal yang pasti kita alami adalah hal yang baik dan hal buruk. Jika kita mendapat kebaikan, maka kita akan bersenang. Tapi jika mendapat keburukan, maka kita akan bersedih dan terkadang merana.

Datangnya kebaikan atau keburukan kepada kita, tidak melulu soal takdir. Terkadang, apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita lakukan. Ya, apa yang kita panen, adalah hasil dari apa yang kita tanam. Dan pastinya, ketika kita menanam kebaikan, maka buah kebaikanlah yang akan kita petik. Namun celakanya, jika bibit keburukan yang kita tanam, maka buah keburukan pula yang akan kita rasakan.

Salah atau benar pada kita adalah hal yang manusiawi. Contohnya termasuk salah dalam menanam keburukan tadi. Namun akhir-akhir ini, kita tidak menyadari bahwa porsi kesalahan yang kita lakukan adalah lebih besar dibanding kebaikan yang kita kerjakan. Dan terkadang kita pun tidak menyadari jika kita sedang melakukan kesalahan-kesalahan besar.

Salah satu kesalahan besar kita sebagai manusia yang bermoral adalah, bersikap acuh tak acuh terhadap kerusakan moral-moral generasi penerus kita sendiri. Dan bahkan kita bersikap acuh pula terhadap “mereka” yang menjadi penyebab rusaknya moral bangsa tersebut.

Mereka berkeliaran di sekitar kita, kita malah cuek-cuek bebek. Mereka meracuni anak-anak, saudara dan keluarga kita, kita juga masih saja tak peduli. Ketika mereka telah membunuh orang-orang kita, barulah kita mulai menyesal. Tapi, tetap saja dengan penyesalan yang sesaat. Sesaat di sini dalam artian hanya menyesal saat itu juga, dan hanya mengecam “mereka” saat itu juga. Tapi setelah itu, kita menjadi bebek kembali.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka kita juga akan mereka jadikan sebagai target berikutnya. Bukan hanya saya ataupun Anda, tapi semuanya termasuk saudara dan keluarga kita tercinta. Dan akibatnya dapat dipastikan “mereka” akan membinasakan kita!. Itu bisa saja terjadi jika kita tidak segera bertindak.

Pertanyaan besar yang pertama adalah siapakah mereka?

Tak lain dan tak bukan mereka adalah minuman keras dan keluarganya yang sama-sama haram. Merekalah yang telah membunuh karakter bangsa dan merubahnya dengan karakter jahiliah kembali, yang identik dengan khamr. Naudzu billah..

Telah banyak kerugian yang ditimbulkan akibat minuman-minuman haram tersebut. Dan kerugian terbesarnya adalah runtuhnya moral serta ahlak anak-anak ibu pertiwi, yang mereka semua adalah keluarga besar kita sendiri.

Selepas penjajahan yang dilakukan belanda, aset terbesar yang dimiliki bangsa ini adalah ahlak baik dari penghuninya. Dengan ahlak yang baik, menjadikan bangsa ini bisa bersatu dari ujung papua sampai ujung sumatra. Dengan demikian, persatuan itu merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir para penjajah dari tanah ini.

Namun sayang sungguh sayang, senjata persatuan tersebut mulai dirusak oleh berbagai minuman yang haram. Bagaimana tidak, dekadensi moral akibat miras telah membuat banyak benih-benih perpecahan di sana-sini. Contohnya: tawuran antar pelajar, antar kampung, antar suku, agama atau kelompok-kelompok tertentu. Yang pasti benih-benih perpecahan tersebut akan tumbuh besar jika tidak segera dibasmi.

Berita perkelahian, pembunuhan, serta perlakuan kriminal lainnya, seolah menjadi santapan kita di pagi, siang, sore dan malam hari. Itu semua akibat apa? Ya akibat ulah buruk dari miras yang telah mencuci otak peminumnya hingga seperti binatang.

Minuman keras tidak bisa dipandang sepele lagi. Sebab minuman setan itu telah memberikan kerugian besar terhadap bangsa ini. Bahkan belakangan banyak nyawa melayang akibat miras oplosan. Astaghfiruwlah..

Masih diperjual belikannya miras, tentu akan membuat semakin banyak lagi yang akan menjadi pecandunya. Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa miras telah menjadi minuman faforit bagi banyak kalangan dan profesi. Dari orang kaya sampai orang miskin, muda atau tua, bahkan wanita pun kini banyak yang menenggak miras. PNS, aparat keamanan, kepala desa, pelajar dan para pejabatnya pun banyak yang menjadi budak dari minuman haram ini. Dengan demikian, akibat yang ditimbulkan pastilah semakin besar lagi.

Kini, kita telah dikelilingi oleh miras, dan orang-orang yang suka terhadap miras-miras itu. Dan bisa jadi, miras telah masuk kedalam lingkungan keluarga kita.

Saya tidak ingin mengambil contoh dari siapa-siapa. Saya hanya ingin memberitahukan kepada Anda, bahwa adik pertama saya telah menjadi korban dari buruknya miras. Sebenarnya sangat malu saya menceritakannya di sini. Tapi untuk meyakinkan kepada Anda bahwa dampak dari miras sangatlah buruk, maka saya rela membuka aib ini.

Sedikit saya ceritakan bahwa dulu adik saya itu sama seperti adik-adik saya yang lainnya. Bisa dibilang ia adalah anak yang baik, paling tidak untuk orang seisi rumah ini. Tapi semuanya berubah ketika ia telah mengenal yang namanya miras. Perubahan yang terjadi sangatlah drastis hingga ia berubah total menjadi anak yang “jahat”. Saya berani mengatakan ia “jahat”, karena ia telah berani membangkang kepada kedua orang tua saya.

Apapun yang orang tua saya katakan, ia tidak peduli. Ia menjadi acuh tak acuh semau-maunya sendiri. Tidak punya tata krama lagi, dan tidak pernah bersikap sopan santun kepada semua orang di rumah ini. Bicaranya menjadi kasar kepada siapa pun. Mudah tersinggung, dan sering sekali marah jika ada sedikit saja yang menyinggungnya. Semua harus sangat berhati-hati ketika akan bicara dengannya. Tapi, dia sendiri tidak mau berfikir terlebih dahulu jika ia akan bicara.

Ketika ia marah, kata-kata kotor adalah hal yang biasa ia ucapkan kepada kami, termasuk kepada orang tua saya. Bahkan lebih parahnya lagi, ia pernah akan menebas bapak saya dengan parang, dan pernah pula akan membanting meja ke muka ibu saya. Ia sering cekcok dan berselisih kepada banyak orang. Tidak kakak-kakaknya, adik-adiknya, orang tuanya, sepupunya, malahan kakeknya yang sudah tua pun ia pernah musuhi. Apa lagi orang lain, sering sekali ia terlibat perkelahian.

Adik saya itu ketika mabuk, pasti marah-marah saat pulang. Semua orang menjadi cemas dan hawatir dengan kelakuannya. Apa lagi ibu saya yang menderita jantung lemah, sering sekali sakit setelah adik saya mengamuk. Sekarang adik saya itu ibarat beban berat bagi keluarga, dan bagi kedua orang tua saya. Tidak mau bekerja, apa lagi ibadah. Padahal dulunya ia sering ke masjid dan ke surau. Tapi kini hanya keluyuran kerjanya.

Sering minta uang kepada orang tua, tapi tidak mau sedikit pun membantu orang tua untuk bekerja. Di rumah hanya tidur, bangun siang langsung makan, setelah itu keluyuran lagi siang dan malam. Semua orang di rumah ini merasa tidak nyaman lagi tinggal jika masih bersama dia. Tapi apalah daya, bagaimana pun dia juga bagian dari keluarga ini.

Segala upaya telah kami lakukan untuk menjadikannya orang baik kembali. Termasuk menasehati, membujuk, dan mengajaknya ke tempat-tempat kebaikan seperti ke Masjid dan Surau. Tapi, itu semua seolah tidak ada gunanya.

Nasehat orang tua, bagaikan api yang masuk di telinganya, yang iapun harus mengeluarkan lagi api itu melalui mulutnya. Demi Allah ibu saya sangat sedih, sangat susah atas sikap adik saya itu. Ibu saya sampai sering menangis dibuatnya. Dan sampai sekarang ia tetap belum berubah. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berahir.

Sebenarnya saya sangat sedih. Tapi orang tua saya jauh lebih sedih dan menderita. Di usia yang sudah tua, selain harus memberi makan kepada 5 orang anak, mereka juga harus menanggung rasa sakit yang sering terjadi akibat ulah adik saya itu.

Belum lagi rasa malu, yang tidak tau lagi harus disimpan di mana. Yang jelas, miras sangat merugikan. Tidak hanya bagi peminumnya, tapi juga bagi orang-orang yang tidak pernah menyentuhnya.

Sahabat, adik saya hanyalah sedikit cerita dari kerusakan moral yang ditimbulkan oleh miras. Di luar sana, pastilah banyak kisah-kisah nyata lainnya yang lebih buruk lagi.

Dalam kasus ini, saya juga tidak mau menyalahkan sepenuhnya kepada adik saya, mengapa ia sampai meminum miras. Karena jika saya logikakan selain dari bujukan teman, ya karena miras itu masih ada. Coba kalau tidak ada, apa mungkin ia masih meminumnya?

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa untuk mengatasi masalah miras, ya kita harus berantas dari akar-akarnya. Akarnya di mana? Pabrik-pabrik, produsen, serta pengimpor miras; Itulah akarnya. Jika mereka tidak ada, maka tidak akan ada juga yang menjual miras. Otomatis tidak ada pula yang akan mengkonsumsinya bukan?

Tapi jangan salah paham dulu. Pabrik dan produsen yang saya maksud ini bukan pabrik alkohol lo ya, karena pabrik alkohol itu untuk keperluan medis. Sedangkan yang saya maksud adalah, pabrik miras yang telah mencampur alkohol dan bahan-bahan lainnya untuk dijadikan minuman yang memabukkan.

Nah, kemudian bagaimana cara memberantas pabriknya? Inilah caranya…

1. Persatuan dari Masyarakat

Untuk memberantas pabrik miras, memang bukanlah hal mudah. Kita juga tidak bisa seenaknya begitu saja melakukannya sendiri. Ini negara hukum, jadi main hakim sendiri adalah hal yang melanggar hukum. Dan tentu, jika melanggar kita bisa duduk berkeringat di meja hijau setelah itu.

Oleh karenanya hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah bersatu. Ya, bersatu untuk menyuarakan “TIDAK UNTUK MIRAS“. Bersatu untuk menyuarakan TUTUP PABRIK-PABRIK MIRAS, dan adili para produsen, distributor serta penjual yang masih melanggar.

Suara tersebut bisa kita wujudkan melalui tulisan di internet, seperti yang saya lakukan kali ini. Kita bisa meramaikan jagat internet dengan tulisan-tulisan tentang bahaya miras, dan juga ajakan untuk sama-sama menolak beredarnya miras di Negara ini.

Kita bisa menyebarkan tulisan-tulisan itu di forum-forum, dan juga ke berbagai media sosial agar banyak yang membacanya, dan agar semakin banyak yang sadar bahwa miras adalah minuman yang merugikan. Selain itu diharapkan juga agar pemerintah terbuka pikirannya, bahwa mayoritas rakyat tidak menginginkan miras lagi.

Bukan hanya di internet saja, tapi kita bisa melakukan demo damai di jalan-jalan untuk menentang berdirinya pabrik miras. Baik pabrik kecil atau pun yang besar, semuanya harus dihapus sampai ke sudut negeri ini. Untuk mewujudkan itu, sekali lagi dibutuhkan persatuan yang kuat dari rakyat kita.

2. Desak pemerintah untuk membuat undang-undang anti miras yang jelas

Selama ini, masih diproduksi dan diedarkannya minuman beralkohol adalah akibat dari ketidakjelasan hukum yang mengatur tentang miras tersebut. Hukum-hukum yang dibuat tidak tegas sehingga produsen dan penjual masih saja beraksi.

Lihatlah “Keppres No 3 tahun 1997” tentang miras. Pada Bab III tentang produksi peredaran dan penjualan, Bag 1 menyebutkan, “Produksi minuman beralkohol di dalam negeri hanya dapat diselenggarakan berdasarkan izin menteri perindustrian dan perdagangan…dst”

Wah, berarti bagi yang mengantongi izin, bisa memproduksi miras ya? Dan dengan izin itu, berarti malah akan mempertahankan pabrik miras kan? (sambil garuk-garuk kepala)

Pada pasal 4 bagian 1 “Dilarang mengedarkan dan atau menjual minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 2 di tempat umum, kecuali di hotel, bar, restoran dan di tempat tertentu lainnya yang ditetapkan oleh gubernur kepala daerah tingkat I setelah mendengar pertimbangan bupati/wali kota madya kepala daerah tingkat II”.

“Horee.. berarti kalau saya ingin minum, ya langsung aja ke tempat yang telah disebutin pak presiden. Dijamin aman kok.. ๐Ÿ˜‰ (kata pecandu yang kegirangan)

Sahabat, lihatlah sepenggal keputusan-keputusan lucu yang dibuat tersebut. Makanya jangan bertanya-tanya lagi, mengapa sampai sekarang miras masih ada. Bahkan “Perpres No 74 tahun 2013” pun tidak banyak mengalami perubahan.

Kalau produsen oplosan kecil-kecilan digrebek habis-habisan, mengapa produsen minuman alkohol besar tidak? Apakah cuman masalah izin?

Padahal, efek buruknya pun kurang lebih sama. Lha wong sama-sama dari alkohol, ya jelas sama-sama memabukkan. Ingat, berapa pun kandungan alkoholnya, tetap saja kalau haram walau setetes tetap haram!!!

Oleh karena itu agar miras dapat diberantas, kita harus meminta kepada pemerintah untuk memberantasnya. Dan untuk itu, kita harus mendesak pemerintah agar bertindak tegas terhadap permasalahan miras, dengan membuat undang-undang yang tegas pula.

Tentu, untuk mewujudkan semua itu kita harus menanamkan poin pertama, yaitu persatuan dari masyarakat. Saya yakin, jika mayoritas rakyat menolak miras, maka pemerintah akan mengabulkan keinginan kita.

Sahabat, saya ingatkan lagi bahwa sampai saat ini telah banyak nyawa melayang akibat miras. Sudah terbukti bahwa miras telah mencicil rakyat ini satu demi satu, hingga banyak menimbulkan kehancuran.

Jika seperti ini terus, apakah negara ini bisa menjadi maju kalau generasi muda yang menjadi ujung tombak di masa depan telah dibuat tumpul? Sepertinya masih sangat jauh impian dan harapan kita.

Bahkan, jika perpecahan dan kerusuhan akibat miras masih terus terjadi, maka dihawatirkan Indonesia Raya, bisa saja lenyap dari peta dunia ini. Dan setelah itu, nasib kita semua pasti akan menjadi terpuruk.

Sahabat, jawablah dengan tegas pertanyaan terakhir ini. Apakah kita yang akan memberantas miras, atau menunggu miras yang akan membinasakan kita? Pilihlah jawabannya, dan berikan jawaban tegas Anda melalui komentar. Wassalam…

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Referensi :

1. KEPPRES NOMOR 3 TAHUN 1997
TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MINUMAN BERALKOHOL : http://hukum.unsrat.ac.id/pres/keppres_3_1997.htm

2. Miras sampah Masyarakat : http://helmijuni.blogspot.com/2013/05/miras-sampah-masyarakat.html

Please like & share: