kontes blog muslim

[Karya KBM5] Cara Gus Dur Memenangkan Demokrasi Papua

Posted on

Tidak banyak yang merekam jejak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Papua ketika ia menjabat sebagai presiden RI ke-4. Meski berkuasa sebentar, karakter humanis dan pluralisnya bisa dirasakan oleh masyarakat di sana hingga sekarang.

Adalah Pilep Jacob Semuel Karma (57), tokoh sipil Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang bersaksi atas perubahan yang dibawa Gus Dur ketika menjabat presiden. Walau hanya bertemu sekali dengan Gus Dur, sebagai tokoh politik di OPM, ia bisa membaca dan merekam arah kebijakan Gus Dur yang pro demokrasi.

Lelaki kelahiran 15 Agustus 1959 di Kabupaten Biak ini sangat berterima kasih kepada Gus Dur karena semasa jadi presiden, ia mendapatkan abolisi (penghapusan seluruh akibat penjatuhan putusan pengadilan pidana). Karma adalah salah satu nama yang mendapatkan kebebasan waktu Gus Dur presiden.

Masa penahanan Karma akibat makar sebetulnya sudah habis kala itu, namun ia masih harus menunggu keputusan dari Mahkamah Agung (MA). Ia akan masuk kembali masuk penjara jika MA sudah mengeluarkan keputusan tambahan hukuman kepadanya. “Tapi, belum turun keputusan, Gus Dur memberikan abolisi, saya dibebaskan demi hukum dan berstatus tahanan kota,” ujarnya di Jogjakarta, Senin (22/08/2016) malam.

Pada tahun 2005, Karma juga kena hukuman lagi setelah memobilisasi massa mengibarkan bendera Kejora pada 1 Desember 2014 di Lapangan Trikora, Abepura, Jayapura, dalam rangka peringatan HUT ke-43 OPM. Dituduh makar yang ke sekian, ia divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jayapura (26/05/2005).

Di masa Gus Dur jadi presiden, apa yang dilakukan oleh Karma pada tahun 2005 itu tidak akan berbuntut panjang. Pasalnya, Gus Dur memberikan ruang bebas kepada masyarakat Papua untuk mengibarkan bendera Bintang Kejora asal dipenuhi dua syarat, yakni tidak lebih besar dan tidak lebih tinggi dari bendera Merah Putih Indonesia.

Ketika itulah Karma yang merupakan PNS di Kantor Gubernur Papua itu, bebas memasang  dua bendera (Merah Putih dan Bintang Kejora) di mobil kantornya, lengkap berpakaian dinas sipil pegawai negeri serta tidak kuatir dituduh makar.

Lebih dari itu, teriak “Papua Merdeka!” pun di zaman Gus Dur mendapatkan kebebasan, “itu kita lakukan dan memang tidak ada masalah,” tutur Karma memuji kepemimpinan Gus Dur yang tidak hanya berjanji saja. Bukti yang ditunjukkan Karma adalah tidak adanya tentara atau polisi yang melarang teriakan makar itu. Ini yang tidak ditemukan di masa kepemimpinan presiden lainnya.

“Waktu itu tahanan politik OPM dan GAM dibebaskan semua. Jadi tidak ada tahanan politik,” tambah Karma melanjutkan perbincangan. Tahanan politik dibebasakan karena mereka hanya dianggap berbeda pendapat. Gus Dur tidak mempermasalahkan hal itu.

Tapi Karma juga kuatir, orang seperti Gus Dur itu secara politik akan membuat warga Papua terlalu senang. “Gila kan ini orang, kalau begini terus, saya kan tidak dapat pendukung dong di Papua,” imbuhnya.

Selain membebaskan pengibaran bendera Bintang Kejora dan tahanan politik, Gus Dur juga mengembalikan sebutan pulau dari Irian ke Papua. Dulu, terang Karma, tidak ada yang berani menyebut dirinya “aku orang Papua”. Begitu pengakuan tersebut didengar oleh aparat, bukan tidak mungkin akan terjadi represi.

Mereka yang teriakannya bernada makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), akan mendapatkan kesempatan dianiaya, dibilang antek-antek Belanda, bahkan bisa lebih fatal dari itu. “Untuk menyebut diri ‘kami orang Papua’ saja dulu kami langsung disebut separatis,” tandas Karma. Kini, putra Papua bangga menyebut dirinya sebagai orang Papua. Sekali lagi, berkat Gus Dur.

Fajar Gus Dur

Gus Dur jarang ke Papua waktu jadi presiden. Kesibukan Gus Dur mengurus keutuhan NKRI karena terjadinya konflik SARA dimana-mana, di tengah Indonesia mendapatkan tekanan luar negeri, membuatnya tidak sempat fokus mengurus Papua. Seingat Karma, tahun 2000-an Gus Dur pernah ke Papua hanya untuk melihat fajar di sana.

Namun diakui olehnya juga, karakter Gus Dur yang humanis dan pluralis tidak bisa dilupakan. Di mata orang Papua, Gus Dur dianggap sosok yang secara laku betul-betul menghargai perbedaan pendapat, sehingga represi politik di Papua pada zaman Gus Dur turun drastis. Apa yang diminta oleh masyarakat Papua diwujudkan oleh Gus Dur. Masyarakat pun merasakan hidup dalam alam demokrasi dan kebebasan berpendapat yang terjamin haknya.

Bagi sebagian pengamat, laku politik Gus Dur dianggap sembrono karena terkesan memberi angin kemerdekaan kepada Papua, sementara sebagai presiden, dia punya kewajiban menjaga keutuhan NKRI. Anggapan itu dianggap salah oleh Karma. Gus Dur baginya adalah pemimpin yang menghargai hak setiap warga di dunia, dan tidak pernah berkhianat sebagai presiden RI.

Ketika Karma menanyakan ke Gus Dur tentang tindakan apa yang diambil jika seorang aktivis Papua semacam Theys Hiyo Eluay memproklamasikan Papua Merdeka, “ingat loh, paling jauh akan saya suruh tangkap dia,” jawab Gus Dur ketika menjadi pembicara di acara Seminar Memperingati 1 Tahun Kematian Theys di Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur pada tahun 2002.

Theys Hiyo Eluay adalah Mantan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) yang didirikan Gus Dur saat menjabat sebagai presiden RI ke-4. Pada tahun 1999, Theys pernah mencetuskan Dekrit Papua Merdeka dan mengibarkan Bendera Bintang Kejora. Namun ia kemudian tewas terbunuh di dalam mobilnya setelah diculik pada 10 November 2001.

Jawaban Gus Dur yang membatasi instruksi pada kalimat “tangkap!” dan tidak menyuruh lanjut memerintahkan untuk membunuh, punya pengertian politis.

Menurut Karma, ujaran Gus Dur “tangkap!” ditafsir begini: jika Gus Dur meminta menangkap, maka akan ada blow up media internasional. Tekanan politik dunia pun datang. Jika terjadi tawar menawar politik di Papua karena penangkapan itu disorot media asing, lalu masyarakat menuntut merdeka, posisi Gus Dur sebagai presiden tidak bisa disalahkan karena secara hukum dia tidak mendukung gerakan OPM.

Di sinilah Karma menghormati cara politik demokrasi Gus Dur. Sebagai presiden, Gus Dur sadar sejarah dan taat konstitusi. “Saya seorang humanis dan seorang pluralis, jadi saya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan,” hanya itu yang pernah diucapkan Gus Dur kepada Karma. Itu juga yang membuat Gus Dur tidak mau melakukan pelanggaran kemanusiaan lakinya perintah membunuh dan menindas rakyatnya.

Hakikatnya, Gus Dur hanya ingin mengembalikan supremasi sipil ketika dia berkuasa. Dalam pemahaman itu, militer harus tunduk di bawah sipil dengan panglima tertinggi yang disebut presiden. Karena itulah, Gus Dur adalah panglima demokrasi yang sangat dihormati oleh semua warga Papua hingga kini. “Gus dur ada di setiap hati orang Papua,” ucap Karma.

Kisah seorang sahabat bernama Abdul Wahab yang berdakwah di Papua bisa dijadikan bukti bahwa jejak Gus Dur tetap ada di hati warga Papua. Kepada penulis, Kang Wahab dimudahkan bergaul dengan suku-suku di sana ketika dia mengaku sebagai warga NU santri Gus Dur.

Orang-orang Gus Dur di sana dianggap sebagai manusia bijak yang tidak akan membuat kerusakan sistem dan tatanan sosial. Karena yakin akan membawa kebaikan, Kang Wahab diberikan fasilitas gratis oleh owner sebuah hotel berbintang untuk menunjang safari dakwahnya selama di Papua. Padahal dia bukan muslim.

Kepada siapa dia harus berterima kasih, saya tidak menjawab Kang Wahab. Yang pasti, cara Gus Dur memenangkan hati orang Papua agar mereka mencintai dan menghormati hak setiap warga, bukan hanya wacana, tapi sungguh itu nyata. Gus Dur itu tokoh Indonesia cermin mercusuar dunia. Alfatihah!

www.muslimedianews.com
www.arrahmah.co.id
www.moslemforall.com

Please like & share:

[kbm5] PENGUATAN PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK

Posted on

Oleh : Fardan Abdul Basith

The YouTube ID of Insert video URL or ID here is invalid.

Dalam pelaksanaan hidup berkeluarga, terkadang banyak yang tak menyadari apa yang menjadi tugas dan fungsinya atau tujuan ia hidup berekeluarga, maka dari itu peran dan fungsi keluargapun menjadi bagian terpenting bagi manusia yang hidup dalam jalinan keluarga, terutama tatkala banyak penomena dijaman sekarang para remaja memilih untuk menikah dini sehingga tak mampu dipungkiri dalalm berkeluargapun masih terkesan premature, karena akibat kurangnya pengalaman yang ia dapatkan dalam perjalanan menuju pernikahan maka dari itu khidupan paska pernikahanpun tak mampu memahami alaur dan bentuk penyelesaian yang harus diambil. Sering orang menyebutpun usia muda mengarahkan pada perceraian yang sangat relative cepat dan akhirnya sebutan janda muda pun kian hari menjadi sebuah kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, duda muda pun seolah tak menampakan jatidirinya sebagai dipihak sipencerai dan hak asuh anakpun menjadi rebuan tatkala menjadi keinginan sepihak yang tak ada jalan penyelesaiannya.
Anak dalam keluarga menjadi aspek penting pendorong dalam membangun jalinan keluarga yang harmonis alias samawa. Namun kita dapat mengambil pelajaran dalam setiap kejadian yang terjadi di-alam ini, namun bagaimana kemudian apa yang selalu berbenturan dengan fikiran kita tersebut mampu kita jadikan pelajaran untuk kehidupan panjang kita, dalam artian supaya menjadi contoh, seperti yang terdapat disekeliling kita yang terlihat dan Nampak dari kehidupan social tetangga kita, keluarga sbelah, ataupun yang kita lihat dari tayangan televisi sekalipun, lalu bagaimana agar kita dapat mengetahui dan mennyadari peran-peran keluarga dalam mendidik anak atau sanak famlinya, kita ambil contoh dalam proses sinetron yang selalu kita tonton dalam tayangan televisi, itu merupakan gambaran dari sebuah rekaman kehidupan berkeluarga. Dalam megasuh anak kadang disinetron kebanyakan menjadi naif para orang tuanya tersebut tatkala lebih memilih kariernya daripada mendidik anak-anaknya, akibatnya anak tersebut meniadakan jasa orang tuanya tatkala sudah dewasa. Yaa memang lagi-lagi kita bingung sendiri dalam mendidik anak yang dihasilkan dari embrio keluarga sendiri, disisilain kita harus hidup dengan propesionalme, dan disisi lain kita pun harus menghidupi para anak-anak kita, mari kita cek apa saja yang harus kita perhatikan dalam proses mendidik anak-anak kita, yang sangat jarang sekali disadari oleh kebanyakan keluarga.
Pendidikan bisa dikatakan penting karena mengandung banyak efek terhadap keberlangsungan hidup manusia didunia, lantas apa kemudian hal penting dalam pendidikan tersebut, almarhum Paulo Fraire yaitu salah satu tokoh filusuf pendidikan mengatakan bahwa yang terpenting dari pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara manusiawi, yang disebutkan dalam bukunya yang berjudul Idiologi-Idiologi Pendidikan, maka jelaslah apabila ditanyakan siapa yang paling berperan dalam pendidikan dalam keluarga yaitu orang tualah yang bertanggung jabawab atas semuanya, karena orang tua akan terus mendorong proses memanusiakan sang anak dengan cara manusiawi dan dengan berbagai hal apapun demi kebaikan untuk para anak-anaknya.
Thomas Gordon dalam bukunya Responsible Parent (1976) memaparkan bahwa orangtualah guru utama anak. Prosesnya sejak anak dipangkuan orang tua, patut disadari oleh seluruh kalangan orang tua yang berkeluarga bahwa perbedaan antara mendidik dengan mengajar sangatlah berbeda sekali, ketia kita paham apa yang semestinya ajarkan pada anak tidak akan serta merta menjadi kesenangan anak, Karena antara peran orang tua dengan guru disekolah tatkala memberikan pengajaran pada anak lebih cendrung meneladani yang diajarkan disekolah dominasi itu tercermin dari pemahaman penulis mengenai makna dari mengajar yang lebih pada perkembangan pengetahuan dan mendidik yang mengarahkan ada perkembangan moral atau sikap sianak didik tersebut. Maka setelah itu apa yang menjadi kebutuhan keluarga akan senantiasa terpenuhi untuk mendidik anaknya karena secara maksimal dan menyeluruh keluarga tersebut setidaknya sudah memberikan penguatan terhadap anak didiknya. Sebetulnya dalam konsep krucut pendidikan para analist pendidikan mengungkapkan bahwa system pengajaran dalam pendidikan itu ada dua unsur yaitu, yang pertama adalah pedagogic learning merupakan system pengajaran untuk anak-anak yang usianya masih dibangku sekolah bila diperkirakan dari usia 6 sampai 15 tahun atau dari SD sampai SMA atau sederajat, dan pengajaran ini guru atau si pengajarlah yang dituntut untuk memberikan 70% pendidikannya kepada murid dan 30% muridlah yang harus secara sadar mencari pengetahuan sendiri. dan yang ke-dua adalah andragogig, system pengajaran ini klebih digunakan pada kalangan pelajar dewasa, seperti halnya para mahasiswa yang melnjutkan diperguruan tinggi, dan secara fase usia dewasapun bisa dilihat dari perkembangan usianya yaitu rata-rata dar usia 15-25 tahun. Maka dalam rangka turut membantu pendidikan anak orangtua memiliki waktu yang sangaat leluasa untuk memberikan pendidikan dikeluarga secara prosentasi 80% peran orang tua sangat berfungsi pada perkembangan moral anak. Dan 20% sisanya digunakan pada pengembangan pengetahuan disekolah.
Untuk membangun mental kritis anak dari sejak dini sesuai dengan perkembangannya para orang tua dapat menggunakan metode Stimulus, Respon atau (possibility, suppose, hypothesis ) disini anak tidak dibiasakan untuk menilai sesuatu yang sudah lazim, jadi bukan melihat baik atau buruk, benar atau salah, ya atau tidak dan penilaian hitam putih lainnya. Namun anak dipancing untuk menerima konsep “kemustahilan” atau penyanggahan semenatara agar si anak tersebut cerdas dan terdorong untuk mengetahui banyak hal dari sedikitnya pengetahuan, sehingga anak dengan tersendirinya mengeluarkan ide dan gagasan kreatifnya.
Bagi orang tua tak ada salahnya untuk menggugah dan menggali potensi kreatifitas anak, semisal dengan motede sederhana pemberian konten visual, Contohnya seperti anak seusia TK misalnya diberikan gambar dan teks dari Koran atau media lain dan orang tua itu mengarahkan pada anak agar mengkombinasikan antara gambar dan teks, mereka bisa diintruksikan untuk menempekan teks yang sesuai dengan gambar dibawanya, yang sudah dibuat atau dipersiapkan oleh orang tua, maka dengan tersendirinya anak tersebut akan mencoba menggali kreatifitasnya, dan kombinasi gambar tersebut bisa bersipat serius, lucu dan beberapa foto dari cerita. Perlu diketahui hal tersebut akan mengasah daya cipta, serta memperluas presepsi serta kemampuannya dalam menemukan sebuah alternatif, karena boleh jadi teknik menyetir otak seperti ini bisa diterapkan pada usia berapapun disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak, namun dengan pendekatan yang sangat “bijaksana” serta para orangtua-pun memposisikan diri sebagai mitra atau sahabat, bukan lagi seperti guru atau yang memberi perintah pada anak-anaknya yang banyak mendikte.

Profil penulis:
_
Nama : Fardan Abdul Basith
Pendidikan terakhir : Mahasiswa S1
Fakultas : Keguruan
Jurusan : Bahasa/Prodi Pendidikan Bahasa Arab
Kampus : Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Alamat : Jl. Raya Sukabumi Km.05 No.63 Ds.Sirnagalih Kec.Cilaku Kab.Cianjur
Hobi : Membaca dan berorganisasi
No Handphon : 089664694909/pin:

Pengalaman aBerorganisasi:
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) WK. III bidang Keagamaan Komisariat UIN Bandung
ITHLA (Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab Se-indonesia) WK. Sekretaris III Bidang PAO
ORDA HIMAT (Organisasi Daerah “Himpunan Mahasiswa Tjiandjur) Ketua Umum Priode 2015-2016
KMM Komunitas Mahasiswa Menulis
Motto: Hold out baits to entice the enemy. Feign disorder, and crush him.

www.muslimmedianews.com

www.arrahmah.co.id,

www.moslemforall.com

Please like & share:

[Karya KBM5] Gus Dur, Sang Penakluk

Posted on Updated on

“Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal yang baik, harus dapat mengeluarkan yang terbaik dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain” – Kent Blanchard

Tak terasa telah 7 tahun berlalu semenjak kepulangan Gus Dur menghadap Sang Khalik pada Desember 2009 silam. Tapi selayaknya mercusuar, Gus Dur ibarat bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya yang selalu membantu navigasi para pengikutnya. Bahkan Gusdurian – yaitu sebutan untuk para murid, pengagum dan penerus pemikiran serta perjuangan Gus Dur – menyebutkan bahwa Gus Dur memiliki 9 nilai utama yaitu: Ketauhidan; Kemanusiaan; Keadilan; Kesetaraan; Pembebasan; Kesederhanaan; Persaudaraan; Keksatriaan; dan Kearifan lokal.

Berfokus pada nilai kemanusiaan, keadilan dan pembebasan yang dianutnya maka hal berikut menjadi bukti mengapa Gus Dur layak memiliki kandungan nilai tersebut. Hal ini berangkat dari ragam penghargaan yang diperolehnya diantaranya ketika Gus Dur dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa di Semarang pada tahun 2004 silam. Di bidang kemanusiaan, Gus Dur juga memperoleh penghargaan dari Simon Wiesenthal Center yaitu sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Gus Dur memperoleh penghargaan tersebut karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Tidak hanya itu, Gus Dur juga memperoleh Doktor Kehormatan di bidang kemanusiaan dari Universitas Netanya Israel pada tahun 2003 silam. Gus Dur benar-benar berupaya menunjukkan sisi kemanusiaannya dengan membela kemanusiaan tanpa syarat.

Gus Dur (2006) mengungkapkan dalam buku yang ditulisnya berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, tepatnya pada halaman 157 bahwasanya “...begitu banyak rahasia menyelimuti masa lampau kita, sehingga tidak layak jika kita bersikap congkak dengan tetap menganggap diri kita benar dan orang lain salah. Diperlukan kerendahan hati untuk melihat semua yang terjadi itu dalam perspektif perikemanusiaan, bukannya secara ideologis. Ini bertentangan dengan hakekat kehidupan bangsa kita yang demikian beragam. Kebhinekaan/keragaman justru menunjukkan kekayaan kita yang sangat besar. Karenanya kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa atas kemelut yang masih menghinggapi kehidupan bangsa kita saat ini”.

Lebih lanjut Gus Dur mengungkapkan bahwa keyakinan agama Islam mengarahkan kita agar menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Gus Dur yakin dan percaya bahwa pada waktunya nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin tidak dimiliki orang lain yaitu: “Kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan perikemanusiaan dan tetap melanjutkan misi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Bahkan Gus Dur menginginkan agar semua ditopang dengan pelestarian akhlak yang sejatinya merupakan kesulitan terbesar yang akan dihadapi umat manusia di masa depan.

Gus Dur merupakan sosok manusia yang tidak hanya manusiawi, pun sangat mengedepankan keterbukaan, keadilan dan toleransi. Sebagaimana keinginannya menampilkan keislamannya secara terbuka, adil dan toleran. Bahkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam petikan pidatonya ketika penutupan upacara kenegaraan di Pondok Pesantren Tebuireng menyebutkan bahwasanya: “…sebagai pejuang reformasi, Gus Dur telah mengajari kita kepada gagasan-gagasan universal mengenai pentingnya kita sebagai bangsa yang beragam ini menghormati dan menghargai keadilan...”. Gus Dur kerap berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Sejujurnya Gus Dur menaruh perhatian besar terhadap isu keadilan. Buktinya dalam salah satu bukunya berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, beliau membahas tentang keadilan dalam beberapa bab tersendiri. Semisal dalam bab “Islam, Negara dan Rasa Keadilan”. Gus Dur menekankan pentingnya orientasi pembangunan negara untuk kepentingan warga masyarakat/rakyat kebanyakan yang harus lebih diutamakan dan bukannya pengembangan sumber daya manusia yang tinggi maupun penguasaan teknis yang memadai bagi modernisasi. Gus Dur menjelaskan bahwa bukannya modernitas yang lebih dikejar melainkan terpenuhinya rasa keadilan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus diutamakan.

Selanjutnya pada bab “Keadilan dan Rekonsiliasi”, Gus Dur menekankan pentingnya keadilan yang harus ditegakkan sebagai persyaratan utama bagi sebuah proses demokratisasi. Gus Dur meyakini bahwa kedilan harus ditegakkan di Bumi Nusantara. Pada bab “Islam dan Keadilan Sosial”, Gus Dur menekankan pentingnya digunakan ukuran kualitatif selain ukuran kuantitatif yang bersifat mikro agar berorientasi pada keadilan, kedaulatan hukum dan kepentingan rakyat banyak sebagai hal-hal makro yang juga harus diperhatikan. Bahkan dalam buku berjudul “Tabayun Gus Dur: Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural” terbitan LKiS, Gus Dur dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa suatu pemerintahan selayaknya mengandung 3 unsur utama didalamnya yaitu keadilan, demokrasi dan persamaan.

Di sisi lain, nilai pembebasan yang dikedepankan oleh Gus Dur bukanlah kebebasan yang kebablasan melainkan kebebasan yang menjadi hak setiap manusia yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada Agustus 2006 silam, Gus Dur memperoleh Tasrif Award sebagai Pejuang Kebebasan Pers. Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) karena Gus Dur dianggap memiliki semangat, visi dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, persamaan hak, semangat keberagaman dan demokrasi di tanah air Indonesia. Patut dipahami bahwa semangat pembebasan hanya dimiiki oleh mereka yang memiliki jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut dan otentik. Gus Dur mengamini hal tersebut dengan selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain.

Hosen (2003) dalam artikel jurnalnya menyebutkan tentang sosok Gus Dur yang merupakan “prominent figure” yang merepresentasikan Islam Tradisional. Lebih lanjut Hosen menjelaskan bahwa masa kepemerintahan Gus Dur ketika beliau menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 4 merupakan hasil dari “political game” antar elit pada saat itu. Hosen menekankan tentang pentingnya “good governance” dan aturan hukum. Lebih lanjut Hosen (2004) juga menjelaskan bahwa tantangan yang sebenarnya khususnya bagi Nadhlatul Ulama (NU) yang merupakan naungan Gus Dur ialah menggunakan ijtihad kolektif sebagai instrumen efektif untuk membuat kontribusi keislaman bersinergi dan berdampak terhadap pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, mewujudkan pembangunan berkelanjutan serta pemerintahan yang baik (good governance).

Sebagaimana diungkapkan oleh Dr Kaloh (2006) bahwasanya “…Tidak cukup bagi seorang pemimpin kalau hanya bertanggung jawab sebagai pemimpin, Anda pun perlu mengajarkannya dan mendorong yang lain untuk melakukannya. Kredibilitas kepemimpinan Anda ditentukan oleh keteladanan”. Karena pada dasarnya keteladanan akan menimbulkan rasa hormat dan keyakinan. Gus Dur dirasa berhasil memberikan contoh dan teladan yang merupakan esensi penting dari suatu kepemimpinan. Keteladanan menjadi kesempatan untuk mengembangkan diri pribadi dan orang lain secara bersama-sama. Rahasianya yaitu ketika seorang pemimpin mampu menuntun, menata emosi dan menjaga serta mengatur pengikutnya maka pemimpin tersebut sebenarnya sedang berinvestasi untuk mengubah pengikutnya dengan keteladanan, menjadi model dan standar nilai bagi pengikutnya dan meninggalkan warisan nilai, nama baik dan karya hidup dalam pekerjaan, pelayanan bahkan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada akhirnya, saya percaya bahwa Gus Dur merupakan sosok manusia yang adil dan bebas. Manusia yang menjadi teladan dan mercusuar bagi tanah air Indonesia bahkan dunia. Gus Dur telah selesai dengan dirinya sendiri, karena dia berhasil menaklukkan ego dan segala kepentingan diri pribadi.

Sumber:

Please like & share:

[Karya KBM5] Makhluk Tradisional Makhluk Modern

Posted on

masyarakat tradisional

Biasanya seorang manusia jika dia sudah terbiasa hidup di desa sejak kecil, maka perilakunya adalah “desa”. Perilakunya berada pada ranah tradisional cenderung religius, subtansial dan menjujung solidaritas. Orang  desa, dia berpikir (tanpa sadar) apa yang dilakukannya harus memenuhi kriteria-kriteria hukum adat dan norma (setiap apa yang dilakukan mengandung arti/rasa yang dalam atau pada konteks tertentu) jika tidak maka ada “rasa” tidak “baik” dan tidak  “pantas” (ora elok) yang muncul. Mungkin itulah kenapa pusat kebudayaan kebanyakan berada di desa-desa.

Orang desa adalah orang yang kuat, mereka bisa hidup dengan cara sederhana tanpa perlu menyembah dunia material yang berlebih. Itulah sebabnya tradisional sumber kedamaian, kesederhanaan dan orientalitas. Orang tradisional sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat, istilah “sandang pangan papan” menegaskan tentang hal itu. Bagaimana bisa?

Coba selidiki mengapa kata “sandang” berada di depan kata “pangan”?  Kenapa “sandang” lebih diutamakan dari pada “pangan”. Mari kita selidiki perlahan, “Sandang” adalah bentuk bahasa jawa dari kata pakaian sedangkan “pangan”  adalah bentuk bahasa jawa dari makanan. Kenapa tidak makan dahulu baru pakaian, karena sejatinya tanpa makan kita akan kita akan mati karena kehabisan energi, sedang tanpa pakaian kita tidak akan mati.

Ternyata tidak sesimpel itu di mata masyarakat tradisional,  “sandang”  melambangkan  “harga diri”, sedang “pangan”  melambangkan “harta”, istilah itu adalah sebuah pengingat dari masyarakat tradisional untuk masyarakat tradisional itu sendiri bahwa “semahal-mahal hartamu, sekaya-kaya hartamu, harga dirimu lebih utama dari pada hartamu”. Itulah mengapa saya menyebut masyarakat tradisional sangat menjunjung martabat kemanusiaannya.

Dan tentu masih banyak lagi variabel-variabel tradisional lain yang belum sempat saya utarakan.

masyarakt modern

Berbeda dengan seorang manusia jika dia sudah terbiasa hidup di Kota sejak kecil, maka perilakunya adalah “kota”. Perilakunya berada pada ranah modern cenderung rasional, prosedural dan bersifat kompetisi. Bukan berarti di kota tidak ada unsur kebudayaan, mungkin karena di kota banyak pendatang sehingga terjadilah perpanduan kulturisasi sehingga terdapat kulturalisasi yaitu modern itu sendiri.

Orang kota dituntut bisa hidup di tengah tekanan-tekanan derasnya multikulturasi sosial. Sehingga  manusia modern harus bisa melakukan tindakan modern agar bisa bertahan hidup. Tindakan modern contohnya adalah inovasi. Di ranah modernitas, inovasi adalah sebuah keharusan, tanpa inovasi kamu bisa mati. Tanpa inovasi produkmu akan kalah bersaing dengan produk lain.

inovasi adalah kunci untuk hidup di dunia modern

Contoh nyata inovasi dewasa ini adalah bergesernya angkutan kendaraan konvensional ke ranah angkutankendaraan berbasis IT. Demikian itu adalah bentuk inovasi yang luar biasa, mengapa? lama kelamaan orang yang tetap bersikukuh pada angkutan kendaraan konvensional akan tergeser karena tidak bisa menandingi   kemudahan dari  fasilitas kendaraan berbasis IT tersebut.

Sebenarnya masih banyak lagi tindakan modernitas antara lain adalah mandiri, tepat waktu, profesionalisme, terencana, percaya diri,  orientasi pada Science dan Technology dan variabel-variabel modernitas yang lain.

bingung - gap - kagok - tidak terbiasa

Akan terjadi “gap”  atau  “kagok” saat seseorang yang sudah biasa di ranah modern dibawa ke arah tradisional, begitu sebaliknya akan janggal saat seseorang tradisional berada di ranah modern. Dibutuhkan suatu formula transformasi khusus yang harus didapat sesesorang saat seseorang tersebut menyeberangi jembatan modern ke tradisional dan sebaliknya.

Saya ambil contoh sederhana, kopi. Saya ajak anda jalan-jalan ke desa sebentar, kalau anda berasal dari desa, mungkin istilahnya adalah “ngopi”. Biasanya ngopi selalu ditemani oleh dua hal yaitu gorengan dan rokok. Sepengalaman saya, ngopi itu kenikmatannya bukan berdasarkan enak apa tidak kopinya, bukan enak apa tidak gorengannya dan bukan enak apa tidak rokoknya, namun lebih kepada enak apa enggak “cangkruk-annya“.  Selama cangkruk-annya enak dan nikmat maka nikmatlah ngopi itu.

Jadi pasti anda akan sedikit heran (anda yang berasal dari wilayah modern) jika melihat orang-orang akan tertawa terbahak-bahak sangat senang sekali seperti orang yang baru kejatuhan banyak durian di gubuk kopi yang sangat sederhana. Yang mana jika kita bandingkan dengan tempat yang di tempati saat itu sangat ironis sekali. Yang perlu saya tekankan adalah ngopi  di sini adalah bukan proses minum kopi bukan, tapi proses sosial, dimana suatu kelompok manusia bisa bertemu dan ngobrol santai dengan hangat kopi. Jadi orang tradisional memandang ngopi adalah di wilayah subtansial bukan prosedural. Sekali lagi jangan heran jika ada warung kopi yang tanpa atap alias dlosoran tetapi tetap ramai pengunjung, jangan heran. Sekali lagi itu adalah nilai subtansialnya. Seperti itu.

Sekali lagi saya mengingatkan bahwa akan dibutuhkan ijtihad lebih saat manusia modern memasuki wilayah tradisional begitu sebaliknya diperlukan transformasi koordinat kehidupan khusus saat manusia tradisional memasuki area modern.

Namun hal itu tidak berlaku untuk manusia yang bernama Gus Dur. Gus Dur mampu menjadi manusia tradisional dan manusia modern, tidak hanya mampu, tapi beliau juga sukses.

Buktinya …

 

gus dur sebagai manusia tradisional

Gus Dur sebagai manusia tradisional adalah beliau seorang kyai. Dari interprestasi saya kyai bukanlah orang yang muluk-muluk pintar agama. Kata kyai digunakan oleh orang Jawa untuk menghormati objek yang dirujukinya. Jadi saya tekankan sekali lagi  kata “kyai” merupakan suatu istilah budaya .

Misalnya “Kyai Slamet” itu bukan merujuk ke orang ahli agama yang bernama “Pak Slamet” bukan, “kyai Slamet” adalah istilah yang digunakan untuk nama lain dari hewan Kerbau. Contoh lainnya adalah “Kyai Sabuk Inten Nogosroso” itu merupakan sebuah keris.

Sedangkan saat kata “kyai” disandangkan pada seseorang, timbulah rasa penghormatan dari masyarakat pada orang tersebut. Kyai itu adalah seseorang yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Sehingga masyarakat menyebutnya kyai untuk menghormatinya, menyebutkan kyai untuk “mengajeni” orang tersebut. Jadi tidak semua orang pintar menjadi kyai, dan tidak semua orang yang kurang pintar tidak bisa menjadi kyai.

Berikut adalah rujukan  mengenei interpresasi saya terhadap kyai :

Gus Dur adalah orang manusia yang mengabdikan hidupnya untuk manusia lain,untuk bangsa Indonesia, makanya orang-orang menghormati beliau, bahkan ada orang non-islam yang mengziarahi makamnya. Ini semua adalah bukti bahwa Gus Dur dicintai oleh umat, Gus Dur seorang kyai.

gus dur manusia modern

Gus Dur sebagai manusia modern adalah beliau seorang presiden RI.

Saya trenyuh pas beliau terakhir kali meninggalkan istana negara. Beliau menggunakan kaos T-shirt sederhana dan celana pendek sederhana. Tindakan itu dinilai kontroversial sebagian kalangan, bahkan ada yang mengecam. Padahal menurut saya itu adalah bahasa lambang, seakan-akan beliau mengatakan pada Bangsa ini, “Presiden seperti saya itu ya sama kayak sampean, ya sama kayak rakyat, ga ada bedanya. “.

Karena mengapa? Pribadi saya melihat beliau atau dalam hal ini adalah pemikiran beliau,  seakan-akan beliau berkata pada Indonesia bahwa “modern dan tradisional adalah sesuatu yang satu, tidak bisa dipisahkan. Sebab Modern pada akhirnya adalah tradisional, sedangkan tradisional pada akhirnya adalah modern. .”

Saya masih ingat pada waktu itu ayah saya mengatakan pada saya bahwa beliau adalah seorang “kyai gede”. Jujur pada waktu itu saya tidak mengerti apa makna dari kata “gedhe” yang mengikuti kata “kyai”. Kata “Kyai Gedhe” sangat menancap di kepala saya sampai saat ini. Menurut saya kecil, “kyai” ya “kyai” standar definisi saya pada waktu itu orang sholeh yang sering ke Masjid menjadi imam pada saat sholat.

Dan saya semakin yakin, itulah kenapa Bapak saya menyebutnya “kyai gedhe” kyai yang bukan sembarang kyai.

www.muslimedianews.com www.arrahmah.co.id  www.moslemforall.com

Please like & share:

Pembukaan Kontes Blog Muslim ke-5

Posted on Updated on

Kontes Blog Muslim Ke-5

“Teladan Gus Dur untuk Indonesia Mercusuar Dunia”

Periode: 26 Desember 2016 – 26 Maret 2017

 

Belakangan ini masyarakat Indonesia melalui maraknya sosial media mengarah kepada dorongan intoleransi dan perpecahan antar warga bangsa Indonesia, suatu hal yang sangat mengancam ke-bhinneka-tunggal-ika-an Indonesia yang terdiri dari beragam etnis, suku, agama, dan perbedaan ragam lainnya. Bangsa Indonesia merindukan sosok Gus Dur sebagai bapak bangsa yang mampu memberikan teladan bagi pengelolaan perbedaan dan mencegah perpecahan bangsa Indonesia.

Perpecahan bangsa Indonesia tentu sangat tidak diinginkan karena akan mencegah kemajuan bangsa dan tentunya juga mencegah syiar dakwah Islam yang berkelanjutan yang mana sangat memerlukan kedaulatan bangsa Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia.

Kerukunan antar warga bangsa Indonesia sangat diharapkan untuk terus langgeng untuk mampu menjawab tantangan peradaban dunia secara global, sehingga seiring kemajuan dan potensi bangsa Indonesia menjadi Mercusuar Dunia yang mampu memberikan contoh dan petunjuk bagi kemajuan suatu bangsa yang tetap berpegang teguh pada ajaran agama Islam yang rahmatan lil’alamin. Kontes Blog Muslim ke-5 ini mengajak kepada warga masyarakat yang peduli kepada kemajuan bangsa Indonesia untuk turut menyumbangkan ide, pemikiran, dan karya nyata bagi tujuan tersebut.

banner-pix-1000x667

A. PERATURAN KONTES BLOG MUSLIM Ke-5:

 Pendaftaran Peserta

  1. Peserta harus mendaftar terlebih dulu di http://www.kontesblogmuslim.com/wp-login.php?action=register . Pendaftaran dapat dilakukan sejak tanggal 26 Desember 2016
  2. Password akan otomatis dikirimkan ke email peserta
  3. Peserta diminta login dengan username dan password yang telah dikirimkan untuk melakukan update informasi di menu “Profile” dan mengisi kolom “Biographical Info” dengan setidaknya: Nomor KTP, Alamat lengkap sesuai KTP, Status aktivitas (wirausaha/ karyawan/ mahasiswa), Bidang / jurusan aktivitas, Rekening bank, Akun Twitter, Akun Facebook

 

Penulisan Materi Blog

  1. Memilih menu “Add New Post”
  2. Mengisi form judul dengan diawali teks‘[Karya KBM5]’ diikuti oleh judul blog
  3. Mengisi Materi Blog melalui form dengan perangkat tulisan yang telah disediakan termasuk mengirimkan link Youtube sebagai acuan.
  4. Peserta wajib memasukkan daftar link berikut di 2 spasi setelah tulisannya paling bawah: www.muslimedianews.com, www.arrahmah.co.id, www.moslemforall.com
  5. Peserta wajib memilih “Categories” di bagian kanan dengan “Kirim Karya KBM5”
  6. Peserta dapat menyimpannya sebagai draft dengan mengklik menu “Save Draft” atau melihat preview-nya.
  7. Peserta wajib mengisi kolom tags dengan: ‘Indonesia Mercusuar Dunia’, ‘Kontes blog muslim, ‘Final’ (bila peserta meminta panitia untuk mempercepat seleksi)

 

Pengiriman Materi Blog

  1. Bila materi blog sudah siap diikutsertakan lomba, maka silakan mengklik menu “Submit for Review” sehingga materi akan terdaftar di panitia
  2. Secara jadwal panitia akan mulai melakukan seleksi materi blog tahap ke-1 mulai tanggal 27 Maret s/d 11 April 2017
  3. Peserta dapat meminta panitia untuk mempercepat seleksi materi blognya dengan cara menambahkan di kolom tag dengan kata ‘Final’
  4. Materi yang terseleksi dan lolos di tahap awal akan muncul sebagai artikel di web kontesblogmuslim.com

 

Proses Sosialisasi Materi Blog

  1. Peserta diharapkan melakukan sosialisasi masukan/ ide yang ditulis pada blognya dan telah lolos pada tahap ke-1 atau sudah tayang di web kontesblogmuslim.com
  2. Caranya dengan mengklik judul artikel blog dan melakukan sharing dengan tombol social media yang telah sediakan, antara lain Facebook, Twitter, Google+, komentar dan interaksi komentar, dl
  3. Jumlah sosialisasi yang dilakukan, sebagaimana tercantum di sebelah kanan tombol social media pada artiel blog, akan menyumbangkan 10% point untuk seleksi tahap ke-2.
  4. Periode sosialisasi dapat dilakukan oleh peserta mulai artikel tayang di web kontesblogmuslim.com

 

Penilaian

Panitia akan memulai penilaian pada tanggal 20 April 2017

 

B. PERSYARATAN LOMBA

  1. Tulisan harus asli dan tidak menjiplak dari tulisan lain
  2. Peserta diperbolehkan mengutip suatu pendapat untuk memperkuat tulisannya dengan menampilkan sumber penulis dan alamat webnya
  3. Email peserta akan didaftarkan ke milis diskusi peserta Kontes Blog Muslim untuk menjalin silaturahmi para peserta
  4. Mengirimkan materi blog dengan tatacara di atas diartikan bahwa peserta mengikuti peraturan dan persyaratan kompetisi ini di mana ketentuan dan keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat
  5. Kompetisi web blog ini terbuka untuk umum.

 

 

C. HADIAH

Hadiah pada event Kontes Blog Muslim ke-5 ini adalah:

  • Pemenang I memperoleh Rp. 2.500.000
  • Pemenang II memperoleh Rp. 1.500.000
  • Pemenang III memperoleh Rp. 1.000.000
  • Pemenang Favorit Rp. 500.000 untuk masing-masing 3 orang
  • Pemenang Hiburan ke-1 s/d ke-10 masing-masing memperoleh Rp. 100.000
  • Peserta yang masuk dalam seleksi 20 karya terbaik akan diberikan sertifikat

Keterangan: hadiah kemungkinan akan ditingkatkan dan diumumkan pada masa kompetisi

 

D. PERIODE LOMBA

Periode kontes blog muslim ke-5 ini adalah:

  1. 26 Desember 2016 s/d 26 Maret 2017: Pendaftaran dan Pengiriman Materi Blog
  2. 27 Maret – 11 April 2017 : Seleksi artikel atau Penilaian tahap ke-1
  3. Setelah artikel lolos seleksi s/d 11 April 2017     : Sosialisasi karya oleh para peserta ke media sosial
  4. 12 – 30 April 2017   : Penilaian oleh juri dari PPM Aswaja
  5. Minggu ke-1 Mei 2017 : Pengumuman pemenang
  6. Minggu ke-3 Mei 2017 : Penyerahan hadiah lomba

 

E. DEWAN JURI

Dewan Juri untuk Kontes Blog Muslim 5 ini antara lain:

  1. Prof. Nadirsyah Hosen (Monash University, Australia)
  2. Farid Saenong, Ph.D (sedang dalam proses konfirmasi)
  3. Dr. Hasan Chabibie, M.Si (Kemendikbud)
  4. Aidy Ilmy, M.Kom (BPJS)
  5. Dodik Ariyanto, M.M (Indosat)

 

F. KONTAK PENYELENGGARA

Penyelenggara event Kontes Blog Muslim ke-5 ini dapat dihubungi melalui email ppm.aswaja@gmail.com atau dapat mengetahui profil kami di www.ppmaswaja.org.

Please like & share:

[Karya KBM4 Video] Bersyukur dengan Warna-Warni Nusantara

Posted on Updated on

Judul Video: Bersyukur dengan Warna-Warni Nusantara
Pengirim Video: Nabil Asmi

 

Penjelasan Video:

 “Apa itu rasa syukur?”. Pertanyaan yang mungkin seringkali terlintas di benak kita. Bagaimana cara kita bersyukur akan sesuatu? Tentu setiap orang punya jawaban mereka sendiri.

Manusia diciptakan dengan berbagai warna. Jika diibaratkan hidup kita ini adalah selembar kertas putih, maka manusia adalah ‘cat’ yang akan mewarnainya. Tentu, warna yang satu akan berbeda dengan warna yang lainnya, namun, akan menciptakan sebuah lukisan yang indah, bukan?

Indonesia adalah negara yang kaya. Di balik kata “jamrud katulistiwa”, terdapat berbagai macam kebudayaan, agama, suku, dan ras. Dimulai dari hal kecil, seperti kuliner di Indonesia. Setiap daerah menggenggam ‘warna’ mereka sendiri. Dan itulah Indonesia. Tanpa satu warna, tak lengkap rasanya. Satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi.

Bagaimanakah Indonesia yang dulu? Mungkin kita sering mendengar tentang sejarah Negara Indonesia kita tercinta ini. Baik di sekolah, ataupun di media informasi yang semakin hari semakin mudah diakses. Tentang bagaimana para leluhur kita mempertahankan Indonesia dan menjadikannya negara yang cinta perdamaian.

Jika kita mengingat perjuangan para leluhur yang berdarah-darah demi Indonesia, sudah layaknya kita bersyukur. Kita hanya tinggal menikmati hasilnya. Kita hidup pada zaman dimana kekerasan dan penindasan telah dilarang. Seharusnya yang kita lakukan sekarang adalah mempertahankan dan membawa Indonesia ke jalan yang lebih baik, menjadi negara yang lebih maju. Siapakah yang berperan penting? Kita. Yup, kita sebagai generasi muda.

Kekayaan alam Indonesia tak terhitung harganya, tak tergantikan indahnya. Itu membuat kita bersyukur setiap kali melihatnya. Indonesia mempunyai banyak hal yang tak dimiliki oleh negara lain. Apa kita akan tega, jika kekayaan alam yang melimpah di Indonesia digunakan untuk keuntungan pribadi oleh oknum tertentu?

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi sebuah cerita. Tentang masa muda, dan tentang perbedaan yang menyatukan manusia.

Hari itu mentari menyajikan cahaya terangnya. Saya sedang berkunjung di rumah rekan saya. Kami akan mengerjakan tugas kuliah bersama. Wanita cantik itu, dengan rambut kecoklatannya, tersenyum dan mempersilakan saya masuk. Hiasan dinding kamarnya membuat saya sedikit terdiam.

“Kamu sudah sholat dzuhur?”, tanya rekan saya.

“Oh, belum”, jawab saya sambil terseyum.

“Sholat dulu, ya? Tapi saya gak punya mukena hehe”.

“Iya, gak apa-apa, saya bawa, kok”.

Saya sholat beralaskan selimut, dengan hiasan berbentuk salib menggantung di tembok ruangan. Tapi, saya bersyukur, meskipun kami berbeda keyakinan, kami masih saling mengingatkan. Jujur saja, saat itu saya tersentuh.

Saya pun pernah bertemu dengan seorang atheis, dia begitu teguh dengan pendiriannya. Namun, dibalik keteguhan atheisnya itu, dia masih mengingatkan sholat dan menghargainya. Saya mengerti, setiap orang memiliki prinsipnya masing-masing, dan saya juga menghargai, dengan tanpa henti mendoakan kebaikannya.

Itu merupakan contoh kecil, tentang indahnya perbedaan yang saling menghargai satu sama lainnya. Perbedaaan itu hadir bukan untuk menciptakan perpecahan. Perbedaan hadir untuk kita belajar saling menghargai, mencintai, dan bersyukur. Bersyukur memang bukan hal yang mudah kita lakukan, karena kita manusia, terkadang kita lupa apa artinya bersyukur. Tak perlu terburu-buru, mulai dari mensyukuri hal-hal yang telah Allah swt hadirkan hari ini.

Dalam Al Qur’an (QS. 2 : 152), Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku“.

Persatuan dan perdamaian perlu ditegakkan di negara Indonesia ini, dan semuanya berawal dari sebuah rasa syukur. Mari kita saling menghargai, menjaga, dan saling berbagi, di atas semua perbedaan. Dengan begitu, kita akan mampu menikmati kebudayaan dan ciri khas yang telah para leluhur kita wariskan untuk Nusantara. Semoga, dengan dimulai dari hal kecil, seperti bersyukur, Indonesia mampu menjadi negara yang maju, negara yang selalu menghargai perbedaan, sehingga tidak terpecah belah.

Ayo generasi muda, harapan bangsa! Tunjukkan rasa syukurmu, dengan rasa optimis, tekad kuat dan mulia, untuk Indonesia yang lebih baik. ^.^

 

muslimedianews.com

muslimoderat.com

 

Link video :

https://youtu.be/P26aEdnbxsE

Please like & share:

[Karya KBM4 Video] Kontribusi Positif Remaja dan Pemuda Sebagai Wujud Syukur Atas Nikmat Hidup Di Indonesia

Video Posted on Updated on

https://www.youtube.com/watch?v=42YNXMZ7_D8

Judul Video: Kontribusi Positif Remaja dan Pemuda sebagai Wujud Syukur atas Nikmat Hidup di Indonesia

Pengirim Video: Muchamad Nadzir

Penjelasan Video:

Walaupun Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu

 

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dari Sabang sampai Merauke terdapat ribuan pulau. Letak Geografis yang berbeda membuat Indonesia menjadi beragam. Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Hal ini tercermin dari semboyan “Bhinneka tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu.

Kemajemukan yang ada terdiri atas keragaman suku bangsa, budaya, agama, ras, dan bahasa.Indonesia merupakan negara yang penuh rahmat. Indonesia memiliki beberapa pulau sedangkan negaranya satu, Indonesia. Berbeda dengan Jazirah Arab yang terdiri dari satu pulau tetapi mempunyai beberapa negara. Rahmat Allah cukup besar yang diturunkan di Indonesia yaitu berupa hidup merdeka damai dan rukun.

Indonesiku yang damai dan bersatu.

Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat dihindarkan di tengah perbedaan. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. Kesadaran akan kerukunan harus selalu dijaga agar kehidupan ini bisa berjalan dengan baik.

Hidup damai, merdeka dan rukun merupakan rahmat dari Allah swt. yang disertai dengan perjuangan, peperangan, dan penderitaan. 350 tahun lebih Indonesia dijajah oleh bangsa asing. Warga Indonesia banyak yang menderita, disiksa, dan tertindas. Orangtua, Remaja, Pemuda, dan Anak-anak, mereka semua menderita.  Bahkan bangsa belanda melakukan politik adu domba agar Indonesia terpecah dan mudah dikalahkan.

Remaja dan Pemuda Harus Bersyukur

Remaja dan Pemuda zaman dahulu berbeda dengan pemuda zaman sekarang. Mereka tertindas, terjajah dan tidak bisa menikmati kehidupan layaknya remaja dan pemuda zaman sekarang. Mereka berjuang keras, berperang melawan penjajah yang dzalim untuk merebut kemerdekaan. Baju yang dipakai setiap hari hanya itu-itu saja. Makanannya pun kurang mengandung gizi.

Remaja dan pemuda sekarang hendaknya bersyukur atas rahmat Allah yang berupa hidup merdeka, damai, dan rukun. Remaja dan pemuda Indonesia bisa menikmati buah perjuangan bangsa Indonesia, hidup damai dan penuh dengan kenikmatan. Jangan sampai Allah murka dan dikembalikan lagi seperti pada masa penjajahan. Naudzubillahi min dzaalik.
Di zaman modern ini juga masih ada remaja dan pemuda yang tidak bisa menikmati hidup merdeka. Negaranya masih dijajah oleh bangsa asing. Kehidupannya penuh dengan penderitaan. Tangis dan jeritan hidangan sehari-sehari. Tempat pendidikan di hancurkan,  rumah sakit di hancurkan dan fasilitas umum pun dihancurkan menggunakan bom.

 

Peperangan di Timur Tengah

Penderitaan mereka lebih berat dari pada masa penjajahan bangsa Indonesia, karena kecanggihan alat perang menyebabkan kerusakan yang luar biasa. Perang di zaman modern, disamping perang fisik juga perang menggunakan kecanggihan teknologi. Semakin canggih teknologi, semakin besar penderitaan yang dialami oleh masyarakat. Kerusakan pun cukup parah.  Naudzubillah min dzaalik.

Negara-negara yang mengalami penderitaan tersebut adalah negera-negara yang ada di timur tengah. Diantaranya adalah Palestina, Suriah, Iraq, Yaman dan lain-lain. Penyebab berbagai peperangan yang ada di negara tersebut bervariasi. Diataranya adalah konflik agama, konflik kekuasaan, konflik perbatasan, konflik kelompok, penjajahan bangsa asing, dan lain-lain.
Jika kita menengok negara-negara yang ada di timur tengah kita akan menangis apabila mengalami kejadian-kejadian tersebut. Kehidupan di negara-negara timur tengah sangat berbanding terbalik dengan kehidupan di Indonesia yang penuh dengan kedamaian dan kerukunan. Kita tentu tidak mau jika negara kita dijajah lagi oleh negara lain. Mensyukuri anugerah Allah berupa hidup merdeka damai dan rukun adalah salah satu cara agar anugerah ini tetap terjaga.
Kontribusi Positif Remaja dan Pemuda Sebagai Wujud Syukur atas Nikmat Hidup di Indonesia
Sebagai penerus bangsa, remaja dan pemuda harus berusaha untuk menjaga kemerdekaan, kedamaian, dan kerukunan ini agar selalu terjaga. Mensyukurinya adalah langkah yang tepat agar anugerah tersebut tetap selalu terjaga. Jangan sampai Allah murka karena kita tidak mau mensyukuri nikmat yang ada.

Allah swt. berfirman : “Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Mensyukuri nikmat tidak cukup dengan hati dan bibir saja, akan tetapi harus disertai dengan tindakan yang nyata. Kontribusi positif dari remaja dan pemuda merupakan tindakan yang nyata sebagai wujud syukur atas karunia Allah swt. berupa kemerdekaan, kedamaian dan kerukunan. Dengan harapan agar Indonesia menjadi maju, berdaya saing, dan menjadi mercusuar dunia.

Adapun kontribusi positif yang perlu ditanamkan pada remaja dan pemuda Indonesia adalah sebagai berikut :

1.    Memperkaya ilmu agama
Ilmu agama adalah pondasi utama bagi terwujudnya insan yang mulia. Dengan pemahaman agama yang baik maka moral bangsa pun akan menjadi baik. Lembaga yang berperan dalam pengajaran agama adalah pondok pesantren, madrasah diniyah, TPA/TPQ dan lain-lain. Belajar ilmu agama juga bisa mengakses situs-situs islami seperti;  www.ngaji.web.id, www.piss-ktb.com, dan lain-lain.

Jangan sampai remaja dan pemuda tidak mendapatkan limu agama dalam kehidupannya. Dalam hal ini orang tua juga berperan agar anak-anaknya mendapat ilmu agama.

2.    Belajar dengan serius dan bercita-cita yang tinggi,
Indonesia membutuhkan generasi yang hebat. Generasi yang hebat tidak didapat dari generasi yang bermalas-malasan. Tugas para remaja dan pemuda adalah belajar. Belajar bisa didapatkan dari pendidikan formal (Sekolah) maupun non formal (Lembaga bimbingan belajar, keluarga, dan masyarakat).

Cita-cita merupakan akar dari kemajuan bangsa. Cita-cita yang tinggi bisa dicapai dengan belajar dengan giat. Diharapkan para remaja dan pemuda agar memiliki cita-cita yang tinggi dan meraihnya dengan belajar yang serius. Jika para remaja pemuda Indonesia memiliki cita-cita yang tinggi insyaAllah Indonesia akan maju.

3.    Mengolah sumber daya alam sebaik-baiknya,
Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah akan tetapi sumber daya manusia (SDM) nya belum bisa mengolahnya dengan baik. Banyak sumber tambang yang dikelola oleh negara asing. Remaja dan pemuda harus berupaya sekuat tenaga agar bisa mengolah SDA sendiri. Mengolah SDA agar menjadi prodouk ekspor dan tidak mengekspor dari negara lain.
4.    Berkreasi dalam bidang kuliner,
Indonesia memiliki tanah yang subur. Dengan kesuburan tanah yang tinggi Indonesia memiliki keanekaragaman hewani dan hayati baik di laut maupun di darat. Keadaan inilah yang memunculkan ide-ide kreatif di bidang kuliner. Remaja dan pemuda harus bisa mengolah agar Indonesia bisa menjadi ikon kuliner dunia dengan memunculkan kreasi-kreasi baru di bidang kuliner.

 5.    Melestarikan budaya yang positif,

Letak geografis yang berbeda-beda membuat indonesia menjadi beragam. Memiliki beragam suku, budaya, dan bahasa. Akan tetapi tidak semua budaya yang ada di Indonesia sesuai syari’ah islam. Para remaja dan pemuda harus bisa melestarikan budaya yang sesuai dengan syari’ah islam. Menjadikannya ikon bangsa Indonesia yang religius dan damai.

6.    Menguasai teknologi,
Di era globalisai negara tidak boleh ketinggalan dalam bidang teknologi. Teknologi akan mempermudah pekerjaan dan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Kalahnya persaingan Indonesia dalam persaingan dunia salah satunya dikarenakan minimnya penggunaan teknologi yang canggih. Di Indonesia banyak yang masih menggunakan teknologi manual.
Oleh sebab itu, remaja dan pemuda sudah seharusnya bangkit untuk merombak teknologi yang ada. Mendatangkan dan menciptakan teknologi yang baru, untuk mempermudah pekerjaan dan mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan begitu Indonesia akan mempunyai daya saing di dunia internasional.
7.    Merayakan ulang tahun hari kemerdekaan dengan kegiatan yang positif,
Sering terjadi, perayaan hari kemerdekaan Indonesia dirayakan dengan kegiatan-kegiatan yang mengandung kemaksitan. Seperti; Pesta dengan mengadakan orkes melayu dan menghadirkan artis yang berpakaian minim; pesta miras; pesta seks dan lain-lain. Alasannya adalah mensyukuri nikmat kemerdekaan, akan tetapi dilaksanakan dengan tindakan maksiat.
Jika hal tersebut terus terjadi di Indonesia, keberkahan di Indonesia akan semakin berkurang dan bahkan Allah akan menghadirkan adzab jika hamba-hambanya fasiq.
Remaja dan pemuda harus bisa merubah, setidaknya mengurangi sedikit demi sedikit budaya tersebut dan menggantinya dengan kegiatan-kegiatan yang islami dan sesuai dengan syar’i. Jika kita mensyukuri kenikmatan dengan benar, Nikmat dan keberkahan di negara Indonesia akan bertambah.
8.    Berfikir dan berkarya positif.
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh remaja dan pemuda dalam mensyukuri nikmat hidup merdeka, damai dan rukun. Berfikir dan bertindak positif dalam segala bidang merupakan hal yang perlu di letarikan.
Contoh dari tindakan-tindakan positif adalah bekerja dengan giat dengan pekerjaan yang halal, mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang amanah, menjadi pengusaha yang sesuai denga syariat islam, berdakwah, mengajarkan dan mengamalkan syariat islam, dan lain-lain.
Intinya, Dalam mensyukuri nikmat hidup di Indonesia yang merdeka, damai dan rukun tidak hanya dengan hati dan ucapan. Akan tetapi harus dengan tindakan-tindakan yang positif. Jika kita mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan menambah karunianya. Akan tetapi jika kita mengkufuri nikmat yang ada, Allah akan menurunkan adzabnya.

Sekian, terima kasih. Wassalam….

 

Ditulis Oleh : Muchamad Nadzir
                          Klik this picture to wath video !
                          https://www.youtube.com/watch?v=42YNXMZ7_D8
Please like & share:

Pembukaan Kontes Blog Muslim Ke-4

Posted on Updated on

Kontes Blog Muslim Ke-4

“Rasa Syukur Hidup Nikmat di Nusantara dari Perspektif Remaja dan Pemuda”

Periode: 28 Oktober 2015 – 28 Januari 2016

Flyer

LATAR BELAKANG

Masyarakat Indonesia tumbuh di wilayah Nusantara yang memiliki kerukunan, toleransi, dan kedamaian yang merupakan anugerah dari Allah SWT dalam berkehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Anugerah tersebut memiliki beragam bentuk seperti budaya positif yang membangun peradaban, ragam masakan dan kuliner, tempat wisata, keragaman suku dan ras serta agama yang meskipun berbeda-beda namun tetap dalam kebersatuan, kerukunan, dan kedamaian, serta terhindarkan dari bahaya perpecahan dan permusuhan sebagaimana negara-negara di Jazirah Arab yang sedang mengalami konflik sampai dengan saat ini.

Kenikmatan tersebut tidak dapat dipungkiri sebagai bentuk sumbangsih dari para pendiri bangsa sejak zaman kemerdekaan dan juga sumbangsih umat Islam sebagai mayoritas penduduk di Indonesia yang konsisten menjaga pondasi kebersatuan antar umat berbangsa dan bernegara.

Saat ini anugerah kenikmatan tersebut perlu dikenali bersama dan ditunjukkan kepada masyarakat luas agar generasi muda bangsa memiliki niat, rasa optimis, tekad mulia, dan aktivitas yang lebih baik dalam memanfaatkan kenikmatan tersebut.

 

TUJUAN

Kontes ini mengharapkan narasi cerita dalam bentuk tulisan singkat dan video pendek dari perspektif remaja dan pemuda dengan tujuan: menyampaikan pengalaman atas anugerah kenikmatan hidup di Nusantara yang rukun antar suku-ras-agama, sehingga dapat menikmati kenikmatan budaya daerah yang relijius atau kenikmatan aneka ragam kuliner khas Nusantara warisan leluhur sebagai modal berkarya positif dengan harapan agar bangsa Indonesia dapat tumbuh maju berkembang menjadi Mercusuar Dunia yang relijius tidak terpecah belah seperti negara-negara yang sedang berkonflik di Jazirah Arab.

 

 

PERATURAN KONTES BLOG MUSLIM Ke-4:

  1. Pemahaman Event

Peserta diminta membaca terlebih dahulu keseluruhan artikel halaman ini untuk memahami secara keseluruhan latar belakang, tujuan, peraturan, dan persyaratan Kontes Blog Muslim ke-4 ini.

  1. Pendaftaran Peserta
    1. Peserta harus Register/ mendaftar terlebih dulu di kontesblogmuslim.com Gunakan username dan password bila sebelumnya pernah mendaftar
    2. Password pendaftar baru akan otomatis dikirimkan ke email peserta, bila dalam 10 menit password belum diterima, mohon dicek di folder Spam/ Junk email Anda
    3. Peserta diminta login untuk mengupdate informasi di menu “Profile”
      1. Password
      2. Mengisi kolom “Biographical Info” dengan setidaknya: Nomor KTP, Alamat lengkap sesuai KTP, No handphone yang terhubung dengan whatsapp, Status aktivitas (wirausaha/ karyawan/ mahasiswa), Bidang / jurusan aktivitas, Rekening bank, Akun Twitter, Akun Facebook.
  1. Pembuatan dan Penguploadan Video Singkat di Youtube
    1. Peserta diminta membuat video singkat baik video hasil shooting menggunakan kamera atau hasil olah animasi digital
    2. Video dapat berisi antara lain rekaman video pribadi atau kelompok yang menyampaikan pendapat tentang judul blognya
    3. Tidak harus menggunakan background suara
    4. Video boleh diedit dan dirangkai dengan cuplikan video lainnya atau dikombinasi dengan animasi digital untuk memperkuat materi lomba dan menarik penonton videonya
    5. Di bagian akhir video diberikan text yang berisi judul materi blog dan tulisan “Kontes Blog Muslim Ke-4”
    6. Video berdurasi sebaiknya berkisar 3 menit dan diupload ke Youtube
    7. Video berukuran 640 x 360 piksel
  1. Penulisan Materi Blog 
    1. Memilih menu “Add New Post
    2. Mengisi form judul dengan diawali teks‘[Karya KBM4]’ diikuti oleh judul
    3. Menulis Materi Blog melalui form yang telah disediakan dengan jumlah kata maksimal sekitar 1.000 kata
    4. Wajib menampilkan link dan tampilan videonya yang telah diupload di Youtube. Penampilan video dapat dilakukan dengan menyalin url video di youtube ke bagian penulisan blog
    5. Peserta wajib memasukkan 2 dari beberapa pilihan link web berikut: muslimedianews.comwww.tasbihnews.comwww.moslemforall.comwww.cyberdakwah.com,  www.arrahmah.co.idwww.nu.or.idwww.ngaji.web.idwww.piss-ktb.comwww.muslimoderat.com.
    6. Peserta wajib memilih “Categories” di bagian kanan dengan “Kirim Karya KBM4”
    7. Peserta wajib mengisi kolom tags dengan: ‘Indonesia Mercusuar Dunia’, ‘Kontes blog muslim’, dan judul blog
    8. Peserta menyimpan sebagai draft pada menu “Save Draft”.
  1. Pengiriman Materi Lomba Blog
    1. Mendaftarkan materi blog dengan klik menu “Submit for Review”
    2. Panitia akan mulai melakukan seleksi awal materi blog yang dilombakan
    3. Peserta wajib menampilkan tulisan yang sama ke blog pribadinya
    4. Peserta wajib menuliskan alamat url tulisan di blog pribadinya tersebut di bagian bawah artikel yang dilombakan di kontesblogmuslim.com
    5. Materi yang lolos di seleksi tahap awal akan tampil di kontesblogmuslim.com
  1. Proses Sosialisasi Materi Blog (Share)
    1. Peserta diminta melakukan menshare artikel blognya yang sudah tayang di web kontesblogmuslim.com
    2. Caranya dengan mengklik judul artikel blog dan melakukan sharing dengan tombol social media yang telah sediakan, antara lain Facebook, Twitter, Google+, komentar dan interaksi komentar, dll
    3. Aktivitas sosialisasi ini akan menyumbangkan point nilai tersendiri
  1. Penilaian
    1. Antusias dalam mengikuti kontes dalam bentuk kecepatan upload
    2. Aktivititas Sosialisasi (Sharing)
    3. Video Singkat dengan kesesuaian judul blog
    4. Tulisan blog pada sisi orisinalitas dan fokus pada judul blog
    5. Kesesuaian keseluruhan tulisan dan video blog dengan tema lomba

 

 

PERSYARATAN LOMBA

  1. Peserta wajib menceritakan dalam bentuk teks singkat dan video pendek
  2. Tulisan harus asli dan tidak menjiplak dari tulisan lain, panitia akan melakukan pengecekan terhadap keseluruhan artikel tulisan, bila terbukti tulisan tersebut adalah hasil menjiplak, maka panitia akan mendiskualifikasi dengan menurunkan artikel tersebut dari web kontesblogmuslim.com
  3. Peserta diperbolehkan mengutip suatu pendapat untuk memperkuat tulisannya dengan menampilkan sumber penulis dan alamat webnya, jumlah kata kutipan tidak dihitung sebagai bagian 1.000 kata artikel tulisan blog
  4. Email dan no handphone peserta akan didaftarkan ke group diskusi peserta Kontes Blog Muslim untuk menjalin silaturahmi para peserta
  5. Hasil karya menjadi hak milik panitia sepenuhnya dan selanjutnya panitia berhak untuk mengelola, menerbitkan dan menggunakan karya tersebut untuk kepentingan lainnya tanpa persetujuan dari peserta atau penulis terlebih dahulu, namun penulis atau peserta tetap diperbolehkan untuk menggunakan karya tersebut untuk kepentingan non komersial lainnya
  6. Mengirimkan materi lomba dengan tatacara di atas diartikan bahwa peserta mengikuti peraturan dan persyaratan kompetisi ini di mana ketentuan dan keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat
  7. Kompetisi web blog ini terbuka untuk umum.

 

 

HADIAH

Hadiah pada event Kontes Blog Muslim ke-3 ini adalah:

  • Pemenang I memperoleh Rp. 4.000.000
  • Pemenang II memperoleh Rp. 2.500.000
  • Pemenang III memperoleh Rp. 1.000.000
  • Pemenang Favorit Rp. 500.000 untuk masing-masing 3 orang
  • Pemenang Hiburan ke-1 s/d ke-10 masing-masing memperoleh Rp. 100.000

Keterangan: hadiah kemungkinan akan ditingkatkan dan diumumkan pada masa kompetisi

 

 

PERIODE LOMBA

  • 28 Oktober 2015 – 28 Januari 2016 :Pengiriman dan Seleksi Awal Materi Blog
  • 1 – 15 Februari 2016           : Penilaian tahap ke-1 untuk memperoleh 30 besar
  • 16 – 28 Februari 2016        : Penilaian tahap ke-2 untuk memperoleh 10 besar
  • 1 – 15 Maret 2016                 : Penilaian Final
  • 16 – 31 Maret 2016             : Pengumuman pemenang
  • 1 – 15 April 2016                 : Penyerahan hadiah lomba

 

 

KONTAK PENYELENGGARA

Penyelenggara event Kontes Blog Muslim ke-4 ini adalah Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja yang dapat dihubungi melalui email ppm.aswaja@gmail.com atau dapat mengetahui profil kami di www.ppmaswaja.org.

 

DEWAN JURI

  • JURI FINAL
    • KH Drs. Masduki Baidlowi, M.Pd (MUI)
    • DR. HM. Asrorun Ni’am Sholeh, MA (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)
    • DR. Agus Zainal Arifin, M.Kom
    • Juri Ardiantoro, M.Si, Ph.D (PBNU)
    • Nur Hidayat, S.Ag
  • JURI SELEKSI AWAL dan PENILAIAN TAHAP 1 & 2
    • Hari Usmayadi, M.Kom, MM
    • HM. Hasan Chabibie, ST, M.Si
    • Abdulloh Hamid, M.Pd
    • Ahmad Khoirul Anam, M.Sy
    • Sholahuddin, SFil, I
    • Ayi Fahmi, S.Psi
    • Khayun Ahmad Noer, S.Pdi
    • Mohammad Dawud, S.Sos

 

SPONSOR

indihome

 

negakomsripalaraja

 

 

PENDUKUNG

MUI      kpai    pbnu

 

 

banner-kbm4

Please like & share:

Nominator 10 Karya Terbaik Kontes Blog Muslim Ke-3

Posted on Updated on

Pengumuman Nominator 10 Karya Terbaik

Kontes Blog Muslim Ke-3

DAFTAR KARYA KONTES BLOG MUSLIM KE-3
Kandidat 10 Karya Terbaik
No Urut Judul Tanggal Terbit Penulis
1 Moral Remaja Sekarang dan Islam 11-Dec-14 alfasemua
2 Tawaran Revolusi Kurikulum Pendidikan “Pesantren Friendly” 28-Dec-14 Ahmad Budairi
3 Penyimpangan Moral Remaja, Penyebab, dan Solusinya 04-Jan-15 herupurnomo
4 Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki) sebagai Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia 14-Jan-15 Nur Adila Qibtiyah
5 Pemuda Antara Kenyataan dan Harapan: Perilaku Kerusakan Moral Pemuda Masa Kini 14-Jan-15 Rizky Chairani
6 Urgensi Pendidikan Moral, Pendekatan Agama dan Keluarga, dan Penerapan Teknologi Informasi Tepat Guna Sebagai Upaya Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda Indonesia 16-Jan-15 Yose Rizal Triarto
7 Dibilang Moralnya Merosot, Inilah Pendapat Saya Sebagai Salah Satu Pemuda Yang Kecanduan Internet 16-Jan-15 waluyo
8 Pemakluman Lingkungan yang ‘ Kebablasan’ 20-Jan-15 Rahmi Isriana
9 Penguatan Keluarga Sebagai Pondasi Perbaikan Moral Generasi Muda 21-Jan-15 Diah Kusumastuti
10 Kita Yang Berantas Mereka, Atau Mereka yang Akan Binasakan Kita! 21-Jan-15 supangkat

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Penonton yang ‘baik’? Monoton

Posted on Updated on

Penonton ‘yang Baik’? Monoton.

Ami Kurnia Dayanti~ (Amikurnia18@gmail.com)

“Berpangkuh tangan atau turun tangan? Menjadi penonton atau pemain? Pilihanmu, menentukan hidupmu. Sebelum, hidupmu ditentukan oleh pilihan yang ada.

Bergerak atau tergantikan, itu harga matinya.”

Wahai para pemuda generasi mendatang, sadarkah bahwa kita tengah dijajah dengan cara halus namun menusuk? Karena sejatinya kejahatan terstruktur akan mengalahkan kebaikan yang ada.

Dewasa ini selera dan trend kaula muda bergeser menuju budaya barat. Tak menampik, perubahan ini pun juga nampak secara fisik ataupun psikis dan mental generasi muda. Mulai dari gaya berpakaian, cara bertutur sapa dan pola pikir yang sedikit-demi-sedikit berbau budaya barat. Menjamurnya trend ala korea pun juga mengambil sebagian peran dalam berbusana. Wanita yang sebaiknya terbalut busana panjang, longgar dan tebal –nontransparan, kini bak patung yang tengah dipertontonkan pada khalayak umum dengan baju minim bahan. Pria pun tak ketinggalan, alih-alih bergaya mengikuti trend, yang ada malah bergaya sesukanya dan cenderung urakan, tidak tertata rapih.

Contoh kasusnya banyak disekitar kita, banyak wanita pun dengan pria menggunakan pakaian ala barat atau menggunakan pakaian yang mirip dengan idolanya yang marak dijual di online shop, pria bertindik, wanita menggunakan celana pendek atau ketat, seperti berubahah menjadi hal yang lumrah. Inikah peran pemuda bangsa sebagai agent of change? Inikah perubahan yang dimaksud disini?

Modernisasi memang harus! Mengikuti mobilitas global yang semakin merambah itu kebutuhan. Tak ada yang melarang. Namun, seberapa kuat saringan yang ada dalam diri kita? Itulah pertanyaannya. Sebagai generasi muda, banyak yang hanya mengikuti trend ke-kini-an tanpa mengolah info yang ada. Seperti anak kecil yang selalu ‘disuapin’ ketika hendak makan. Haus akan informasi itu memang bagus, dan harus. Itulah gunanya pemuda bangsa, haus akan informasi dan ide-ide kreatif baru, kemudian menciptakan sebuah karya, itulah peran pemuda sebagai agen perubahan.

Banyak dari anak muda kini hanya menjadi penonton yang baik, duduk manis dipinggir lapangan dan menggerutui apa yang terjadi dalam area pertandingan. Sementara mereka-mereka yang terjun dilapangan membuat gebrakan-gebrakan yang mengejutkan bagi si-penonton. Haruskah selalu anak muda hanya diam dan menunggu perubahan yang terjadi tanpa melakukan apapun? Ketika hasil telah tercetak haruskan anak muda selalu menikmatinya saja tanpa ada upaya merubah?

Trend memang banyak bergeser, namun jiwa menjadi pemain tidaklah boleh surut dengan gerusan ombak globalisasi. Peran pemuda muslim yang nyata, membuat perubahan berarti, berkualitas. Karena menjadi penonton yang baik itu tidaklah baik. Peran pemerintah, instansi terkait dan juga stakeholder lainnya dibutuhkan disini. Jika banyak kaula muda yang mengganti cara berbusananya, maka keluarkan trend baru yang islami, ciptakan, cetak generasi rabbani minimal dengan busananya terlebih dahulu. Jangan hanya menikmati trend busana saat ini, tapi ambil bagian didalamnya, buat perubahan dengan ikut menciptakan trend yang lebih relevan dengan budaya islam. Kembangkan ide-ide kreatif yang fresh dengan busana islami, pengembangannya dapat dilakukan dengan menjual baju-baju tersebut dengan online, pemerintah pun sebaiknya juga ikut membantu dengan memberikan batasan produk-produk yang boleh dipasarkan, luncurkan produk kreatif yang modis namun islamis, seperti hijab modern namun tetap syar’i.

Kreatif adalah tuntutan kini, terlebih kita tengah memasuki era baru di tahun 2015 ini, ada MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Dimana benih benih kreatifitas dari anak muda sangat diperlukan untuk ikut bersaing dalam MEA, bukan hanya duduk manis menjadi penonton dan menikmati karya orang lain. Minimal, menggunakan karya sendiri untuk diri sendiri, menggunakan produk dalam negeri dan mencintainya.

Masuknya budaya barat, korea dan sebagainya memang lebih kurang telah merubah tatanan berbusana yang sudah ada. Namun, dari sana kita bisa mengembangkannya dengan ide kreatif, kita bisa menginovasikannya menjadi lebih agamis dan layak dikenakan. Bila generasi muda punya banyak ide-ide unik seperti membuat rok non transparan, rok bolak-balik, baju panjang bolak-balik, kerudung tebal dan panjang yang juga bolak-balik, kerudung penuh motif dengan warna cerah untuk menarik minat berhijab, maka ide-ide inilah yang harus dikembangkan. Dukungan dari semua pihak agar kaum muda pun mampu berkarya dan mandiri dengan menghasilkan uang sendiri dari produk-produk yang mereka ciptakan ini sangat dibutuhkan.

Pemerintah pusat atau daerah bisa ikut berpartsisipasi dengan menyediakan pasar khusus busana islami dengan syarat pemilik merupakan kaum muda yang masih produktif seperti pelajar atau mahasiswa dengan harga sewa toko yang cukup murah untuk menyokong perekonomian kaum muda. Stakeholder seperti lembaga-lembaga sosial atau instansi terkait pun mampu membantu dengan mengadakan acara-acara pertemuan kaum muda untuk saling bertemu dan bertukar ide, diskusi kecil dengan tema-tema islami terkini yang diangkat. Pameran-pameran busana islami pun juga dapat dijadikan solusi inovatif dalam menarik minat masyarakat terhadap busana islami. Kerja sama pemerintah-instansi-pemuda dalam menyelenggarakan ‘bulan busana islami’ di departement store di Indonesia dapat dijadikan tumpuan dalam memperkenalkan karya pemuda kepada masyarakat. Kerja sama pemerintah-instansi-pemuda lainnya dalam menyokong ekspansi penggunaan produk busana islami modern ini sa;ah satunya dengan mengadakan siaran tentang produk islami yang tengah trend saat ini di televisi, ataupun media elektronik lainnya, pun juga dengan media cetak seperti koran atau majalah juga dapat dibuatkan kolam khusus tentang busana islami trendi yang tengah populer.

Solusi solutif lainnya dalam memasyarakatkan busana islamis namun modern kepada masyarakat adalah dengan pengembangan sistem online shop yang kini banyak dipilih pemuda dalam mempromosikan produknya, dibuat sistem online shop utama untuk promo produk busana islami, dengan target pasar minimal untuk remaja -penduduk lokal. Islam Cloth Corner dalam mall atau departement store seluruh Indonesia bila mampu terapkan akan meningkatkan nama busana islami yang kini tengah tergerus arus globalisasi. Pembuatan desa islamis, dimana merupakan perkumpulan penduduk yang produktif dalam menghasilkan busana islami layaknya kampung inggris di Pare.

Apabila pemuda telah produktif, salah satunya dengan menciptakan karya-karya busana islamis modern. Produk-produk kreatif pemuda ini yang masih banyak dirintis pada level home industry, sedikit-sedikit akan meningkatkan devisa bagi negara. Lokalisasi karya busana islamis yang terus gencar dilakukan, penggunaan media sosial dalam mengencangkan publikasi produk dapat merambah ke Nasional pemasaran produknya. Terlebih saat ini sudah memasuki era baru, dengan MEA, seakan tidak ada sekat atau batasan-batasan antar negara, publikasi di internet merupakan senjata utama. Apabila produk-produk lokal pemuda sudah kuat, maka insyaAllah pemuda akan siap bersaing dalam MEA 2015. Pemuda Indonesia bukan lagi hanya seorang penonton yang baik, namun menjadi pemain yang baik dalam MEA 2015 dengan memperkenalkan produk lokal busana islami yang modern dan trendi karya pemuda bangsa. Tetap syar’i namun mampu tampil modern.

Hidup Indoensia ku! Majulah, bergeraklah wahai generasi Rabbani!

 

 

www.muslimedianews.com

www.cyberdakwah.com

www.piss-ktb.com

Please like & share: