Lomba Blog’ Degradasi Moral Remaja Sebagai Penerus Bangsa

[Karya KBM3] Degradasi Moral Remaja sebagai Penerus Bangsa

Posted on Updated on

DEGRADASI MORAL REMAJA SEBAGAI PENERUS BANGSA

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi,tubuh,minat,pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. (Hurlock,1998)

Sesuai keterangan Hurlock yang di kutip dari http://konselingpejambon.blogspot.com/2012/10/agenda-kegiatan-pik-r-tentang-miras-dan.html masa remaja merupakan masa transisi yaitu suatu fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan yang matang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan  ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988)di kutip dari http://guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com/.  Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Pada kisaran usia ini banyak orang yang mengatakan para remaja ini mengalami masa-masa “Labil”, kelabilan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi remaja ini di tandai dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa di jawab secara rasional oleh diri mereka sendiri. Memang pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul secara alamiah terkadang sering sekali mengganggu kehidupan kita sebagai remaja pemula, bahkan saya sendiri sewaktu duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama juga pernah merasa terganggu dengan pertanyaan yang secara autodidak muncul begitu saja, pertanyaan saya cukup klasik pada waktu itu yaitu tentang “siapa sebenarnya diriku ini dan apa tujuanku hidup di dunia ini ?” dan guru psikologi saya waktu itu menjawab dengan singkat “hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaanmu itu.” Jawaban itu sentak membuat saya merasa bingung dan tak bisa saya terima dengan akal sehat, bagi saya mana mungkin  menunggu jawaban yang belum pasti, saya ingin jawaban yang pasti dan sesuai dengan keinginan hati saya.

Sama  halnya dengan  remaja-remaja lain pada umumnya, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui jawaban yang pasti dan akan merasa tertantang apabila mereka di hadapkan oleh sesuatu yang baru. “ingin coba-coba” merupakan suatu bentuk pembuktian dari adanya rasa keingintahuan kuat akan jawaban terhadap pertanyaan yang telah menyelubungi diri mereka.

Kata “ingin coba-coba” terkesan memberikan nilai negative oleh kebanyakan orang terutama bagi remaja itu sendiri,  apabila  terlanjur melakukannya mereka dapat terjebak dan terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan. Keingintahuan yang di dasari dengan kata “coba-coba” inilah yang sering kali memperkenalkan para remaja yang biasa di sebut sebagai anak ABG  (Anak Baru Gedhe) ini mengikuti tindakan dan perbuatan teman atau orang lain yang tidak layak untuk di jadikan contoh dan panutan bagi diri mereka.

Sejatinya dapat lah kita lihat fenomena-fenomena ganjal yang sering terungkap pada sebuah media massa maupun social yang memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan social yang sering di lakukan oleh para remaja di era globalisasi ini, dari perbuatan yang masih bisa di maklumi sampai perbuatan criminal yang  melanggar hokum agama dan Negara. Perbuatan yang masih dapat di maklumi oleh sebagian orang  Seperti halnya membolos sekolah, dan kebut-kebutan di jalan raya sementara perbuatan yang melanggar norma sampai di luar batas kewajaran masyarakat seperti : menonton video porno, melakukan hubungan pra nikah atau free sex, paccaran yang berlebihan,penyalagunaan narkotika, tawuran dan membentuk kelompok geng motor.

Saat di Tanya apa yang melatar belakangi para remaja melakukan tindakan yang kurang beretika di mata masyarakat di era globalisasi semacam ini?

Banyak faktor yang melatarbelakangi kemerosotan moral remaja di zaman modern seperti sekarang ini. Seperti halnya:

  1. Factor Internal
  2. Psikologi Pribadi

 

mental remaja yang masih tergolong labil yang didukung keingintahuan yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan. Contoh nyata dari kasus ini adalah minum-minuman beralkohol dan pemakaian obat-obatan terlarang atau Narkotika, kebanyakan remaja mengira dengan meminum alkohol dan Narkotika dapat memberikan sensasi yang berbeda, saat mengkonsumsinya tubuh akan terasa ringan,rileks dan nyaman seketika. Tanpa mereka tau secara pasti pengaruh buruk yang telah di dapatkan setelah mengkonsumsi dua racun mematikan itu. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.  Sedangkan Menurut Smith & Anderson (dalam Fagan,2006),  kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:

 

  1. Keluarga

Rasulullah bersabda:

  1. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan perilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.Begitupun dengan kerusakan moral pada remaja juga tidak terlepas dari kondisi dan suasana keluarga. Keadaan keluarga yang carut-marut dapat memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi anak yang sedang/sudah menginjak masa remaja. Karena, ketika mereka tidak merasakan ketenangan dan kedamaian dalam lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mencarinya ditempat lain. Sebagai contoh; pertengkaran antara ayah dan ibu yang terjadi, secara otomatis akan memberikan pelajaran kekerasan kepada seorang anak. Bukan hanya itu, kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak adalah juga merupakan faktor penyebab moral anaknya bejat.

 

 

Factor Eksternal

  1. Lingkungan Masyarakat

Kondisi lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter moral generasi muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan tempat dia hidup dan berkembang. Pepatah arab mengatakan “al insan ibnu biatihi”. Lingkungan yang sudah penuh dengan tindakan-tindakan amoral, secara otomatis akan melahirkan generasi yang durjana. Karena lingkungan adalah  suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang mempunyai peran yang lebih kompleks dan riil.

Pengaruh lingkungan memberikan porsi tersendiri terhadap pola tingkah laku remaja, meskipun tidak serta merta  secara total langsung merubah perilakunya akan tetapi lambat laun pola tingkah laku remaja akan terbawa arus lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh dalam sebuah lingkungan masyarakatnya suka pergi ke klub malam atau diskotik dengan pakaian yang minim dan kurang beretika

  1. Teman Pergaulan

Perilaku seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Pepatah arab mengatakan, yang artinya: ” dekat penjual minyak wangi, akan ikut bau wangi, sedangkan dekat pandai besi akan ikut bau asap”. Menurut beberapa psikolog, remaja itu cenderung hidup berkelompok (geng) dan selalu ingin diakui identitas kelompoknya di mata orang lain. Oleh sebab itu, sikap perilaku yang muncul diantara mereka itu sulit untuk dilihat perbedaannya. Tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dunia hitam, karena pengaruh teman pergaulannya. Karena takut dikucilkan dari kelompok/gengnya, maka seorang remaja cenderung menurut saja dengan segala tindak-tanduk yang sudah menjadi konsensus anggota geng tanpa berfikir lagi plus-minusnya. (dikutip dari: http://rururudididi.blogspot.com/ dan olahan pemikiran penulis )

Terkadang dalam dunia pergaulan remaja di era globalisasi kini sering menonjolkan adanya rasa solidaritas antar sesama anggota yang mengenal prinsip “sakit satu sakit semua” yang bermakna siapa pun yang berani menyakiti anggota kelompok mereka, maka satu kelompok berhak untuk membalasnya. Prinsip inilah yang menjadikan kelompok atau geng menjadi bringas dan bertindak semaunya hingga melanggar hukum. Contoh nyata dari kasus ini adalah terbentuknya geng motor dan tawuran remaja yang sering kali melanggar norma-norma sosial dan ketertiban umum yang ada di masyarakat daerah setempat. Kadang saking kejamnya mereka sampai membawa senjata tajam untuk melukai lawan mereka.

  1. Pengaruh Media dan Westernisasi

Kemajuan teknologi yang semakin pesat di era globalisasi seperti sekarang ini tanpa adanya filter yang memadai, memberi kemudahan bagi para remaja untuk mengakses segala macam bentuk informasi baik berupa tulisan,gambar,video maupun film secara bebas dan instan. Bukannya melarang atau membatasi perkembangan teknologi yang ada, namun adanya kecanggihan teknologi ini sering kali memberikan dampak psikologi yang kurang baik bagi para remaja untuk bisa meniru adegan-adegan tidak beretika yang pernah di lihat sebelumya pada dunia nyata. Di tambah lagi pengaruh budaya barat yang menyebabkan para generasi muda bangsa ini menjadi tidak mengenal tata krama dan sopan santun dalam berbusana. Tidak hanya itu berkembangnya faham feminisme di dunia barat mengakibatkan pola tingkah laku remaja berubah menjadi hedonisme.

 

BERIKUT ADALAH SOLUSI YANG BISA DI TERAPKAN UNTUK MENGATASI KERUSAKAN MORAL REMAJA

 

  1.       Membentuk Lingkungan yang Baik.

Sebagaimana disebutkan di atas lingkungan merupakan factor terpenting yang  mempengaruhi perilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang baik (dari segi akhlak dan iman), memilih teman yang dekat dengan sang Khalik (Tuhan), menghindari tempat-tempat maksiat yang berdekatan dengan tempat tinggal. dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakukan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakukan hal yang negative akan sedikit berkurang.

 

  1. Pembinaan dalam Keluarga.

Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak terlebih lagi terhadap seorang anak perempuan, dimana dalam dunia pergaulan di zaman modern pembinaan dan penanaman nilai agama sangat di perlukan sebagai bentuk pertahanan dari godaan kerusakan akidah dan akhlaq, sesuai dengan hadist Nabi Muhammad yang artinya:

-Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga. (di kutip: http://www.piss-ktb.com/2014/07/3238-nafaqoh-orang-tua-ketika-anaknya.html)

jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, tempat berlindung bagi seorang anak dalam mencurahkan semua masalah yang tengah membelitnya. Sejatinya keluarga bisa memberikan bekal pendidikan moral yang baik dan menjadi suri tauladan terbaik bagi anak mereka sebelum di lepas di lingkungan yang bebas. Memberikan contoh awal  seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.

 

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, dalam sekolahlah pendidikan karakter remaja di tanamkan dengan baik. Interkasi antara seorang guru dan murid akan terjalin secara harmonis, dan dari tempat inilah pemantapan psikologi,karakter dan kepemimpinan seorang remaja akan terbentuk secara efektif melalui kegiatan sekolah ataupun ekstrakulikuler untuk penyaluran bakat dan perbaikan diri remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.

(dikutip: http://rururudididi.blogspot.com dan olahan pemikiran penulis )

 

  1. Pendalaman Agama

Dalam sendi-sendi kehidupan yang tidak hanya bisa mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) namun, Penanaman dan pendalaman nilai-nilai agama harus senantiasa di tanamkan dalam diri remaja, hal ini berhubungan dengan tindakan dan perilaku motorik remaja dalam bergaul. Apabila penanaman nilai agama lemah maka akan mudah untuk terpengaruh ke dalam dunia hitam. Penanaman nilai-nilai agama dapat di terapkan dalam segala bidang kehidupan seperti: keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Pada masa remaja dengan rentang usia 12- 18 tahun, yang kebanyakan waktu mereka di habiskan belajar dan kegiatan di sekolah, memerlukan adanya sarana untuk peningkatan iman dan taqwa (IMTAQ)  untuk membentengi diri mereka dari kemaksiatan. Yang bisa di tempuh dengan beberapa cara seperti:

  1. Aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang kerohanian agama
  2. Senantiasa mendatangi tempat ibadah atau masjid untuk menjalankan ibadah
  3. Sering melakukan kajian dalam beberapa aktivitas di sekolah.

Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam QS. Al-isra’ : 9
Artinya : Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (di kutip: http://kajianislammoderen.blogspot.com/2010/03/peranan-dakwah-sekolah-dalam-mengatasi.html)

Dengan memperkuat penanaman agama dalam diri seorang remaja di harapkan tidak terjerumus dalam penyimpangan sosial yang sering kali di lakukan oleh remaja di zaman modern sekarang ini.

Remaja sejatinya merupakan asset penggerak bangsa yang akan memegang tanduk kepemimpinan  negara ini  di masa yang akan datang. Sesungguhnya Allah berfirman dalam Alquran

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya: “Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yg akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa-apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (Sumber: http://www.muslimedianews.com/2015/01/islam-nusantara-tuhan-menggunakan-kata.html)
menjadi seorang “Khalifah” itu lah sebutan remaja sebagai pemimpin masa depan bangsa ini. Dan  itulah sebabnya para kaum muda ini mendapat tiga predikat penting yaitu sebagai agent of change, social controll, dan iron stock, sudah sepantasnya moral dan perilaku para remaja ini senantiasa di jaga demi terwujudnya suatu bangsa yang tentram,sejahtera dan bermartabat. Dimana akhlak,IMTAQ dan IPTEQ  dapat selaras dengan kehidupan, maka cita-cita bangsa Indonesia yang tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945 akan terealisasi dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh  kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS. Ali Imran: 110). Ayat di atas sangat jelas menyiratkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik di dunia. Karena umat Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya senantiasa berbuat terbaik bagi dirinya, lingkungannya, dan sesama. (dikutip dari:http://cyberdakwah.com/2013/06/menanamkan-akhlakul-karimah-pada remaja-islam/).

 

Dalam sejarah kemerdekaan negara Republik Indonesia, remaja atau pemuda telah ikut andil dalam menciptakan sebuah cita-cita bangsa, yaitu memerdekakan bangsa Indonesia. Teks sumpah pemuda menjadi bukti eksistensi pemuda Indonesia. Demikianlah Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 oktober 1928 dan sudah memasuki usia 86 tahun. Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa suatu bangsa menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya.

Peran pemuda menduduki posisi penting dalam perkembangan suatu bangsa, merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini di masa yang akan datang. Merealisasikan mimpi dan cita-cita bangsa yang belum terwujud saat ini, dan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan bermartabat sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

 

 

REFERENSI

  1. konselingpejambon.blogspot.com
  2. guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com
  3. blogspot.com/
  4. piss-ktb.com
  5. blogspot.com
  6. cyberdakwah.com
  7. muslimedianews.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Moral Generasi Bangsa yang Semakin Memprihatinkan

Posted on Updated on

MORAL GENERASI BANGSA YANG SEMAKIN MEMPRIHATINKAN

A. Pendahuluan
Berbicara soal moral, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa makna dari moral. Istilah moral berasal dari bahasa Latin yakni “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/niali-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Sebagai modal bangsa tentu para pemuda diwajibkan untuk memiliki moral dan etika yang baik. Ilmu serta akhlaq yang terpuji sangatlah penting sebagai bekal untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Di tangan mereka masa depan bangsa ini ditentukan, namun sangat disayangkan jika saat ini moral para generasi muda yang menjadi harapan pun mulai memprihatinkan. Dapat dilihat dari banyaknya kasus penyimpangan yang dilakukan oleh para remaja dan pemuda. Banyak sekali ditemukan kasus-kasus yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kita, caontohnya seperti mabuk-mabukan, judi, gengster, pergaulan bebas, dan masih banyak yang lainnya. Jika hal ini terus dibiarkan, bagaimanakah nasib bangsa kita kelak?
Kita ketahui, jika Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia, dengan penganut agama islam terbanyak pula. Tentu sebagian negara lain akan beranggapan jika Indonesia adalah negara yang kuat karena memiliki penduduk yang berkualitas. Apalagi Islam adalah sebuah agama yang paling berpengaruh. Islam mengajarkan dan menuntun manusia untuk berperilaku dan berbuat kebaikan, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk. Semuanya sudah jelas tertera di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjadi pedoman utama bagi semua kaum muslimin di dunia. Islam yang selalu mengajarkan kebaikan dan kebenaran, seharusnya dapat menghasilkan generasi yang hebat. Namun lemahnya iman pemuda saat ini menjadi kendala utama yang membuat mereka mudah terjerumus untuk melakukan penyimpangan. Tak heran banyak sekali kalangan dari non islam yang ingin menghancurkan dan memecah belah pemuda kita.

B. Contoh Kasus Penyimpangan
Berikut beberapa contoh sederhana yang dapat dilihat dari lingungan sekitar atau dari banyaknya kasus yang ada.
1. Penyimpangan dalam keluarga
Disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 23 dan 24 yang berbunyi :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku di waktu kecil’.” (QS. Al-Isra : 23-24)
Dari potongan ayat di atas kita dapat mengetahui, jika kita harus berbakti, menghormati, serta merendahkan diri dihadapan orang tua, sehingga dapat terjalin hubungan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Namun saat ini banyak sekali anak-anak yang durhaka kepada orang tua. Dapat dilihat dari beberapa pemberitaan media massa tentang seorang anak yang melaporkan orang tuanya sendiri kepada polisi hanya karena masalah sepele. Seorang anak lebih mementingkan urusan kesenangannya bersama kawan-kawan di luar dari pada berbakti dan mengutamakan kebahagiaan kedua orang tuanya sendiri. Memaksakan kehendak yang diinginkan jika tidak, mereka mengancam akan pergi, bunuh diri, atau semacamnya. Jika seorang anak sudah berani membentak, mencaci, bahkan mengancam orang tuanya sendiri maka bisa dipastikan jika anak tersebut tak bermoral, lemah iman dan rendah akhlaqnya. Seperti inikah modal penerus bangsa masa depan, yang tak bisa menghargai keluarga dan justru menjatuhkan keluarganya sendiri?
2. Penyimpangan dalam Lingkungan Masyarakat
Lingkungan merupakan bagian penting pula dalam pembentukan moral seorang anak. Dari lingkungan sekitar setiap anak belajar bersosialisasi, mengamati segala bentuk perubahan, perbedaan, serta keadaan di sekelilingnya. Lalu penyimpangan apa yang sering terjadi di dalam lingkungan?
Sekarang ini banyak sekali ditemukan tempat-tempat maksiat. Seperti tempat perjudian, lokalisasi, dan hampir dengan mudah kita bisa menemukan tempat yang menyediakan minuman keras. Bisa dipastikan banyak sekali para pemuda yang akan terjerumus kedalamnya. Sekarang ini anak-anak SMA maupun mahasiswa, mulai terbiasa dengan mengkonsumsi miras, seakan sudah menjadi hal yang umum dan biasa. Dalam surat al-Maidah ayat 90-91 yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr (minuman keras), judi, berhala, dan mengundi nasib adalah najis yang merupakan perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran meminum khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kalian (dari mengerjakan perbuatan itu).”
Ayat di atas menjelaskan, jika minuman keras, berjudi, menyembah selain Allah, dan mengundi nasib merupakan perbuatan yang Allah benci. Hanya dari perjudian dapat menimbulkan banyak sekali madhorot. Perkelahian antar sesama, pencurian, hilangnya akal sehat, perzinaan, memiskinkan keadaan, dan lain sebagainya. Bahkan salah satu sahabat Nabi yakni Usman RA mengatakan jika minuman keras adalah induk dari segala perbuatan keji.
Rasulullah SAW bersabda: “Ada 4 golongan manusia yang tidak dapat mencium bau surga, padahal baunya bisa tercium dari jarak (perjalanan) 500 tahun, yaitu:
1) Orang kikir
2) Orang yang suka menyebut-nyebut shadaqohnya
3) Orang yang selalu minum minuman keras
4) Orang yang durhaka kepada orang tuanya.
Selain itu Ibnu Mas’ud RA menyebutkan ada 10 pihak yang akan mendapatkan madhorot dari minuman keras, diantaranya :
1) Orang yang memerasnya.
2) Orang yang meminta diperaskan.
3) Orang yang memberikan.
4) Orang yang meminumnya.
5) Orang yang menjual.
6) Orang yang membeli.
7) Orang yang membawakannya.
8) Orang yang dibawakan.
9) Orang yang menjadikan tempat (toko) menanamnya.
10) Orang yang menjualkannya.

3. Penyimpangan dalam Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat untuk menuntut ilmu, di dalam sekolah anak dapat mempelajari apa yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun di lingkungan bermainnya. Seorang anak akan menghabiskan sebagian waktunya untuk sekolah. Mereka dapat menemukan banyak teman dengan bermacam-macam karakter yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini jika tidak diikuti dengan proses seleksi yang baik, akan membawa dampak yang negatif bagi seorang individu seorang anak. Dari teman, seorang anak akan sangat mudah terpengaruhi. Belakangan ini banyak sekali terjadi penyimpangan yang terjadi di dalam area sekolah, seperti perkelahian antar teman, tawuran, penindasan terhadap yang lemah, pelecehan seksual, bahkan sampai pembunuhan. Sebuah hadits meriwayatkan
“Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehiduoan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu. (HR. Thabrani).”
Dari hadist di atas jelas menerangkan pentingnya ilmu untuk menjalani kehidupan baik di dunia maupun di akhirat dan sekolah adalah salah satu sarana untuk mendapatkan ilmu. Setiap pemimpin maupun yang dipimpin, ataupun setiap individu yang memimpin dirinya sendiri wajib memiliki ilmu serta pengetahuan yang luas. Namun semakin hari semakin banyak saja kasus penyimpangan yang justru terjadi di dalam lingkungan sekolah, yang seharusnya dijadikan tempat untuk mendapatkan ilmu. Dalam sebuah hadits Bukhari meriwayatkan :
“Perumpamaan apa yang aku bawa dari petunjuk dan ilmu adalah seperti air hujan yang banyak yang menyirami bumi, maka di antara bumi tersebut terdapat tanah yang subur, menyerap air lalu menumbuhkan rumput dan ilalang yang banyak. Dan di antaranya terdapat tanah yang kering yang dapat menahan air maka Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya sehingga mereka bisa minum darinya, mengairi tanaman dengannya dan bercocok tanam dengan airnya. Dan air hujan itu pun ada juga yang turun kepada tanah/lembah yang tandus, tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput-rumputan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan orang yang mengambil manfaat dengan apa yang aku bawa, maka ia mengetahui dan mengajarkan ilmunya kepada yang lainnya, dan perumpamaan orang yang tidak perhatian sama sekali dengan ilmu tersebut dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.”
Sehingga setiap pemuda harus memiliki ilmu, tanpa ilmu ia seperti terobang-ambing oleh perkembangan jaman yang semakin keras dan menuntut kemajuan. Seseorang yang tak berilmu hanya akan diperbudak oleh kebodohannya sendiri, sehingga ia akan sangat mudah untuk terjerumus dalam hal-hal negatif.

C. Faktor-faktor yang Menyebabkan terjadinya Penyimpangan
1. Kurangnya peran keluarga dalam tumbuh kembang seorang anak.
Keluarga merupakan bagian terpenting dari pembentukan moral dan akhlaq seorang anak. Kurangnya perhatian, kasih sayang serta pendidikan di dalam keluarga akan memberi dampak yang sangat buruk bagi anak. Orang tua yang terlalu sibuk dapat membuat seorang anak merasa kekurangan kasih sayang sehingga si anak akan mencari kesenangannya di luar lingkungan keluarga. Si anak akan merasa nyaman dan percaya kepada teman-temannya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Jika orang tua memiliki sikap masa bodoh dan tidak dapat mengawasi sepenuhnya bagaimana pergaulan anak di luar rumah, bagaimana teman-teman bergaulnya serta bagaimana lingkungan bermainnya. Maka besar kemungkinan si anak akan mendapatkan banyak pengaruh negatif dari luar. Ia akan melakukan banyak penyimpangan-penyimpangan sesuai perkembangan waktu, seperti mengonsumsi narkoba, seks bebas, kebut-kebutan, menjadi brandal atau pun mabuk-mabukan.
Selain kurangnya pengawasan, keluarga yang kurang harmonis juga dapat menjadi kendala terbentuknya moral yang tidak baik. Seorang anak yang sering melihat pertengkaran di dalam rumahnya akan membuat perkembangan psikologisnya terganggu, biasanya dia akan tumbuh menjadi seorang anak yang membrontak, keras dan mudah depresi. Banyak anak yang bermasalah dengan hidupnya karena tinggal dalam keluarga broken home, hingga banyak dari mereka memutuskan untuk bunuh diri atau hidup di dunia luar yang keras dan kejam.
2. Lingkungan yang tak sehat
Kita hidup dalam sebuah lingkungan bermasyarakat. Lingkungan akan mempengaruhi pembentukan karakter seorang anak. Lingkungan yang sehat dan baik tentu akan memberi dampak positif bagi seorang anak. Dari lingkungan mereka akan banyak belajar, jika yang dilihatnya setiap hari adalah orang-orang yang suka mabuk-mabukan, berjudi, ataupun berzina. Maka akan menutup kemungkinan kelak ia dewasa akan berperilaku sama seperti apa yang telah ia lihat sebelumnya. Pilihlah lingkungan yang baik demi masa depan perkembangan anak.
3. Pemilihan teman
Dalam bermain seorang anak juga harus dituntut untuk bisa memilah mana teman yang baik dan mana yang akan membawa dampak buruk baginya. Teman yang baik senantiasa akan mengingatkannya dalam hal-hal baik, begitu pula sebaliknya. Jika seorang anak berkawan dengan orang yang salah, maka dia akan terus diajak untuk bersikap, bertindak dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan temannya. Di sini peran keluarga juga kembali dibutuhkan untuk memberikan pengertian kepada seorang anak. Mana yang baik dan mana yang buruk untuknya.
4. Kurangnya pendidikan
Di sini pendidikan dibagi menjadi dua jenis, pendidikan umum dan pendidikan agama. Pertama kurangnya pendidikan umum yang diterimanya dalam masa belajar serta pada saat pencarian jati diri juga dapat mempengaruhi perilaku seorang anak. Kebanyakan seorang anak yang hanya lulusan SD atau SMP akan mudah dalam mengambil keputusan, mudah terpengaruhi, mudah percaya dan tak bisa berpikir jauh kedepan. Hingga saat mereka dewasa pun mereka akan kesusahan untuk menyesuaikan terhadap perkembangan jaman. Sampai saat ini rendahnya pendidikan menjadi faktor terjadinya tindak kejahatan di Indonesia. Contohnya pencurian, premanisme, perampokan, perjudian dan lain sebagainya.
Kedua pendidikan agama, orang tua juga harus mampu mengajarkan tentang ilmu agama untuk anak-anaknya. Penanaman ilmu agama sangatlah penting demi menciptakan generasi yang hebat. Sebisa mungkin sejak dini, bahkan dalam kandungan sekali pun seorang anak sudah diperkenalkan tentang agama. Kurangnya pemahaman agama juga berdapak buruk pada si anak saat dewasa nanti. Lemahnya iman serta aqidah seseorangan akan membuatnya mudah terjerumus dalam hal-hal maksiat. Mereka tak tau mana yang benar dan mana yang dilarang dalam agama. Mereka akan berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan rasa takut kepada Allah serta balasan apa yang bisa diterima kelak di akhirat, dalam pikirian mereka hanya mencari tahu bagaimana mendapatkan kesenangan dunia semata. Padahal tanpa agama sia-sialah hidup seseorang selama di dunia. Pepatah mengatakan “Barang siapa yang hanya mengejar urusan dunia, maka ia tak bisa mendapatkan kesenangan akhirat dan barang siapa yang mengejar urusan akhirat maka kesenangan dunia pun dia dapatkan.”
5. Kurangnya panutan hidup
Tidak adanya panutan hidup yang baik juga menjadi salah satu faktor terjadinya penyimpangan. Selain orang tua, pemuda juga butuh panutan atau idola yang baik. Apalagi masa muda ialah masa dimana mereka akan menemukan sosok baru sebagai idola, segala bentuk yang mereka lihat akan mereka tiru. Namun banyak sekali generasi muda yang salah dalam menjadikan panutan mereka. Sekarang ini banyak sekali yang mengidolakan artis baik dalam negeri maupun dari mancanegara. Mereka begitu mengagung-agungkan idola mereka, yang kebanyakan memiliki gaya hidup tak sehat. Ikut berpakainnya yang tak senonoh, hilangnya batasan antara laki-laki dengan perempuan, hidup bebas, dan lain sebagainya. Mereka rela meninggalkan kewajibannya sebagai umat beragama hanya untuk menonton konser atau memilih untuk berdesak-desakkan demi melihat idolanya itu, dan mereka akan menganggap acara-acara religius itu sangat membosankan. Jika hal tersebut di biarkan maka hidup mereka akan semakin tak terarah dan tenggelam dalam urusan duniawi saja.
6. Media sosial/Jejaring sosial yang tak sehat.
Siapa yang tak mengenal tentang media sosial, saat ini kita bisa menemukan beragam media sosial yang beragam.mulai dari facebook, twitter, instagram, you tube, dan lain-lain. Semua itu akan terus mengalami kemajuan sesuai perkembangan jaman, namun media sosial yang tak digunakan dengan baik juga dapat membuat rusaknya moral generasi muda. Belakangan ini banyak sekali ditemukannya penyimpangan yang disebabkan oleh media sosial terutama jejari sosial. Mulai dari kasus penipuan, pelecehan seksual, sampai penculikan. Seorang anak yang masih dalam masa pengawasan atau dalam masa pencarian jati diri harus mendapat bimbingan dari orang tua. Bahkan saat ini banyak sekali situs porno yang dapat dengan mudah di temukan dari internet. Website yang harusnya dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi pun disalah gunakan untuk perdagangan wanita, untuk menunjang bisnis haram seperti lokalisasi online. Selain itu tak sedikit pula game online yang menjadi kegemaran para remaja menyuguhi game-game yang tak senonoh, dan sangat mudah untuk merusak moral pemuda bangsa. Sangat disayangkan jika ada seorang anak yang hanya menghabiskan waktunya untuk melakukan aktifitas-aktifitas seperti itu.

D. Solusi
Adapun solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah banyaknya terjadi penyimpangan diantaranya :
1. Orang tua harus bisa memaksimalkan perannya dalam membina, mendidik, serta membentuk karakter seorang anak. Orang tua harus mampu menjadi panutan yang baik sehingga anak tau mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu penuhilah hak-hak seorang anak sesuai dengan kebutuhannya, seperti kasih sayang, perhatian, dan kebahagiaan. Jangan sampai seorang anak mencari kebahagiaannya sendiri di luar rumah, karena hal tersebut akan sangat mempengaruhi pola hidupnya kelak. Dan perlu diketahui jika orang tua adalah cerminan seorang anak, orang tua yang baik akan menghasilkan generasa yang baik, begitu pula sebaliknya. Orang tua yang tak bisa menjadi panutan baik akan menghasillkan generasi yang sama sepertinya.
2. Pendidikan sangatlah penting untuk menciptakan generasi yang hebat, selain pengetahuan umum seorang anak juga harus mendapatkan bekal ilmu agama yang cukup sehingga ia tidak mudah terpengaruh dalam pergaulan yang tak sehat. Moral remaja yang rusak cenderung disebabkan oleh pembentukan mental yang kosong. Ia tak memiliki pegangan hidup, serta landasan agama yang kuat. Seerorang yang berakhlaq mulia, pasti akan mampu menjadi pemimpin yang baik. Dia tidak akan melupakan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidupnya. Sehingga ilmu agama sangatlah penting untuk diajarkan sedini mungkin kepada seorang anak. Seseorang yang berakhlaq dapat menyelamatkan hidupnya sendiri serta orang-orang disekelilingnya dari bahaya fitnah setan yang selalu menjerumuskan anak-anak adam untuk berbuat maksiat.
“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya itu tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka” Hadits Riwayat Muslim.
3. Pilihlah lingkungan tempat tinggal yang sehat untuk membentuk karakter seseorang yang sehat pula. Selain mendapatkan contoh yang baik dari orang tua, anak juga butuh panutan yang baik dari lingkungannya. Karena apabila seseorang bergaul di lingkungan yang baik, maka akan timbul kepribadian yang baik. Apabila seseorang bergaul dalam kondisi lingkungan yang kurang baik, maka akan timbul kepribadian yang kurang baik juga.
4. Berhati-hatilah dalam memilih teman bergaul, karena biasanya seorang anak akan sangat mudah terpengaruhi oleh temannya sendiri, hal tersebut akan berdampak pada pembentukan etika, moral, dan akhlaq.
5. Manfaatkan media masa dengan sebaik mungkin, baik dari media cetak maupun media elektronik terutama yang berhubungan dengan media sosial serta internet. Selain itu pilihlah tontonan yang berkualitas dan mendidik.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share: