Mahasiswa Ujung Tombak Bangsa

[Karya KBM3] Mahasiswa Ujung Tombak Bangsa

Posted on Updated on

Generasi muda adalah generasi penerus serta menjadi ujung tombak bangsa. Generasi muda merupakan harapan untuk menggantikan mereka yang sudah tua. Namun di era globalisasi ini, begitu banyak persoalan bangsa terkait rusaknya moral anak muda. Padahal, Rasulullah telah mewasiatkan kepada umatnya bahwa kokohnya kehidupan bangsa tergantung kepada moral atau akhlak generasi muda yang ada dalam bangsa itu. Mahasiswalah salah satunya yang memiliki potensi besar juga mempunyai tantangan dan tanggung jawab untuk menjawab hal itu. Sebab, mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan bangsa. Namun sangat disayangkan dari sekian banyak prestasi yang ditorehkan oleh mahasiswa demi kemajuan bangsa, ada pula kejadian memprihatinkan yang begitu menyedot perhatian masyarakat, beberapa diantaranya:

1. Tawuran Antar Mahasiswa

Tak jarang tawuran mahasiswa seperti video diatas seolah telah menjadi bagian dari kehidupan kampus. Sungguh ironis memang karena tindakan tidak terpuji ini dipraktekkan di lingkungan yang dihuni oleh insan-insan intelektual. Fenomena ini kurang lebihnya banyak dipengaruhi oleh sikap solidaritas yang dijunjung tinggi oleh mahasiswa. Contohnya saja tawuran antar suku yang dikutip dari salah satu berita pada tanggal 18 Mei 2012 di www.kompas.com:

Tawuran mahasiswa antarsuku itu sudah sering terjadi di Makassar, terlebih di area sejumlah kampus yang dikarenakan dendam lama. Hanya persoalan sepele, tawuran mahasiswa antarkedua suku ini pun kembali pecah. Seorang mahasiswa Palopo dipukul oleh mahasiswa asal Kabupaten Bulukumba. Mahasiswa Palopo yang dipukul, kemudian memanggil rekan-rekannya dan melakukan penyerangan terhadap mahasiswa Bulukumba. Aksi balasan pun terjadi beberapa kali  di luar kampus hingga ke sekretariat mahasiswa kerukunan kedua suku.

Akibat dari fenomena tersebut, timbullah pengkotak-kotakan mahasiswa. Jika terjadi perkelahian antar dua orang dengan dua fakultas berbeda atau dua suku berbeda misalnya, kemudian ditanya siapa yang melakukan perkelahian, maka jawaban yang mengemuka adalah “Anak fakultas A” atau “Anak suku B” misalnya. Padahal, yang menjadi jawaban seharusnya adalah “Yang berkelahi itu adalah anak sesama kampus A, dan sebagainya”. Konflik kekerasan seperti tawuran dalam kampus adalah suatu realitas sosial, sehingga perlu dilakukan pencegahan agar tidak berlanjut. Salah satu bentuk penanggulangannnya adalah dengan memahami akar permasalahan dari konflik tersebut dan menyadari secara penuh bahwa tindakan tersebut sangat tidak baik serta dapat merugikan banyak pihak.

2. Pembullyan Antara Senior Terhadap Junior

Berdasarkan video diatas, peristiwa tersebut termasuk salah satu bentuk kerusakan moral mahasiswa, karena mahasiswa yang seharusnya secara menyeluruh mendapatkan pengajaran dan pendidikan di kampusnya, namun malah mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari seniornya sehingga mengakibatkan nyawa terenggut. Pada dasarnya, membully merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain secara fisik maupun mental. Pembullyan di kampus acap kali terjadi karena didasari oleh para mahasiswa yang menyalah artikan kata senioritas. Dimana mahasiswa tua mempunyai keinginan untuk terus didahulukan mengingat merekalah yang memiliki pangkat tertinggi. Kejadian ini juga banyak terjadi karena dipengaruhi oleh sifat dendam yang sudah menjadi tradisi. Karena rasa marah dan jengkel di hati sang junior terhadap perlakuan seniornya, maka ia berusaha menyalurkan kemarahan kepada juniornya di kemudian hari. Begitulah seterusnya hingga kedendaman akan terus berlanjut. Seharusnya di dalam perguruan tinggi, mahasiswa dididik menjadi pemimpin yang luhur, baik, cerdas, pandai, dan bermoral karena tujuan tujuan melanjutkan ke perguruan tinggi adalah untuk mencari ilmu dan mengasah keterampilan yang kelak akan digunakan untuk bekal hidup di masa depan. Agar kasus kekerasan semacam ini tidak terulang kembali, seharusnya pengawasan ketat dan pemberian sanksi yang tegas perlu dilakukan untuk para pelajar, baik itu dari pihak sekolah maupun dari pemerintahan agar mereka takut untuk melakukannya.

3. Demo Anarkis Mahasiswa

Demo anarkis mahasiswa ini, tak jarang mengakibatkan penutupan jalan, gencatan senjata, rusaknya fasilitas publik dan lainnya. Sebagai pelajar, seharusnya mereka dapat menyampaikan kritik atau pendapat dengan cara yang baik sehingga ketertiban umum dapat terjaga. Hakikatnya memang itu adalah bentuk protes mereka kepada pemerintah. Namun yang dirugikan adalah masyarakat pengguna jalan yang tidak bersalah. Sesungguhnya merusak fasilitas umum tidak terlalu menyengsarakan pemerintah. Karena untuk mengganti fasilitas yang dirusak tadi, pemerintah menggunakan anggaran negara yang pemasukannya sebagian besar dari pajak yang dibayar oleh orang tua kita. Padahal seharusnya anggaran negara bisa digunakan untuk mensejahterakan rakyat seperti dengan memberikan tunjangan kepada masyarakat miskin misalnya. Memang kita tinggal di negara yang demokratis. Tapi cara yang dilakukan harus benar dan sesuai aturan. Sebab segala sesuatu kalau dilakukan dengan prosedur dan langkah yang baik dan benar, pasti hasilnya akan lebih memuaskan karena tidak akan membahayakan bagi diri kita maupun orang lain.

4. Penyalahgunaan Narkotika dan Minuman Keras

Dikutip dari berita pada tanggal 26 Agustus 2014 di www.republika.co.id:

Di kantin FISIP UI, bau ganja akan mulai merebak pada sore hari, yaitu sekitar pukul 16.00 WIB. Bau tersebut makin menyengat di pojok-pojok kantin. Penggunaannya semakin kentara pada Kamis dan Jumat malam. Biasanya, barang haram itu dibawa oleh salah satu mahasiswa atau alumni. Satu linting mariyuana diisap beramai-ramai. Pengguna yang lain tidak akan bertanya asal muasal narkoba yang mereka isap beramai-ramai itu kepada pembawanya. Mereka pun tak perlu membayarnya. Tidak hanya menggunakan narkoba, mereka juga mengonsumsi minuman keras (miras). Bir dan anggur merah menjadi teman untuk menghisap ganja. Sambil bernyanyi, mereka mengonsumsi narkoba.

Perilaku menyimpang seperti diatas tumbuh diantaranya karena kurang mendapatkan perhatian dari orang tua atau mungkin juga karena mendapat ajakan dari pemakai atau teman-temannya. Penyalahgunaannya berawal dari penawaran dari pengedar narkoba. Mula-mula hanya diberikan beberapa kali, dan setelah merasa ketergantungan, maka pengedar mulai menjualnya. Setelah saling membeli narkoba, maka pengedar akan menyuruh pembeli untuk mengajak teman-temannya yang lain. Tentunya, permulaannya terjadi karena mereka sudah biasa mengkonsumsi minuman keras. Sungguh miris jika fenomena ini terjadi di kehidupan mahasiswa. Sebab, hal ini mengakibatkan masa depan mereka menjadi hancur. Dimana pengguna narkoba hanya memiliki 3 pilihan, yaitu Panti Rehabilitasi, Penjara, atau Kuburan. Mungkin cerita di bawah ini dapat dijadikan renungan.

Slogan “Katakan tidak pada narkoba dan minuman keras” begitu banyak terlihat dan terdengar di berbagai tempat. Karena hal ini, maka dimulailah perbincangan si A dan si B.
A: Lihat tuh, bahaya tau, kalo konsumsi narkoba sama minuman keras! Pasti nggak enak!
B: Huh! Kamu sendiri belum pernah nyoba kan? Sok tahu kamu!
A: Hahaha. Kita juga nggak perlu makan tahi kan untuk tahu bahwa itu rasanya nggak enak?
B: …

5. Seks Bebas

Kasus akibat perilaku seks bebas pada kalangan mahasiswa ini paling banyak terjadi. Tidak jarang perilaku tersebut mengakibatkan hamil diluar nikah sehingga banyak dari mereka yang telah melakukan aborsi. Pada dasarnya perbuatan tersebut dapat terjadi kerena tidak dapat mengendalikan nafsu birahi. Apa bedanya manusia dan hewan kalau begitu? Hubungan seks di luar nikah seperti ini tidak sepatutnya di lakukan oleh seorang manusia sebab manusia telah di beri akal dan pikiran. Apalagi dilakukan oleh mahasiswa yang notabenenya adalah manusia intelek. Begitu banyak dampak negatif dari penyalahgunaan seksual ini. Karena banyaknya dampak negatif dari penyalahgunaan seksual, seharusnya sebagai manusia yang bermoral bisa mengendalikan nafsu birahi.

Bagaimana mungkin pemimpin masa depan dapat memajukan bangsanya sedang untuk mengendalikan hawa nafsunya saja tidak bisa?
Rakyat yang mana yang ingin pemimpinnya menyalahgunakan kekuasaan demi memenuhi hawa nafsunya?

Dari peristiwa-peristiwa ini, tentunya sebagai masyarakat sangat menyayangkannya. Kerusakan moral mahasiswa ini telah menjadi suatu katagori tersendiri yang sangat begitu menyedihkan. Fenomena ini jika dilihat memang sudah mendekati titik berbahaya dan harus diantisipasi. Moral seakan tak lagi menjadi bagian penting hidup, melainkan menjadi retorika pelengkap hidup semata. Tentunya hal ini kurang lebih terjadi karena dipengaruhi oleh budaya luar yang mengarah ke liberal, tidak berkualitas, dan tidak memiliki visi dan misi yang jelas. Mirisnya, mahasiswa yang sudah dipastikan menerima berbagai pendidikanlah yang menjadi sebagian pelaku kerusakan moral ini. Namun…

Mengapa output yang dihasilkan sungguh jauh dari bayangan?

Intinya, tidak seharusnya individu mahasiswa di salahkan. Bagaimanapun, mahasiswa adalah output dari sistem bernama pendidikan. Sekolah atau perguruan tinggi juga tak bisa dihakimi. Karena, sekolah atau perguruan tinggi hanyalah fasilitas dari sistem pendidikan itu sendiri. Sebenarnya, perlu ada sinkronisasi antara pendidikan sekolah, rumah, dan masyarakat. Rumah dalam artian keluarga sebagai sekolah pertama adalah pemberi immune nomor satu bagi anak. Sekolah adalah wadah penanaman kepribadian dan penambahan pemahaman mengenai petunjuk yang salah dan benar. Dan masyarakat pun harus memberikan teladan. Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi, tidak ada alasan untuk menyalahkan orang lain.

Tiada siapapun yang paling pandai dan paling bodoh di dunia ini. Karena setiap yang pandai boleh menjadi bodoh, dan setiap yang bodoh boleh menjadi pandai.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share: