mari dakwahkah islam

Karya KBM2: Dakwah Brilian Sunan Kalijaga

Posted on

Penulis: Prima @nisaprimaa

Predikat : Terfavorit Ke-3

Ketika saya masih kecil, sekitar umur 8-9 tahun, saya dibelikan sebuah buku oleh bapak, yang berjudul “Kisah Walisongo, Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa”. Ya, waktu itu sedang senggang karena liburan sekolah. Jujur, saya sudah lupa sama sekali buku itu beli di mana. Yang saya ingat, saya memilih sendiri buku itu. Tadinya saya memilih buku cerita biasa, tetapi atas rekomendasi bapak, akhirnya saya memilih buku tersebut.

Di sini, saya membaca kisah Sembilan Wali Songo yang merupakan tokoh-tokoh hebat yang sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Dari kesembilan tokoh tersebut, salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah kisah tentang Sunan Kalijaga yang juga merupakan murid dari tokoh Wali Songo yang lain, Sunan Bonang. Mau tahu bagaimana menariknya kisah mengenai Sunan Kalijaga? Yuk, kita simak sama-sama! 🙂

1. Pertolongan Rahasia
Menurut buku Babat Tanah Jawa, nama asli beliau adalah Raden Said atau Jaka Setiya. Orang menyebutnya sebagai Sunan Kalijaga. Raden Said adalah putra seorang Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Menurut catatan silsilah, Raden Said ini merupakan keturunan Adipati Tuban yang pertama, yaitu Rangga Lawe atau Aria Adikara yang kemudian berputra Aria Teja I yang berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja III, berputra Raden Tumenggung Wilatikta, ayah Raden Said.
Aria Teja I dan II ini masih memeluk agama Hindu, sedangkan Aria Teja III dan Raden Tumenggung Wilatikta sudah memeluk agama Islam. Maka sudah selayaknya jika sejak kecil Raden Said sudah mendapat gemblengan dan didikan ilmu-ilmu Islam oleh orang tua beliau yang menyerahkannya kepada guru agama Kadipaten.
Sedari kecil, Raden Said ini sudah terlihat bahwa dia adalah calon yang berjiwa luhur. Dia adalah seorang yang selalu taat kepada agama dan berbakti kepada kedua orang tua serta kepada orang-orang lemah. Dia mempunyai sifat dan sikap yang welas asih.
Maka dari itulah beliau merasa iba dan tak sampai hati melihat rakyatnya banyak yang menderita. Memang pada masa itu, Majapahit sedang mengalami kemunduran akibat perang saudara yang berlarut-larut. Sifat para pembesar banyak yang tidak normal lagi, sehingga banyak dari mereka yang memanfaatkan kesempitan pemerintahan untuk berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat.
Rakyat yang sudah banyak menjadi korban, masih juga diperas dengan pembayaran pajak yang sangat tinggi. padahal penyetoran ke pemerintah pusat tidaklah seberapa. Bahkan seringkali pajak upeti tersebut tertahan di rumah pejabat itu sendiri. Apalagi sewaktu musim kemarau panjang, tentu saja tidak ada hasil panen, maka betapa rakyat jelata sewaktu itu semakin menderita. Raden Said tahu persis akan situasi dan kondisi rakyat di kala itu karena beliau lebih suka bergaul dengan masyarakat kebanyakan, walaupun beliau seorang putra bangsawan.
Pada suatu hari, Raden Said mengajukan pertanyaan kepada Ramandanya tentang keadaan rakyat Tuban, dengan maksud agar Ramandanya mau berbuat sesuatu untuk menghilangkan penderitaan rakyat. Rupanya, apa yang diaturkan oleh Raden Said itu bertentangan dengan hati nurani Ramandanya. Merah padam wajah Ramandanya menahan amarah, seraya berkata, “Said, kamu masih kanak-kanak, jangan terlalu mencampuri urusan kepemerintahan! Ketahuilah…. Bahwa Ramandamu ini hanyalah pejabat bawahan, tidak dapat menolak tugas yang dibebankan!”
Raden Said memaklumi perasaan ayahnya, maka beliau pun tidak berani berkata-kata lagi. Sesaat kemudian, Raden Said menunduk dan meminta diri dari hadapan Ramandanya yang masih tampak kesal.
Setiap malam, Raden Said biasanya memanfaatkan waktu dengan membaca Al Quran di rumah. Namun, setelah percakapan dengan Ramandanya, beliau Nampak sering keluar rumah. Saat-saat itulah beliau menyibukkan diri membongkar gudang kadipaten untuk mengambil bahan makanan dan dibagi-bagikan kepada rakyat yang dirasanya pantas untuk diberi bagian. Dengan cara diam-diam pada malam hari itulah Raden Said menaruh bahan makanan di muka pintu depan rumah-rumah rakyat. Demikianlah siasat Raden said sehingga rakyat tidak pernah tahu siapa orang yang menaruh bahan makanan di muka pintu rumah mereka. Hal ini tentu saja membuat rakyat menjadi terkejut sekaligus juga merasa senang karena mereka memang membutuhkan barang-barang tersebut.
2. Raden Said Diusir Orang Tuanya
Malam-malam berikutnya, seperti biasa Raden Said tetap melaksanakan kegiatannya mengambil barang-barang gudang untuk dibagi-bagikan kepada fakir dan miskin. Penjaga gudang kadipaten menjadi terkejut dan heran, setelah mengetahui barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat Kerajaan Majapahit setiap hari semakin berkurang, padahal tidak pernah diambil.
Penjaga gudang itu berpendapat, mungkin ada pencuri yang tidak diketahui masuk ke gudang itu. Dia berencana melaporkan kejadian itu kepada sang adipati, tetapi masih berpikir dua kali. Jangan-jangan malah dia sendiri yang malah tertuduh sebagai pencurinya, karena tidak ada bukti siapa pencurinya.
Pada suatu malam dengan sengaja penjaga gudang mengintai dari kejauhan untuk mengetahui siapa gerangan si pencuri tersebut. Penjaga gudang itu sangat terkejut setelah tahu bahwa si pencuri adalah putra Adipati sendiri, yaitu Raden Said.
Awalnya penjaga gudang itu merasa kebingungan, tetapi apa boleh buat, daripada dia sendiri yang mendapat hukuman dari Adipati, maka terpaksa dia menangkap Raden Said.
Raden Said beserta barang-barang bukti yang dibawanya, dihadapkan kepada Adipati. Tentu saja sang Adipati sangat marah melihat anaknya mencoreng nama keluarga dengan perbuatan yang tidak semestinya dilakukan. Raden Said mendapat hukuman cambuk dengan rotan sebanyak seratus kali di kedua tangannya.
Setelah bebas dari hukuman, Raden Said masih juga belum kapok. Kegiatannya malam hari tersebut dilanjutkannya di luar lingkungan istana kadipaten. Beliau berpakaian serba hitam dan memakai topeng khusus di wajahnya, lalu merampok orang-orang kaya di kadipaten. Yang menjadi incarannya adalah orang kaya bakhil dan pejabat yang curang.
Hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Dan tidak seberapa lama berjalan, akhirnya kegiatan Raden Said diketahui oleh seorang pimpinan perampok lain. Maka pimpinan perampok itu meniru Raden Said dalam berpakain serba hitam dan bertopeng persis miik Raden Said.
Pada suatu malam terdengar jeritan para penduduka yang rumahnya didatangi kawanan perampok. Mendengar suara jeritan itu, dengan cepat Raden Said meloncat mendatangi tempat kejadian tersebut dengan maksud untuk menolong. Melihat kedatangan Raden Said yang bertopeng, kawan perampok segera bertebaran melarikan diri.
Ketika Raden Said mendobrak pintu sebuah rumah, di satu kamar nampak seorang berpakaian seperti dirinya dan bertopeng yang serupa sedang mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya ia baru saja selesai memperkosa seorang gadis di dalam kamar itu.
Sebelum Raden Said bergerak untuk menangkapnya, pimpinan perampok itupun sudah lebih dahulu kabur. Saat itu pula pemuda dari kampong lain mengepung rumah tersebut dan gadis yang diperkosa perampok tadi telah bangkit dan memegang tangan Raden Said dengan eratnya. Raden Said yang sedang dalam kebingungan itu ditangkap oleh pemuda dan dibawa ke rumah kepala desa setempat.
Setelah mengetahui siapa orang dibalik topeng itu, kepala desa tiba-tiba bengong karena terkejut dan tidak percaya. Ternyata perampok itu adalah Raden Said putra adipati junjungannya sendiri. Seketika itu pula masyarakat menjadi rebut karena perampok dan pemerkosa itu putra adipatinya sendiri.
Kepala desa menjadi serba salah, terpaksa menutup-nutupi cela junjungannya. Tanpa diketahui masyarakat, kepala desa itu membawa Raden Said ke istana kadipaten. Mengetahui hal itu, Adipati menjadi lebih marah kepada Raden Said, anaknya sendiri. Dia tidak boleh kembali ke istana kadipaten sebelum dapat menggetarkan dinding-dinding istana kadipaten dengan ayat-ayat Al Quran yang sering dibacanya.
Mendengar kata-kata orang tuanya, Raden Said hatinya menjadi hancur luluh karena harus menerima akibat yang tak pernah disangka-sangkanya. Dengan wajah menunduk, Raden Said meninggalkan istana Kadipaten Tuban dan pergi mengembara tanpa arah tujuan.
3. Bertemunya Raden Said dengan Sunan Bonang
Raden Said yang diusir oleh orang tuanya itu kini terus berjalan dan berjalan mengembara sehingga pada akhirnya sampai di hutan Jati Wangi. Di hutan itulah beliau memutuskan untuk tinggal dan meneruskan kegiatannya yaitu merampok para hartawan yang kikir dan hasil rampokan tersebut tidak dimakan atau untuk bersenang-senang, melainkan dibagi-bagikan kepada fakir miskin di desa sekitar hutan itu.
Selama melaksanakan perbuatannya tersebut, Raden Said (Brandal Lokajaya) melihat seorang lelaki tua berjubah putih sedang berjalan dengan tongkat di hutan yang dikuasainya. Orang tua bertongkat itu adalah Sunan Bonang. Sedangkan Raden Said sendiri belum mengetahui tentang Sunan Bonang. Karena itulah, Raden Said bertekad untuk menjadikan Sunan Bonang sebagai mangsanya. Raden Said dibuat penasaran dengan gagang tongkatnya yang Nampak berkilauan. Dalam hati, Raden Said yakin bahwa gagang tongkat itu pasti terbuat dari emas.
Setelah orang berjubah putih itu semakin dekat jalannya, dengan kepandaian ilmu silat Raden Saidmelompat menghalangi perjalanannya seraya berkata, “Hai orang tua Bangka! Kalau engkau masih sayang nyawamu, serahkanlah tongkat itu kepadaku!”
Orang berjubah putih itu tersenyum arif dan ramah tamah. Dengan suara lembut, dia berkata, ”Anak muda, bergunakah tongkat ini bagimu, sehingga Engkau nampaknya sungguh-sungguh memintanya?”
“Tentu saja berguna bagiku,” sahut Raden Said.
“Untuk apa orang semuda dirimu akan menggunakan tongkat?,” tanya orang berjubah putih.
Raden Said menyahut dengan geram, “Hai orang tua jangan banyak berbelit! Cepat serahkan saja tongkatmu yang bergagang emas itu, agar dapat segera kujual dan uangnya kubagi-bagikan kepada fakir miskin.”
Mendengar perkataan Raden Said itu, orang berjubah putih alias Sunan Bonang tadi menjawab, “ Niatmu memang baik sekali, Engkau hendak menolong orang-orang fakir miskin. Tetapi sayang sekali jalan yang Engkau tempuh sangat bertentangan dengan kebaikan niatmu itu sendiri. Kalau benar-benar Engkau ingin menolong fakir miskin, janganlah bersedekah dari hasil yang haram. Karena Allah tidak akan menerima sedekah seseorang dari hasil yang haram, maka sia-sialah amal kebaikanmu itu.”
Lain halnya dengan Raden Said yang mata, hati, dan angan-angannya sudah terpaku oleh gemerlapnya emas, ucapan-ucapan Sunan Bonang yang berupa nasihat itu sama sekali tidak menyentuh jiwanya.
Karena itulah tiba-tiba saja Raden Said segera merebut tongkat tadi dan Sunan Bonang pun jatuh tersungkur ke tanah. Dengan seksama, Raden Said mengamati tongkat itu. Gagang tongkat yang tadinya tampak terbuat dari emas, ternyata berubah sebagaimana aslinya yaitu hanya kayu biasa.
Pelan-pelan Sunan Bonang bangun dari tempatnya terjatuh. Dengan menitikkan air mata, ia berdiri kembali setelah dibantu oleh Raden Said. Raden Said tertegun keheranan dan tiba-tiba berkata, “Jangan khawatir Pak Tua, ini tongkatmu kukembalikan.”
“Saya tidak menangisi tongkat yang Engkau ambil itu, tetapi lihatlah di genggaman tanganku ini terdapat makhluk Allah yang tak bersalah berupa rumput,” jawab Sunan Bonang sambil menunjukkan rumput dalam genggamannya. “Aku menyesal dan merasa berdosa, tanpa sengaja berbuat dzalim karena mencabut rumput ini dengan sia-sia, kecuali kuperuntukkan makanan ternak, akan terbebas dari dosa,” tambahnya.
Rupanya Raden Said mulai menyadari. Dia mendengarkan ucapan-ucapan Sunan Bonang dengan menundukkan kepala.
“Kenapa Engkau berlaku sekejam ini terhadap sesama?,” Tanya Sunan Bonang lagi.
“Maafkan aku Pak Tua, semua itu kulakukan karena menginginkan harta dan kubagi-bagikan kepada fakir miskin,” sahut Raden Said.
“Kalau benar-benar demikian keinginanmu, itulah harta halal dan ambillah semuanya!,” ujar Sunan Bonang sambil menunjuk ke sebuah pohon aren di dekatnya.
Seketika itu juga, batang, daun, dan buah aren tadi berubah menjadi emas. Semuanya tampak gemerlap keemas-emasan.
Melihat itu, Raden Said tercengang, kemudian mendekati dan memanjatnya. Baru sampai di pertengahan dia memanjat, tiba-tiba buah-buah aren yang berwujud emas itupun berguguran mengenai kepalanya. Raden Said pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
Sesaat setelah Raden Said sadar dari pingsannya, barulah ia mengerti bahwa orang berjubah putih yang baru saja dihadapinya itu bukannya orang sembarangan, melainkan orang berilmu tinggi dari golongan ulama’ atau Waliyullah.
Saat itu pula Raden Said berubah ingin berguru kepadanya. Pandangannya tertuju di sekitar tempat itu. Namun, orang tua yang berjubah putih tadi sudah tidak nampak lagi. Maka dari itulah Raden Said segera bangkit dan kebingungan berusaha untuk mencari di mana orang itu berada. Tak lama kemudian dari kejauhan nampaklah orang berjubah putih tadi dalam keadaan berjalan dengan tenangnya.
Dengan susah payah dan napas yang kembang kempis, Raden Said baru dapat menyusul Sunan Bonang ketika sampai di tepian sungai. Di hadapan Sunan Bonang, Raden Said bertekuk lutut seraya memohon maaf dan menyatakan ingin menjadi muridnya.
“Menjadi muridku?,” Tanya Sunan Bonang. “Apa yang dapat kau harapkan dariku? Apakah Engkau hanya ingin belajar menciptakan emas?”
“Tidak, saya benar-benar ingin belajar dan memperdalam ilmu-ilmu agama kepada Tuan,” jawab Raden Said.
Sunan Bonang terdiam sambil menatap wajah Raden Said untuk mengetahui kebenarannya dan kemudian menarik napas panjang. “Baiklah. Kalau Engkau sungguh-sungguh tungguilah tongkatku ini sampai aku kembali kesini,” kata Sunan Bonang seraya menancapkan tongkatnya di tepi sungai itu.
Raden Said menyatakan kesanggupannya, dan Sunan Bonang pun melanjutkan perjalanannya. Raden Said yang duduk bersila menghadap tongkat itu. Kedua matanya terebelalak keheranan karena menyaksikan Sunan Bonang menyeberangi sungai dengan berjalan di atas air seolah-olah berjalan di atas tanah saja. Melihat semua kenyataan itu, Raden Said semakin mantap tekadnya untuk berguru kepada Sunan Bonang.
Pada satu riwayat diceritakan bahwa Sunan Bonang terlupa kepada Raden Said yang sedang menunggui tongkatnya di tepi sungai itu. Setelah beberapa bulan kemudian, Sunan Bonang baru teringat kembali pada Raden Said. Maka Sunan Bonang pun ingin segera memastikan apakah Raden Said benar-benar setia menunggu tongkatnya atau tidak.
Sunan Bonang terkejut menyaksikan hal yang tak pernah disangka-sangkanya itu. Ternyata Raden Said benar-benar setia menunggui tongkatnya. Karena sudah berbulan-bulan, bahkan ada yang mengatakan bertahun-tahun, Raden Said duduk bersila seperti bersemedi, sampai banyak akar semak belukar yang menjalari tubuhnya.
Karena tidak dapat dibangunkan dengan cara biasa, maka Sunan Bonang mengumandangkan adzan di telinga Raden Said. Setelah Raden Said terbangun, kemudian ia dibawa ke tempat tinggal Sunan Bonang di Tuban.
Di sanalah Raden Said digembleng dan diberi berbagai macam ilmu pengetahuan agama oleh Sunan Bonang. Dengan kesungguhan yang didorong keluhuran cita-citanya, akhirnya Raden Said dapat mewarisi seluruh ilmu dari Sunan Bonang.
Setelah dianggap cukup belajar di situ, Raden Said dianjurkan oleh Sunan Bonang agar meneruskan pelajarannya ke Sunan Ampel. Lalu kemudian dilanjutkan belajar lagi kepada Syaikh Sutabaris di Palembang.
Dengan demikian, akhirnya Raden Said meraih keberhasilan yang memuaskan. Beliau menjadi ulama besar dan termasuk anggota Wali Sanga. Di dalam Wali Sanga, beliau banyak disebut “Sunan Kalijaga” artinya orang yang menjaga kali (Jawa: sungai).
-o-o-o-
Setelah membaca kisah tentang Sunan Kalijaga ini saya kagum dengan pengaruh beliau yang sangat luar biasa di tanah Jawa. Beliau adalah ulama jenius yang strategi dakwahnya sangat matang supaya benar-benar diterima masyarakat Jawa. Beliau merupakan salah satu anggota Wali Songo yang lihai dalam menyelami kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, beliau sangat akrab dengan orang di segala lapisan masyarakat, dari kalangan atas sampai kalangan rakyat jelata. Tak hanya itu, beliau juga lebih suka memposisikan diri sebagai rakyat jelata yang ditunjukkan dengan pakaian yang sederhana daripada jubah.
Beliau juga merupakan orang yang amat merakyat baik dari pergaulan sehari-hari maupun dari cara berdakwahnya. Jika sebagian besar para wali berdakwah dengan mengajar di pondok pesantren yang mereka dirikan sendiri, maka Sunan Kalijaga lebih suka berdakwah dengan berkeliling ke daerah-daerah. Oleh karena itu, beliau terkenal dengan nama Syaikh Malaya yang berarti mubaligh yang menyiarkan agama dengan cara mengembara.
Beliau benar-benar memanfaatkan kegemaran masyarakat sebagai media dakwahnya, antara lain wayang kulit, tembang, dan gamelan. Kesenian tersebut diisi dengan muatan Islam sehingga lebih mengena di masyarakat dan memudahkannya untuk mengajak mereka untuk masuk ke agama Islam. Dari daerah satu ke daerah lainnya, Sunan Kalijaga berdakwah menggunakan kesenian wayang kulit dengan mengenalkan dirinya dengan memakai nama yang berbeda-beda. Di Jawa Barat, beliau memperkenalkan diri sebagai Ki Sida Brangti. Di daerah Tegal, beliau terkenal dengan julukan Ki Dalang Bengkok sedangkan di Purbalingga, masyarakat memanggilnya Ki Dalang Kumendung. Ini merupakan siasat Sunan Kalijaga, supaya lebih dekat dengan masyarakat sebagai bagian dari mereka.
Dalam berdakwah, beliau tidak serta-merta menentang kepercayaan lama dan adat istiadat masyarakat. Beliau melakukan pendekatan kepada masyarakat awam dengan cara yang halus sehingga dengan senang hati mereka menerima kehadirannya. Kesenian masyarakat yang dimanfaatkan sebagai alat berdakwan ternyata membawa keberhasilan dakwah Sunan Kalijaga. Masyarakat Jawa saat itu hampir seluruhnya bisa menerima dakwahnya untuk dapat mengenal Islam.
Beliau adalah mubaligh sekaligus ahli seni, ahli filsafat, sekaligus budayawan yang memiliki peran penting dalam membangun peradaban negeri Indonesia sampai saat ini. Beliau menciptakan berbagai macam karya dan kesenian Islami yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat dan bahkan sudah diakui sebagai warisan budaya Indonesia, seperti:
1. Dalam seni berpakaian, beliau adalah orang pertama yang merupakan pencipta baju taqwa yang kemudian disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar menyamping dan dilengkapi dengan rangkaian keris dan lain sebagainya. Sampai sekarang baju ini masih tetap digemari oleh masyarakat tanah Jawa.
2. Dalam seni suara, beliau adalah pencipta tembang Dandang Gula dan Dang Gula Semarangan.
3. Beliau lah yang menciptakan seni ukir bermotif dedaunan berbeda dengan jaman sebelumnya di mana seni ukir hanya bermotifkan manusia dan binatang saja. Kemudian beliau juga menciptakan gayor (tempat penggantungan gamelan, dan bentuk ornament lainnya yang sekarang mendapat julukan sebagai seni ukir nasional.
4. Beliau merupakan orang yang pertama kali mempunyai gagasan untuk menciptakan bedug di masjid untuk memanggil orang untuk salat berjamaah.

5. Beliau adalah pemrakarsa Grebeg Maulud, yang pada mulanya terlaksana saat pengajian akbar yang diselenggarakan para wali di masjid Demak untuk memperingati Maulud Nabi S.A.W.

6. Sunan Kalijagalah yang menciptakan Gong Sekaten, yang berarti Gong Syahadataini, yang bermakna Dua Kalimat Syahadat. Gong Sekaten ini mempunyai falsafah di mana suara setiap alat gamelan yang menyatu diartikan: “Di sana…, di sini…., di situ mumpung masih ada waktu, yaitu mumpung masih diberi kesempatan hidup, berkumpullah dan cepat-cepat masuk agama Islam, kalau sudah mati biar tidak termasuk orang yang merugi.”
7. Bentuk wayang sebelum Sunan Kalijaga adalah bergambar manusia. Karena gambar tersebut haram hukumnya, maka Sunan Kalijaga membuat kreasi baru. Bentuk wayang diubah mirip karikatur, digambar dan diukir pada kulit binatang. Satu lukisan untuk satu wayang, sedangkan di jaman sebelumnya, satu lukisan untuk satu adegan.

Karena beliau sangat banyak peranannya dalam dunia dakwah di tanah Jawa ini, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa beliau adalah salah satu ulama besar yang pernah ada. Beliau selalu memikirkan strategi dakwah yang pas untuk dikenalkan ke masyarakat sehingga mereka mau menerimanya dengan baik. Hal ini menjadi contoh yang baik bagi ulama-ulama masa kini untuk memikirkan bagaimana cara dakwah yang brilian namun tepat agar masyarakat jaman sekarang mau menerimanya. Beliau merupakan sosok teladan bagi umat Islam di Jawa agar tetap merendah, menolong sesama manusia yang membutuhkan dengan ikhlas, dan terus berkarya demi kemajuan bangsa. Yuk, sebagai generasi muda Islam, mari kita senantiasa melestarikan karya-karya beliau sehingga tidak punah tergerus jaman dan bisa menjadikan negara ini menjadi Indonesia Mercusuar Dunia terutama dalam hal dakwah Islam. Semoga dengan karya beliau yang tetap terjaga akan membuat umat Islam di Jawa selalu istiqomah menjadi golongan Ahlussunnah wal jamaah. Dan, semoga beliau selalu dalam lindungan Allah, dan semoga hasil-hasil karyanya tetap menjadi amal jariyah. Amin.

keywords: Ahlussunnah wal jamaah, Walisongo, Indonesia Mercusuar Dunia
sumber:
Syamsuri, Baidlowi. 1995. Kisah WaliSongo, Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa. Surabaya: Appollo.

Please like & share:

Karya KBM2: Mari Dakwahkan Islam

Posted on

Penulis: harry supandi @harry_supandi

Predikat : Terfavorit Ke-5

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Malam ini saya mencoba menuliskan artikel mengenai Tablig Islam, dengan harapan agar bisa membuka hati kita untuk senantiasa bersyukur akan hidayah yang telah Allah berikan kepada kita terutama nikmat Iman dan Islam.

Apa Iman dan Islam itu?
Harus kita sadari bersama bahwa Agama Islam yang kita anut, bukanlah semata-mata Agama Keturunan dari orang tua kita, melainkan benar-benar Keyakinan kita Bahwa Sesungguhnya Agama disisi Allah Swt Hanyalah Islam.
Dalam surat Ali Imran dijelaskan ,
Allah ta’ala juga berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)
Ada pula yang memberi terjemahan, ” Sesungguhnya agama yang diterima atau diridhoi Allah hanyalah Islam. Ada berbagai macam tafsir, tergantung ulama atau ahli tafsir mana yang menterjemahkannya. Namun kebanyakan diartikan , ” Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam, “.
Terlepas dari makna yang sebenarnya, bagaimanapun ayat ini menjadi pusat rujukan dan referensi umat Islam dan juga non Islam dalam melihat sumber- sumber pandangan Islam dalam memaknai toleransi beragama dan juga pandangan umat Islam terhadap keberagaman. Ayat Ini menjadi dasar keyakinan umat Islam dalam memposisikan agamanya terhadap agama lainya.
ISLAM ( berasal dari kata Aslamu – Aslim ) merupakan Agama Keselamatan. artinya Islam akan membawa kita menuju Keselamatan Baik di Dunia maupun di Akherat kelak.

Dalam Suatu hadist diceritakan Pada Suatu hari malaikat jibril datang menemui Rasulullah saw, kemudian ia berkata :
“Hai,Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”
Malaikat jibril membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi:
“Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,
”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”. …
( HR.MUSLIM)
Kita Bersyukur bahwa Islam masuk ke Negeri ini dan diperkenalkan oleh Para Wali yang biasa kita kenal sebagai WALISONGO.
Apa WaliSongo itu?
Walisongo adalah perintis awal dakwah Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, yang dipelopori Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil mengajak murid-murid untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara sejak abad ke-14.
Walisongo yang terkenal dan Masyhur terdiri dari sembilan wali, yaitu: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.

Perkataan wali sendiri berasal dari bahasa Arab. Wala atau Waliya yang berarti qaraba yaitu dekat, yang berperan melanjutkan misi kenabian. Dalam Al-Qur’an istilah ini dipakai dengan pengertian kerabat, teman atau pelindung. Al-Qur’an menjelaskan: “Allah pelindung (waliyu) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung (auliya) mereka ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. al-Baqarah: 257).

Selanjutnya kata songo menunjukkan angka hitungan Jawa yang berarti sembilan, angka bilangan magis Jawa yang diambil dari kata Ja yang memiliki nilai tiga dan wa yang bernilai enam. Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kata songo berasal dari kata sana yang diambil dari bahasa Arab, tsana’(mulia) sepadan dengan mahmud (terpuji). Pendapat ini didukung oleh sebuah kitab yang meriwayatkan kehidupan dan hal ihwal para wali di jawa yang disusun oleh Sunan Giri II.
Ajaran yang diajarkan oleh Wali Songo adalah Islam dengan manhaj Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah, dengan beraneka ragam Strategi dakwah keteladanan yang efektif sesuai peradaban masyarakat pada saat itu.

Apa Strategi Dakwah Walisongo?
Strategi dakwah yang digunakan Walisongo adalah Penerapan Strategi yang dikembangkan para sufi Sunni dalam menanamkan ajaran Islam melalui keteladanan yang baik. Aliran teologinya menggunakan teologi Asy’ariyah, sedangkan aliran sufistiknya mengarah pada ajaran para Mursyid Thariqah Wali Songo, di antara Mursyidnya adalah Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Al-Hasani, Junaid Al-Baghdadi dan lain-lain.

Strategi yang dilakukan Sunan Kudus tampak unik dengan mengumpulkan masyarakat untuk melihat lembu yang dihias sedemikian rupa sehingga tampil bagai pengantin itu kemudian diikat di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan secara istimewa dan aneh itu. Sesudah mereka datang dan berkumpul di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini praktis dan strategis untuk menarik minat masyarakat yang masih banyak menganut agama Hindu. Seperti diketahui, lembu merupakan binatang keramat Hindu.

Terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang keras dan gigih menentang dakwah Islamiyah, para wali menerapkan metode al-mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantah dengan jalan yang sebaik-baiknya). Mereka diperlakukan secara personal, dan dihubungi secara istimewa, langsung, bertemu pribadi sambil diberikan keterangan, pemahaman dan perenungan (tadzkir) tentang Islam. Cara ini dilakukan oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel ketika berdakwah kepada Pembesar Hindu dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijaksanaan Raden Rahmat, Pembesar Hindu itu masuk Islam bersama istri dan seluruh penduduk negeri yang dipimpinnya. Strategi itu dipergunakan pula oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah mengajak Pembesar Hindu di Semarang. Mulanya terjadi perdebatan seru, tetapi perdebatan itu kemudian berakhir dengan rasa tunduk Sang bangsawan itu untuk masuk Islam. Kejadian mengharukan ketika bangsawan itu rela melepaskan jabatan dan rela meninggalkan harta dan keluarga untuk bergabung dalam dakwah Sunan Kalijaga.
Beberapa wali bahkan telah membuktikan diri sebagai kepala daerah seperti misalnya Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kudus yang berkuasa di daerah-daerah di sekitar kediaman mereka. Kekuatan diplomasi dan kemampuan dalam berhujjah atas kekuatan pemerintahan Majapahit yang sedang berkuasa ditunjukkan oleh Sunan Ampel, Sunan Gresik dan Sunan Majagung. Alhasil, Prabu Brawijaya I (Raja yang sedang berkuasa di Majapahit saat itu) memberi izin kepada mereka untuk memilih daerah-daerah yang disukai sebagai tempat tinggal. Di kawasan baru tersebut mereka diberi kebebasan mengembangkan agama, menjadi imam dan bahkan kepala daerah masyarakat setempat.

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, Strategi yang digunakan oleh Walisongo dalam berdakwah ada tiga macam, yaitu:
1. Al-Hikmah (kebijaksanaan) : Al-Hikmah merupakan kemampuan dan ketepatan da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u (objek dakwah). Sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Kudus.
2. Al-Mau’izha Al-Hasanah (nasihat yang baik) : memberi nasihat dengan kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluh hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman. Inilah yang dilakukan oleh para wali.
3. Al-Mujadalah Billati Hiya Ahsan (berbantah-bantah dengan jalan sebaik-baiknya) : tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat keduanya berpegang kepada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut. sebagaimana dakwah Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga kepada Bangsawan Hindu.
Strategi-Strategi tersebut sejalan dengan Firman Allah SWT :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(An-Nahl : 125).

Apa Jejak Walisongo?
Jejak yang ditinggalkan Walisongo itu terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan-tulisan para murid dan ahli waris Wali Songo. Baik berupa buku sejarah, nasab, silsilah, suluk, babad, manaqib dan lain-lain yang menggambarkan hakikat aliran tasawuf dan dakwah yang mereka anut dan kembangkan.

Banyak sekali Jejak Peninggalan para wali, salah satunya adalah Masjid Agung Demak – Jawa Tengah.

Masjid ini merupakan salah satu jejak sejarah penyebaran ajaran Islam di nusantara. Pada masa lampau, masjid ini diyakini sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi para Walisongo.

Masjid Agung Demak berlokasi di Kauman – Desa Gelagah Wangi, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan masjid ini tahun 1466 hingga 1477 M.

Masjid ini terakhir mengalami renovasi pada tahun 1987 dengan bantuan dana dari APBN dan dari negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) karena mengakui keberadaan Masjid Agung Demak sebagai monumen bagi masyarakat muslim yang memiliki arsitektur unik sesuai dengan dinamika zamannya.

Bentuk bangunan atap masjid berbentuk limas ditopang 8 tiang yang disebut Saka Majapahit.Bangunan masjid terbuat dari kayu jati berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh 4 buah tiang kayu besar (soko tatal atau soko guru) yang dibuat oleh empat wali dari Wali Songo.Keseluruhan bangunan ditopang 128 soko, empat di antaranya soko guru yang menjadi penyangga utama bangunan masjid. Jumlah tiang penyangga masjid 50 buah yang terdiri dari 28 penyangga serambi dan 34 tiang penyangga tatak rambat, sedang tiang keliling sebanyak 16 buah.

Menurut kisah bahwa tiang utama dan atap sirap masjid tersebut adalah hasil karya para wali, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Salah satu soko guru, hasil karya Sunan Kalijaga tidak terbuat dari kayu utuh sebagaimana layaknya tiang utama, melainkan dari potongan kayu (tatal) yang disusun dan diikat. Bagi masyarakat Demak dan sekitarnya terdapat cerita bahwa salah satu atap sirap Masjid Agung Demak terbuat dari intip (kerak nasi liwet) hasil buatan Sunan Kalijaga.

KISAH DAN TELADAN DAKWAH WALISONGO
1. SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM : KISAH BERAS DAN PASIR
Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah anggota wali songo urutan pertama. Beliau menyiarkan Islam ke tanah Jawa sambil berdagang. Bagai kunang-kunang besar yang memanggul cahaya, Maulana Malik Ibrahim datang menerangi tanah Jawa dengan Islam.
Suatu hari dalam perjalanan dakwah ke sebuah dusun yang diberkahi dengan tanah subur, Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama seorang muridnya singgah di sebuah rumah. Rumah itu milik orang kaya. Menurut desas-desus pemilik rumah itu amat kikir.
Padahal si empunya rumah adalah orang berada yang memiliki berton-ton beras. Halaman rumahnya luas. Di sana tersusun berkarung-karung beras hasil pertanian. Rupanya Syekh Maulana Malik Ibrahim ingin menemui si empunya rumah yang tak lain adalah salah seorang muridnya. Ia ingin menasihati muridnya agar meninggalkan sifat jelek itu.
Orang kaya tersebut menerima dengan ramah kunjungan Syekh Malik. Dihidangkanlah jamuan yang baik bagi Syekh Malik. Sesaat berselang, datanglah seorang pengemis, perempuan tua, ke hadapan orang kaya itu.
“Tuan, saya lapar sekali, bisakah saya minta sedikit beras,” ujar perempuan tua itu sambil melirik beras yang bertumpuk di halaman.
“Mana beras? Saya tidak punya beras, karung-karung itu bukan beras, tapi pasir,” ujar orang kaya itu.
Pengemis tua tertunduk sedih. Ia pun beranjak pergi dengan langkah gontai. Kejadian itu disaksikan langsung oleh Syekh Malik. Ternyata apa yang digunjingkan orang tentang kekikiran muridnya ini benar adanya. Syekh Malik bergumam dalam hati, dan iapun berdo’a. Pembicaraan yang sempat tertunda dilanjutkan kembali.
Tiba-tiba ramah-tamah antara murid dan guru itu terhenti dengan teriakan salah seorang pembantu orang kaya itu.
“Celaka tuan, celaka! Saya tadi mengecek beras, ternyata beras kita sudah berubah jadi pasir. Saya periksa karung lain, isinya pasir juga. Ternyata tuan, semua beras yang ada di sini telah menjadi pasir!” Pembantu itu dengan suara bergetar melaporkan.
Orang kaya itu kaget, segera ia beranjak dari duduknya, dihampirinya beras-beras yang merupakan harta kekayaannya itu. Ternyata benar, beras itu telah berubah menjadi pasir. Seketika tubuh orang kaya itu lemas. Ia pun bersimpuh menangis.
Syekh Malik lalu menghampirinya. “Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa beras yang kau miliki itu pasir, kenapa kau kini menangis?” Syekh Malik menyindir muridnya yang kikir itu.
“Maafkan saya Sunan. Saya mengaku salah. Saya berdosa!” Si murid meratap bersimpuh di kaki Syekh Malik.
Syekh Malik tersenyum, “Alamatkan maafmu kepada Allah dan pengemis tadi. Kepada merekalah permintaan maafmu seharusnya kau lakukan,” ujar Syekh Malik lagi.
Penyesalan yang dalam langsung menyergap orang kaya itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat kezaliman. Kepada Syekh Malik ia berjanji akan mengubah semua perbuatannya. Ia mohon juga agar berasnya bisa kembali lagi seperti semula. Kekikirannya ingin ia buang jauh-jauh dan menggantinya dengan kedermawanan.
Syekh Malik kembali berdo’a, dan dengan izin Allah, beras yang telah berubah menjadi pasir itu menjadi beras kembali. Hidayah dan kekuatan yang berasal dari Allah memungkinkan kejadian itu.
Orang kaya tersebut tidak membohongi lisannya. Ia berubah menjadi dermawan, tak pernah lagi ia menolak pengemis yang datang. Bahkan ia mendirikan mushalla dan majelis pengajian serta fasilitas ibadah lainnya.
2. SUNAN GIRI

Anak-anak di Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama di pedesaan, sampai kini masih ada yang bermain jelungan, terutama ketika bulan sedang purnama. Jelungan atau Jitungan adalah sejenis permainan anak-anak, sejumlah anak dibagi dalam dua kelompok: kelompok pemburu dan kelompok yang diburu. Anak yang diburu, yang berhasil menyentuh sebatang pohon, berarti selamat dari pengejaran.
Permainan sederhana ini konon diciptakan oleh Sunan Giri, salah seorang dari walisongo, sembilan muballigh penyebar agama islam di tanah Jawa. Di balik permainan itu terselip makna yang dalam tentang ajaran tauhid dan tawakkal kepada Allah SWT untuk mencapai pegangan dalam Jelungan, yang bisa diartikan sebagai keselamatan dalam hidup, tidaklah mudah.
Pegangan itu adalah Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Jika belum memegang-Nya, berarti belum tawakkal dan bertauhid kepada-Nya, karena kita akan terus diburu oleh iblis. Selain Jelungan, Sunan Giri juga menciptakan permainan anak-anak seperti Cublak-cublak Suweng, Ilir-ilir, Kendi Gerit, dan sebagainya. Permainan-permainan ini biasanya diiringi nyanyian yang mendidik anak-anak mengenal sang pencipta dan agamanya.

Lir – ilir , Instrumen Lagu Jawa

Dalam ranah yang lebih luas, Sunan Giri dikenal sebagai muballig yang banyak mendidik sejumlah kader Dai penyebar agama islam, dari tanah Jawa sampai Maluku. Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai negarawan. Tata pemerintahan kerajaan Demak dirancang oleh Sunan Giri. Ia adalah penasihat Raden Patah, Sultan pertama kerajaan islam Demak.
Sunan Giri yang nama kecilnya Raden Paku alias Muhammad Ainul Yaqin, pernah mengalami peristiwa besar saat ia baru saja lahir. Ayahnya adalah Syekh Wali Lanang, alias Maulana Salam, muballigh keturunan Maulana Ishak dari Samudra Pasai, Aceh. Wali Lanang diambil menantu oleh Prabu Blambangan, belakangan ia di usir dari Istana, karena dianggap lancang karena berani mengajak sang mertua yang masih memeluk agama Hindu untuk memeluk islam.
Menjelang saat kelahirannya pada tahun 1442 M, kerajaan Blambangan di Banyuwangi dilanda malapataka kelaparan dan wabah penyakit, sehingga sang Ibu Roro Sibodi melahirkannya dalam kepedihan, begitu lahir sang bayi dituding sebagai biang keladi malapetaka. Apa boleh buat, para pejabat kerajaan Blambangan pun segera melarung sang jabang bayi merah dengan menghanyutkan di selat Bali.
Bayi mungil itu di taruh di sebuah peti kecil lalu dihanyutkan di laut lepas. Tapi berkat pertolongan Allah SWT, peti yang terombang ambing itu sama sekali tidak terbalik atau tenggelam – sampai sebuah kapal niaga yang tengah berlayar ke Bali menabraknya. Anehnya, bukan peti itu yang terpental, tapi kapal besar itulah yang hampir karam, dan peti berisi bayi itu nangkring di atas kapal.
Ajaib kapal itu tidak bisa dikemudikan untuk melanjutkan perjalanan ke Bali, hingga akhirnya Nakhoda memutuskan kembali ke Gresik. Justru setelah haluan diputar kearah Gresik, kapal itu berjalan lancar dan berlayar lebih cepat. Padahal perjalanan ke arah Gresik berarti melawan arus laut. Sampai di Gresik, sang bayi diambil oleh Nyai Ageng Pinatih, saudagar kaya pemilik kapal yang kemudian mengasuhnya sebagai anak angkat, dan diberi nama Joko Samudro.
Setelah dewasa, Joko Samudro, berguru ke Ampel di Surabaya, kepada seorang kiai besar yang juga muballig, yang dikenal sebagai Sunan Ampel. Ketika itu usianya baru 11 tahun. Setelah dewasa, Joko Samudro mendapat nama baru: Sunan Giri. Ada seorang pemuda lain, yang ketika itu bersama Joko Samudro berguru di pesantren Sunan Ampel. Dibelakang hari dikenal sebagai Sunan Bonang.
Di pesantren inilah derajat kewalian Sunan Giri tampak disaksikan langsung oleh gurunya, Sunan Ampel. Suatu malam, menjelang subuh, Sunan Ampel yang tengah mengambil air wudlu menyaksikan semburat cahaya dari tempat tidur para santri. Ternyata cahaya itu memancar dari wajah Sunan Giri. Diam-diam Sunan Ampel mengikat ujung sarung Sunan Giri. Pagi harinya, dalam pengajian, tahulah Sunan Ampel bahwa santri yang bercahaya itu tiada lain adalah Joko Samudro.
Kebijaksanaan sebagai seorang yang alim juga sudah nampak saat ia masih muda. Dalam pelayaran niaga ke Kalimantan, barang dagangan Ibunya yang seharusnya dijual malah dibagi-bagikan kepada penduduk. Orang kepercayaan Nyai Pinatih, yang mendampingi Joko Samudro, tentu saja kaget. Raden, bukankah barang-barang ini seharusnya kita perdagangkan? Tanyanya heran. Joko Samudro menjawab enteng: ya, tapi saya belum melihat ibu berzakat. Saya membagikan barang ini sebagai zakat untuk membersihkan harta Ibu.
Sebaliknya Joko Samudro malah memerintahkan awak kapal mengisi sejumlah karung dengan batu dan pasir agar kapal bisa seimbang dengan beratnya muatan. Sesampainya di Gresik tentu saja Ibunya naik pitam. Tapi anehnya, sang Ibu tak menemukan batu dan pasir . karung-karung itu berubah menjadi barang dagangan yang ketika itu memang dicari di Kalimantan, seperti rotan dan rempah-rempah.
Perjalanan Joko Samudro sebagai Waliyullah sarat dengan kisah-kisah karamah. Dibelakang hari, nama besarnya sebagai Sunan Giri dan kedalaman ilmunya, mendorong Syekh Siti Jenar berguru kepadanya. Tapi permintaan itu ditolak, karena khawatir Siti Jenar akan menyalahgunakannya. Siti Jenar konon menyamar sebagai seekor burung gagak lalu masuk ke ruang pengajian Sunan Giri yang tengah mengajar santri-santrinya.
Tapi Siti Jenar masih saja gagal mengikuti pengajian karena diketahui oleh Sunan Giri. Siti Jenar lalu mengubah diri menjadi seekor cacing dan menyusup kedalam tanah tempat Sunan Giri duduk bersila. Begitulah yang terekam dalam “Walisongo”, buku berbahasa Jawa karangan R. Tanoyo, yang bercerita mengenai para wali di tanah Jawa.
Ketika kerajaan Majapahit mendekati keruntuhan, Prabu Girindrawardhana sempat terlibat konflik dengan Sunan Giri. Celakanya dua Senopatinya, Lembusuro dan Kebohardjo, gagal membunuh Sunan Giri ketika sang hendak mengambil air wudu` untuk shalat Isya`. Apa boleh buat, sang Prabu pun segera mengerahkan bala tentaranya ke Giri.
Tapi ketika pasukan Majapahit sampai di kaki bukit Giri, yang tidak terlalu jauh dari Kedaton Giri, sawah dan ladang disekitarnya berubah menjadi hutan lebat. Maka pasukan Majapahitpun terkurung selama berhari-hari tanpa bantuan logistik dari luar. Akibatnya banyak prajurit yang mati kelaparan. Itulah antara lain salah satu karomah Sunan Giri lewat doa-doanya.
Namun akhirnya Sunan Giri tidak sampai hati. Ia lalu kembali berdoa, dan tak lama kemudian mata air yang selama itu kering mendadak mengucur, sementara pepohinan pun berubah. Pasukan Majapahit pun seperti dibangkitkan semangatnya. Tapi mereka tetap saja bermaksud melanjutkan penyerbuan ke Kedaton Giri.
Dengan mata batinnya, Sunan Giri dapat mengetahui gerak gerik pasukan Majapahit, seketika ia melemparkan pena yang sedang ia gunakan untuk menulis. Tiba-tiba pena itu berubah menjadi keris yang melayang-layang menyerang pasukan tentara Majapahit. Keris itu kemudian diberi nama “Kala Munyeng”. Tak cukup dengan itu, Sunan Giri juga menyebarkan pasir yang berubah menjadi Lebah yang membuyarkan pasukan Majapahit.
Angsa dan Naga
Ada pula cerita lain. Pernah pada suatu waktu Sunan Giri ditantang oleh begawan Minta semeru untuk main tebak-tebakan. Sebelum sampai di pesantren Sunan Giri, Brahmana yang sangat sakti itu mengubur dua ekor angsa di puncak sebuah bukit. Sesampainya di pesantren Giri, sang begawan bertanya apa yang dia kubur di bukit itu.
“Dua ekor naga”, jawab Sunan Giri mantap. Begawan Mintasmeru tersenyum menang, tapi setelah keduanya naik ke puncak bukit dan menggali, ternyata dari dalam lubang itu meluncur dua ekor naga yang langsung menyerang begawan Mintasemeru. Merasa tak berkutik, Mintasemeru pun bertobat lalu memeluk agama Islam.
Keluasan ilmu Sunan Giri diakui lewat gelar yang disandangnya: Sultan Abdul Faqih, sebagai salah seorang tokoh Walisongo, ia mempunyai sejumlah santri yang dibelakang hari berhasil menjadi kyai bahkan wali. Bahkan dua anaknya mencapai gelar Sunan Giri II dan Sunan Giri III. Riwayat dan prestasinya terekam dalam naskah bertahun 1621 dan dikutip oleh ilmuwan Belanda, B. Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies (1955).
Dalam naskah itu ketokohan dan keluasan ilmu dan pengaruh Sunan Giri disederajatkan dengan posisi seorang Paus dalam agama Katolik. Maksudnya Sunan Giri diakui sebagai ulama besar, di mana kharisma, ilmu dan karamahnya sangat luas – sekalipun pada masanya juga hidup wali-wali yang lain. Pengakuan ini setidaknya menjadi gambaran nyata bagaimana tanah Jawa, yang waktu itu dijajah oleh bangsa Portugis, sangat menghormati Sunan Giri.
Sampai saat ini jejak Sunan Giri masih bisa kita temui di Gresik Jawa Timur berupa komplek makam yang selalu ramai diziarahi. Hampir setiap hari berduyun-duyun para peziarah memenuhi komplek makam sang wali. Mereka dengan sabar antri, sebab makam Sunan Giri berada dalam sebuah ruang berpintu kecil yang hanya mampu memuat sekitar 10 – 15 orang saja. Datang dari jauh berdesakan untuk bertemu dengan sang wali yang sangat besar jasanya dalam bertabligh menyampaikan agama Allah.
KESIMPULAN :

Bahwa Penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh Walisongo adalah dengan Suri Tauladan dan Akhlaq yang Baik seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Bukan dengan paksaan ataupun pemberian materi, makanan, mie instan, obat-obatan, dll dan bukan pula dengan merayu pemuda/pemudi untuk dinikahi agar bisa diajak masuk ke agamanya.

“Tidak Ada Paksaan dalam Memeluk Agama Islam”. Jadi sangat jelas bahwa Dakwah yang telah dilakukan oleh para wali bisa kita terapkan didalam Syiar dan Dakwah Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar.

Wassalamu alaikum Warahmatullah wabarakatuh..

Please like & share: