Moral Orangtua

[Karya KBM3] Moral Orangtua, Moral Anak: Bagaimana Mengurangi Dampak Broken Home?

Posted on Updated on

Sebut saja namanya Anggi (nama samaran, 17 tahun) yang saat diwawancarai sedang hamil. Lagi-lagi, masalah rumah tangga yang memicunya lari ke pergaulan bebas. Kisah kelamnya berawal dari perceraian ayah dan ibunya. (Jawa Pos, 11/2/2012).

KISAH Anggi tersebut hanyalah salah satu kasus yang kerap kali muncul akibat dari hilangnya mata rantai pernikahan yang sukses. Sehingga melahirkan suatu rumah tangga yang rusak atau broken home. Memang tidak semua perceraian yang ditempuh oleh pasangan orangtua berujung pada rusaknya moral anak-anaknya. Namun begitu, umumnya memang selalu berujung pada penyimpangan ataupun kenakalan.

Tetapi, apakah kemudian kita harus menyalahkan hukum yang memperbolehkan perceraian? Di mana hal itu diakomodir dalam agama Islam? Jawabannya tentu saja tidak, jika pun ada orang-orang yang menyalahkan begitu, tidak lain hanya karena kedangkalan ilmu. Karena perceraian itu sendiri diatur bukan untuk main-main, syarat dan ketentuannya cukup ketat, dan tidak menjadi hak mutlak pihak laki-laki, dalam kondisi tertentu pihak perempuan bisa mengajukan penjatuhan talak. Dan kalau syaratnya sudah cukup, mau tidak mau suami harus menjatuhkan talaknya.

Namun fakta di lapangan, seringkali kasus kawin cerai itu dilakukan oleh pasangan-pasangan yang secara dasar pengetahuan minim dan sebabnya seringkali karena permasalahan moral dari orangtua itu sendiri. Contoh kasus karena perselingkuhan, perjudian, dan aneka perbuatan yang secara moral memang tidak dibenarkan. Dan tidak jarang, tidak hanya salah satunya saja, tetapi baik si suami atau si istri sama-sama bertindak tidak sesuai, dan akhirnya selalu anak-anak yang menjadi taruhan, yang tidak pernah terpikirkan.

Tidak hanya masalah seks bebas, namun juga menjurus pada narkoba, minuman keras, pencurian, dan tindakan tidak bermoral lainnya. Dan hal yang menyedihkannya, mereka terkadang melakukan tindakan semacam itu karena mencontoh moral orangtuanya sendiri yang tidak benar. Maka memang tidak salah kata pepatah, “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya” dan moral orangtua memang seringkali menjadi role model moral anaknya.

Hal itu masuk akal karena pendidikan dan guru pertama anak manusia adalah rumah dan orangtuanya. Kalau yang dari dalam dan terdekat saja sudah rusak, seringkali sistem pendidikan di luar yakni pihak sekolah ataupun madrasah itu sendiri sulit untuk melakukan kontrol terhadap anak-anak. Padahal seharusnya rumah bisa menentramkan ibaratnya surga, yang kita kenal dengan istilah baiti jannati.

Menurut A.M. Saefudin (1985) melalui esainya bertajuk Konsep Pendidikan Agama: Sebuah Pendekatan Integratif Inovatif dalam 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi, menguraikan bahwa pendidikan dalam proses interaksi sosialnya selalu berkaitan dengan perilaku moral, antara pendidik dan yang dididiknya (h. 244). Itu pun dapat berlaku dalam institusi pendidikan paling awal bernama keluarga. Orangtua bisa diibaratkan sebagai guru, dan anak-anak adalah muridnya. Peran sentral orangtua bahkan disinggung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [HR. Malik, Ahmad, Bukhari, dan Muslim]

Barangkali tidak banyak anak-anak dari pasangan muslim yang bercerai kemudian memilih pindah agama, namun hadis tersebut dapat diibaratkan terkait moral ataupun perilaku. Karena kita sadari pula, bagaimana akhlak orang Yahudi menurut Al-Qur’an?

TETAPI, seperti dikatakan diawal, kita tidak mungkin mencegah suatu pasangan yang memang secara akal sehat tidak mungkin melanjutkan bahtera rumah tangga. Karena kadangkala yang kita benci adalah yang terbaik bagi kita. Maka yang utama adalah kerelaan dan ketahudirian dari pasangan suami istri sebagai orangtua. Bukankah tidak ada istilah bekas anak?

Maka, sekalipun suatu pasutri itu bercerai, seharusnya mereka memperhatikan tanggungjawabnya terhadap amanah, yakni anak-anak mereka. PASTIKAN bahwa anak-anak tetap dalam kontrol baik secara moral perilaku termasuk secara psikologis kejiwaan, ruhaninya. Agar, sekalipun kenyataan pahit yang mereka terima, yakni berakhirnya hubungan suami istri keduaorangtuanya, maka ia akan bersikap dewasa menghadapinya. Karena memang, broken home bukanlah akhir dari segalanya bagi anak-anak, jika saja orangtua bisa lebih bijak tidak mementingkan kepentingannya masing-masing.

Nah, karena kita tahu bahwa anak-anak dan remaja itu kematangan sikap dan perasaannya masih labil, terkadang kita tidak bisa menyalahkan begitu saja setiap penyimpangan yang mereka lakukan, sebab seperti dikatakan, anak-anak dan remaja itu makhluk peniru. Dan orangtua adalah contoh paling dekat yang dapat mereka ikuti. Tidak jarang, untuk kasus kecil saja, seperti kebiasaan merokok pada anak-anak, umumnya karena salah satu orangtuanya juga perokok. Maka dari itu, orang-orang dewasa yang terdekat dan bersentuhan dengan anak-anak ataupun remaja harus lebih peduli dengan mereka. Memberi peluang agar mereka dapat didengar pendapatnya serta dihargai kehadirannya. Dan ajaklah mereka untuk mengkaji kasus-kasus dan mencoba bagaimana penyelesaian atas suatu problem tersebut. Pendampingan memang perlu. Baik dalam kondisi rumah tangga yang tanpa perceraian ataupun dengan perceraian. Sebagaimana pentingnya pendidikan seks, hal terkait pernikahan dan perceraian pun penting!

Di lain pihak, institusi pendidikan seperti sekolah dan madrasah khususnya harus memaksimalkan peran serta guru bimbingan dan konseling, atau jika tidak semua guru  seharusnya memiliki kepedulian dan kesadaran pentingnya hubungan psikologis, selain hubungan akademis. Karena anak-anak yang melakukan kenakalan itu seringkali karena ingin diketahui ataupun disadari eksistensinya oleh orang lain, baik guru, terlebih orangtua. Karena bagaimanapun, orang semakin tinggi ilmunya atau pengetahuannya harus semakin bagus akhlaknya. Di sinilah pendidikan budipekerti harus diterapkan, dan dalam kasus pendidikan agama, materi pernikahan harus pula disertai studi kasus materi perceraian yang menyoal dampak-dampak broken home agar anak-anak memiliki pandangan yang siap dan matang soal seperti itu, agar mereka tidak terlalu galau karena memiliki ilmu untuk berpikir dan bertindak.

Nah, ustad-ustad di pengajian yang umumnya laki-laki itu pun harus fair dalam memberikan materi soal percerian kepada jemaah baik laki-laki maupun perempuan, agar tetap mengedepankan kepentingan anak-anak, dan sebisa mungkin mengupayakan agar suatu pernikahan sukses sampai akhir hayat. Karena kasus-kasus moral remaja sekarang tidak lepas dari moral orangtua, dan kadang tidak luput dari moral para pemuka agamanya, yang perlu juga mendapatkan perhatian.

KEPEDULIAN masyarakat juga harus ada terkait permasalahan rumah tangga yang broken home. Ini terkait stigma buruk dari masyarakat terhadap anak-anak broken home, tidak jarang masyarakat malah menjatuhkan mental anak-anak sehingga moralnya goyah. Seharusnya masyarakat memberikan dukungan dengan membentuk suatu kehidupan madani yang mengusung perikehidupan yang penuh semangat positif, bukan malah sebaliknya.

Sekalipun masalah kenakalan remaja saat ini belum dapat diminimalkan secara maksimal atau bahkan dihilangkan, kita bisa memulai dengan meminimalkan diri masing-masing, khususnya orang dewasa agar tidak melakukan kenakalan moral. Sebab seorang muslim itu memang tidak lepas dari akhlak. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun ditugaskan oleh Allah “untuk menyempurnakan akhlak” [HR. Bukhari], dan Al-Qur’an sudah mengabarkan pada kita bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya, uswatun hasanah, teladan yang baik yang dapat kita ikuti termasuk dalam hal mendidikan anak-anak maupun membina rumah tangga surgawi. Masalahnya, apakah kita semuanya punya kemauan untuk menyelami samudra ilmu dan mengambil mutiara-mutiara kehidupan-Nya tidak?

Marilah kita mulai membina rumah tangga sebagai ujung tombak kebangkitan suatu negeri, serta mendidik anak-anak dengan baik. Dan bagi rekan remaja putra maupun putri di mana pun berada, yakinlah bahwa keputusan pahit orangtua kalian untuk bercerai bukanlah akhir dari segalanya. Kalian bisa menjadi yang paling mulia dengan takwa. Tetaplah berbuat baik dan berbakti sepatutnya pada orangtua. Akhirul kalam, mari kita tutup bahasan ini dengan bersama-sama merenungkan hadis nabi yang mulia ini:

“Muslim yang paling sempurna imannya adalah yang perilakunya paling baik.” [HR. Tirmidzi]

 

 

Please like & share: