Multiperan Orangtua sebagai Central Lock bagi Remaja

[Karya KBM3] Multiperan Orangtua sebagai Central Lock bagi Remaja

Posted on Updated on

Remaja. Babak kehidupan yang mau tidak mau, suka tidak suka akan dilalui oleh setiap individu. Bedanya, ada yang melaluinya dengan baik dan ada yang melaluinya dengan berbagai konflik permasalahan

Tidak bisa dipungkiri, dunia remaja adalah dunia yang sangat unik. Masa-masa pencarian jati diri, yang kerap memunculkan rasa keingintahuan terhadap sesuatu hal sehingga timbul perilaku-perilaku khas pada diri kaum remaja. Kehidupan yang modern dan pengaruh budaya pop menambah kuat dinamika tersebut sehingga tak jarang membawa individu remaja turut larut di dalamnya.

Persoalan remaja sangat beragam, seperti percintaan, pergaulan, gaya hidup serta fashion. Persoalan percintaan sering mengarah pada seks bebas, keputusasaan karena ditinggal pacar, transaksi cinta, melawan orangtua yang katanya “demi cinta”, aborsi. Kemudian persoalan pergaulan tidak luput dari narkoba, dunia gemerlap, bergaya hidup mewah serta persoalan fashion yang identik dengan tren pakaian mini, ketat, aksesoris mahal, gadget canggih dan makeup yang berlebihan. Semua itu tak lain merupakan refleksi dari kondisi sosial remaja kita saat ini.

Meski demikian, saya menganggap bahwa mereka adalah “korban”. Sebab, saya yakin bahwa bukan mereka tidak ingin berprestasi atau menjadi remaja dengan pribadi yang baik, tapi semua itu karena kurangnya kontrol sosial dari pihak-pihak yang dianggap lebih “dewasa” dalam lingkungan mereka, seperti orangtua, guru dan atau siapapun yang lebih tua. Ingat, masa remaja adalah masa pencarian jati diri sehingga secara psikologis mereka sangat labil dan rentan terhadap intervensi dari luar diri mereka sendiri. Sehingga pendampingan yang baik dan tepat sangat dibutuhkan oleh mereka.

Saat ini, dibutuhkan orangtua yang “cerdas”, yaitu orangtua yang mampu memainkan multiperan terhadap anaknya. Orangtua bukan hanya berperan sebagai “orangtua” semata tapi juga bisa menjadi sahabat, guru, psikolog ataupun partner bagi anak-anaknya. Dengan memainkan multiperannya, diharapkan orangtua dapat melakukan pendampingan sekaligus menyelami dunia anak tanpa tersekat oleh status “orangtua-anak” sehingga keterbukaan, rasa kepercayaan dan hubungan emosional diantara keduanya akan tumbuh dengan baik. Orangtua akan mampu memposisikan dirinya sebagai “sahabat anak” dan anak sendiri mampu menghargai dan menghormati orangtuanya.

Sebagai orangtua, hendaknya kita mampu menyingkirkan ego demi sebuah kebaikan. Mau dan peduli mempelajari tentang perkembangan dunia anak sangat berpengaruh besar dalam meminimalisasikan tingkat konflik yang terjadi pada diri sang anak.

Satu contoh yang pernah saya dapati di tengah kegiatan saya sebagai konselor tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Si A seorang remaja telah memiliki ketergantungan terhadap narkoba. Berawal dari ajakan seorang teman, penasaran, mencoba dan akhirnya menjadi seorang pecandu. Setelah ditelusuri, ternyata orangtua si A tidak mengetahui jika anaknya adalah seorang pecandu. Dan parahnya, orangtua si A juga tidak tahu apa itu narkoba, jenis-jenisnya dan bahayanya jika disalahgunakan !

Sungguh gambaran riil kondisi masyarakat kita saat ini. Ternyata, dari gencarnya sosialisasi dan kampanye anti narkoba masih ada lapisan masyarakat yang belum tersentuh sama sekali. Saya menyadari, sosialisasi dan kampanye anti narkoba selama ini memang lebih terfokus pada kalangan pelajar dan remaja saja. Sangat jarang sosialisasi ditujukan untuk orangtua. Padahal, menurut saya, orangtua adalah central lock dari segala persoalan remaja saat ini. Sebab pembentukan karakter itu berawal dari lingkup yang terkecil yaitu keluarga, dan orangtua adalah “guru” di dalam lingkup tersebut, sehingga jika orangtua saja tidak mengetahui tentang narkoba dan bahayanya, bagaimana informasi tentang bahaya narkoba ini dapat terserap sempurna kepada diri sang anak ?! padahal, akan jauh lebih baik jika informasi bahaya narkoba ini disampaikan langsung oleh orangtua ketimbang oleh orang lain bukan ?

Lantas siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini ?

Jawabannya tidak ada. Bukan saatnya lagi kita saling menuding siapa yang salah. Akan jauh lebih bijak, jika kita mau saling bercermin diri dan memikirkan solusi yang tepat dalam menyikapi persoalan kaum remaja saat ini. Jika kita hanya saling mencari pembenaran maka tidak akan ada ujungnya, sebab setiap orang memiliki rasionalitas masing-masing. Alangkah lebih indah kalau kita berlomba-lomba memberikan ide dan solusi yang terbaik untuk menyelamatkan kaum remaja yang notabene adalah generasi penerus bangsa ini…

Melalui tulisan ini, saya sumbangkan sedikit ide/tips untuk menyikapi persoalan remaja yang kerap terjadi saat ini khususnya narkoba, semoga dapat menjadi referensi bagi pemerintah, para orangtua dan dewasa dalam melakukan pendampingan kepada kaum remaja :
1. Mindset
Ubah mindset kita sebagai orangtua yang “kaku” menjadi orangtua yang “bersahabat” dengan anak, agar kita dapat melakukan pendampingan dengan menyelami langsung dunia anak, sehingga tumbuh kedekatan secara emosional, terbentuk keterbukaan dan rasa kepercayaan diantara keduanya. Hal ini penting agar orangtua dapat melakukan control terhadap perkembangan anak dengan lebih baik, sehingga dapat mendeteksi dini apabila terjadi konflik atau perilaku sang anak yang menyimpang.

2. Pendidikan Keagamaan
Pendidikan Agama adalah mutlak sebagai pondasi dalam diri sang anak. Tanamkan pendidikan agama sejak dini agar terbentuk karakter “agamis” pada diri anak sehingga dalam berperilaku otomatis akan didasari oleh nilai-nilai agama dan pada akhirnya dapat menjadi benteng bagi sang anak untuk mempertahankan diri dari intervensi negatif dunia luar.
Islam adalah agama yang sempurna. Berbagai persoalan di dunia dan akhirat semua sudah terangkum tanpa celah sedikitpun. Termasuk persoalan anak dan remaja. Orangtua harus memahami benar bahwa mendidik anak dan mengarahkannya pada jalan Allah SWT adalah sebuah kewajiban. Bukan hanya bertujuan untuk menghindari persoalan duniawi tapi juga sebagai wujud tanggungjawab kepada Rabb. Islam adalah agama yang tidak mempersulit, namun seringkali kita lalai dalam mendekatkan diri pada ajaran-ajaranNya. Kelalaian-kelalaian inilah yang mengantar kita pada persoalan-persoalan yang sulit. Jadi sebenarnya justru manusia sendiri yang mempersulit dirinya sendiri.
Sebagai orangtua, selain mendidik juga harus mendoakan sang anak. Percaya bahwa kuasa Allah SWT adalah diatas segala-galanya dan ridho Allah SWT adalah ridho orangtua. Lantas, mengapa kita sebagai orangtua kerap ‘lalai’ dalam mendidik anak ?
Mengajarkan pendidikan agama pada anak harus diikuti dengan contoh. Be an role model untuk anak-anak kita. Jangan salahkan anak jika tidak mau sholat jika kita sendiri lalai dalam menjalankan sholat…
Mari kita sebagai orangtua mendoakan anak-anak kita agar mereka menjadi sholeh/sholehah. Sebab doa anak sholeh/sholehah untuk orangtuanya adalah doa yang paling didengar oleh Allah SWT…subhannallah…
Berikut Doa agar anak/ keturunan menjadi orang shaleh :
Rabbi hab lii minash shaalihiin
“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh”
(Ash Shaaffaat, 37:100)

3. Perketat Aturan Tayangan Televisi
Tanpa kita sadari, tayangan-tayangan di televisi kerap memberi dampak yang kurang baik terhadap perilaku remaja kita. Pantulan kehidupan “di televisi” terhadap remaja (di daerah) terbukti sangat luar biasa. Satu contoh, adik saya minta dibelikan ponsel. Saat ditanya ponsel seperti apa, dia langsung menunjuk pada salah satu adegan sinetron remaja dimana salah satu aktris utamanya sedang menenteng ponsel tersebut. Ini salah satu bukti nyata bahwa tayangan remaja di televisi memberi dampak imitasi yang sangat besar. Sudah saatnya para pelaku industri televisi dan pemerintah melakukan upaya ketat untuk menyaring setiap acara yang ditayangkan. Atau setidaknya, tayangan remaja (sinetron khususnya) dibuat sedikit “santun” agar dampak negatifnya dapat diminimalkan. Saya berharap, tayangan televisi tidak hanya mengangkat budaya pop yang lebih mengedepankan estetika-resepsi ketimbang estetika kreasi, dimana sebuah tayangan lebih dinilai dari angka bisnisnya ketimbang nilai kreatifitasnya.

4. Stop Penjualan Miras, Rokok secara Bebas
Fakta miras terjual dengan bebas juga sudah bukan rahasia lagi. Saya sendiri, banyak menemukan minuman beralkohol dijual bebas di minimarket-minimarket terkenal di seluruh penjuru negeri. Bahkan, minuman tersebut dijajarkan rapi dengan minuman lainnya yang tidak beralkohol. Jelas, ini adalah kondisi yang sangat membahayakan. Dengan menjual miras secara bebas sama halnya dengan “membebaskan” konsumsi minuman keras di berbagai kalangan, mengingat minimarket tersebut konsumennya adalah segala usia.

5. Sosialisasi secara Simultan
Gerakan-gerakan moral penyelamat anak negeri sebenarnya sudah cukup banyak. Seperti Gerakan Anti Miras, Komunitas-Komunitas Anti Narkoba, dll. Hanya saja, keterbatasan selalu menjadi kendala sehingga sosialisasi tidak dapat dilakukan dengan maksimal. Karena itulah, dibutuhkan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat dan kalangan untuk ikut serta berpartisipasi dalam sosialisasi positif secara menyeluruh dan simultan. Artinya, sosialisasi tidak hanya dilakukan sebatas “menyampaikan” tapi juga bagaimana berperan aktif dalam “mengontrol” situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita.

6. Rekrut Relawan Anti Narkoba dan Miras dari Kalangan Remaja Sendiri
Upaya merekrut relawan anti narkoba dari kalangan remaja itu sendiri merupakan taktik agar mereka dapat menyampaikan sosialisasi “dengan Bahasa mereka” kepada remaja-remaja yang seusia. Diharapkan, penyampaian sosialisasi di kalangan usia yang sama dapat lebih efektif untuk dipahami. Para relawan ini dibekali dengan pengetahuan tentang sosialisasi dan bahaya narkoba/miras secara mumpuni untuk diteruskan kepada “teman-teman” nya.

7. Memberi Wadah Bagi Kegiatan Positif Remaja
Dunia remaja adalah dunia yang dinamis. Dunia yang sangat aktif baik secara fisik maupun mental. Tidak melulu banyaknya konflik, dunia remaja juga tidak jarang berisikan ide-ide cemerlang yang bersifat segar, baru dan cerdas. Ide-ide bermuatan positif inilah yang harus didukung dengan maksimal. Salah satunya melalui pemberian wadah (fasilitas) untuk menyalurkan kegiatan mereka. Satu contoh, remaja memiliki adrenalin yang tinggi untuk membalap, lantas kenapa tidak kita sediakan lintasan untuk menyalurkan hobi balap mereka ? daripada mereka membalap liar di jalanan yang bukan saja membahayakan diri mereka sendiri tapi juga orang lain ?! kita tidak pernah tahu, siapa sangka suatu saat nanti diantara para remaja yang hobi membalap ini akan mengharumkan nama bangsa dengan menjadi pembalap internasional…

8. Tidak Apatis
Buang jauh-jauh sifat apatis kita. Bersikaplah peduli dengan sekitar kita. Sebab kalau bukan kita yang menjadi kontrol dan menyelamatkan remaja saat ini, siapa lagi ? mulailah peduli meski dari hal-hal yang kecil, misalkan mau menegur orang lain yang melakukan tindakan kurang baik/kurang sopan, menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan, menebarkan kebaikan dan informasi yang benar kepada orang lain, dll

Rasul SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah” tergantung kedua orang tuanya, secara sadar atau tidak, hendak membentuk mereka seperti apa. Akan membentuk anak-anak yang shalih yang menyejukkan pandangan mata siapa pun yang mengenalnya, atau hendak menjadikannya anak thaleh (salah) yang dibenci setiap orang yang memandangnya. Model pendidikan orang tua, menjadi kunci utama seberapa berhasil dalam membentuk anak-anak, menjadi anak yang shalih. Oleh karena itu, orang tua seyogianya tepat dalam menentukan apa-apa diajarkan kepada anak-anak dan bagaimana metodologi pendidikan terefektif (Sumedi, A.Md.Tek : 2010)

Pada akhirnya, dunia remaja tetaplah dunia remaja yang harus dilalui. Kita tidak dapat memungkiri itu. Namun, kita bisa mengupayakan agar remaja tidak salah dalam mengartikan dunianya. Bagaimana agar dunia remaja dapat dilalui dengan baik dan berhasil menjadi dunia yang indah ? tentu, sebagai orangtua kita harus mulai bercermin diri, mengalahkan ego dan mau merangkul remaja serta menyelami dunia “unik” mereka dengan menjadi “sahabat” bagi mereka.

Percayalah, bahwa tempat paling aman di dunia bagi remaja adalah pelukan dan keramahan orangtua. Jika para remaja sudah “menemukan” tempat ini, inshaAllah ketika ada konflik/persoalan, tempat “pelarian” mereka untuk berbagi dan mencurahkan isi hati adalah tepat, yaitu orangtua.
***

Please like & share: