Pemakluman Lingkungan yang ‘Kebablasan’

[Karya KBM3] Pemakluman Lingkungan yang ‘ Kebablasan’

Posted on Updated on

” Ah gak apa-apa, masih muda kok. Nanti juga kalau waktunya dapat hidayah dia bakalan pakai jilbab sendiri. Hidayah kan sendiri-sendiri “

Acap Kali saya sedih mendengar komentar seperti diatas, terlebih jika itu keluar dari mulut orang-orang terdekat saya. Ingin rasanya saya lantas menjelaskan apa-apa yang seharusnya kita lakukan dalam versi pemahaman saya, tapi selalu urung. Saya menyadari, saya ini tipikal orang yang keras jika sudah membicarakan hal prinsip – terlebih tentang tuntunan hidup menurut Qur’an dan Sunnah – saya biasanya akan terus berusaha menjelaskan, tapi sekarang saya mulai diam. Saya diam sebab saya sudah bingung harus bicara bagaimana lagi.

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (*) ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

(*) Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Dari ayat tersebut diatas, kita lihat bahwa Allah memerintahkan kaum perempuan untuk menutup aurat dengan baik. Allah sendiri yang mengatakan dalam firmannya, dimana ayat tersebut adalah perintah yang sangat tegas dan wajib dilakukan bagi perempuan yang beriman. Darimana kita tau bahwa ayat tersebut adalah ayat yang tegas ? Jawabannya ada pada ayat di bawah ini :

An-Nurr (1) : (ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam) nya, dan Kami turunkan didalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya

Ayat pembuka dari surat An-nurr diatas tegas menjelaskan bahwa hukum wajib untuk mengikuti perintah yang kemudian termaktub di ayat selanjutnya dalam surat tersebut. Salah satu perintahnya adalah tentang perintah menutupi aurat -pun sudah diatur cara untuk menutupi aurat pada kaum perempuan -yang jika tidak dilaksanakan maka akan mendapatkan dosa yang berat.

Perintah menutup aurat adalah perintah yang diturunkan sebagai bukti kasih sayang Allah pada kaum perempuan. Sebagai bukti betapa Allah memuliakan kaum perempuan dengan perintahnya tersebut. Bahkan Di ayat yang saya contohkan diawal ( Al-ahzab : 59 ) Allah menyertakan keterangan bahwa salah satu tujuan Allah memerintahkan hal tersebut adalah supaya mereka tidak di ganggu. Dan apa yang Allah katakan adalah kebenaran yang paling benar. Yang paling hakiki.

Contoh gampangnya saja kita lihat, perbedaan perempuan yang menutup aurat dengan yang tidak menutup aurat adalah saat diganggu Pria iseng misalnya. Kita akan emndapati siulan atau bahkan omongan tidak senonoh jika para lelaki nakal menganggu perempuan yang tidak menutup aurat. Tapi kita coba lihat pada perempuan yang menutup Aurat, mungkin godaang dan gangguan itu tetap akan ada namun datang dalam bentuk yang sangat baik. Celetukan godaan itu paling hanya di sekitar ” Assalamualaikum “ Atau ” Mau kemana bu Hajjah ?” . Cob, bahkan kenakalan dan keisengan yang mendatangi pun dalam bentuk doa yang baik, salam yang baik. Maka adalah benar perintah Allah untuk menutupi aurat bagi kaum perempuan bukanlah sebagai pembatas dirinya tapi justru sebagai gerbang kebebasannya.

Banyak teman saya khawatir akan terbatas aktivitasnya jika mereka mengenakan Hijab. Mereka Khawatir nantinya akan jadi sulit bergerak sebab terhalang Jilbabnya, mereka akan jadi tidak modis karna tidak bisa mengenakan pakaian yang bergaya ini itu, mereka akan kepanasan sebab seluruh tubuhnya tertutup kain. Seperti contoh obrolan saya dengan seorang kawan yang akan saya kutip dengan dialog dibawah ini :

Teman ( T ) : ” Nanti kalo pakai Jilbab aku jadi gak leluasa bergerak. Gak bisa ikut kegiatan ini itu.

Saya ( S ) : ” Masa iya? Kok aku melihat justru yang membuka Aurat itu yang gak leluasa yah. aku sering lihat di angkutan umum mereka sibuk membenahi pakaian mereka yang terbuka, menutupinya dengan tas atau jaket. Sementara yang berjilbab, duduk tenang dan santai saja. Aku juga sering lihat loh, banyak perempuan-perempuan yang tetap santai berjalan di terik matahari tanpa takut kena panasnya dan gak lari-larian karna takut hitam. Pakaian mereka yang tertutup sudah cukup untuk melindungi kulit mereka.

(T) : Wah, nanti aku gak cantik lagi deh kalo pake Jilbab. Kulit putih aku ketutupan, rambut aku yang indah panjang dan berkilauan di sembunyikan. Ngapain coba capek-capek keramas dan luluran kalo gak ada yang lihat?

(S) : Wah, Justru Menutup aurat akan menjaga usahamu itu. Udah capek-capek luluran terus mau kamu biarin kulit kamu itu kena debu di jalan, kena matahari gitu aja? Tutupin dong. Udah mahal-mahal kesalon buat perawatan rambut nanti acak adut lagi kena angin di jalan. Lagi pula, Allah memang sengaja melindungi tubuh perempuan dari pandangan yang bukan Mahromnya. Mereka gak punya hak apapun untuk melihat tubuh kamu.

(T) : Gak pake Jilbab aja udah panas banget, gimana pake jilbab? Gak kuat deh.

(S) : Hukum menutup aurat itu wajib. Tidak melakukannya berdosa sama seperti kamu tidak sholat. Dan hukumannya adalah api neraka. Kalo kamu aja merasa gak sanggup menanggung panas matahari, maka api neraka panasnya jauh lebih dahsyat dibanding itu.

Seringkali saya berusaha meluruskan, bahwa menutup aurat bukan saja tentang hidayah pribadi. Tapi sudah kewajiban. Bahwa menunggu hidayah datang tanpa berusaha, sama artinya seperti menunggu Godot. Sulit dan tidak akan pernah terwujud. Tidak akan ada yang tau sampai kapan usia kita di dunia, dan kematian adalah batas yang samar dibalik semua usaha kita. Lakukan sekarang atau kita akan menyesal.

Kewajiban yang saya bicarakan ini bukan cuma isapan jempol. Sudah saya contohkan bahwa Allah menurunkan perintah tentang hal ini dan mewajibkannya di awal surat An-Nurr diatas. Dan mari kita tengok apa ayat yang mengatakan tentang perintah menutup aurat bagi kaum perempuan tersebut :

An Nurr ( 31 ) : Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) (*) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

(*) Yang Biasa tampak Mengandung pengertian Wajah dan telapak tangan. Hal ini ada pada HAdist Rasulullah yang dituturkan oleh Aisyah Ra : ” Suatu ketika datanglah anak perempuan dari saudaraku seibu dari ayah ‘Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tetapi tiba-tiba Rasulullah saw. masuk seraya membuang mukanya. Aku pun berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung.” Beliau kemudian bersabda, “Apabila seorang wanita telah balig, ia tidak boleh menampakkan anggota badannya kecuali wajahnya dan ini.” Ia berkata demikian sambil menggenggam pergelangan tangannya sendiri dan dibiarkannya genggaman telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya). (HR Ath-Thabari).

Nah, penjelasan diatas artinya sudah pasti bahwa menutup aurat bukan lagi tentang cultur Arab, hidayah atau bahkan sekedar fashion semata. Tapi adalah kewajiban. Dan hal itu haruslah di paksakan. Seperti halnya sholat, melakukan kewajiban menutup aurat ( Berhijab ) harus melalui paksaan yang keras. Terutama jika perempuan tersebut sudah akil baligh. Sebuah paksaan akan membuat individu akhirnya menggunakan, setelah menggunakan dia akan belajar untuk terbiasa, lantas setelah menjadi kebiasaan dia akan menerima keadaan itu dengan ikhlas, dan akhirnya keihklasan akan menciptakan cinta di dalam keadaan itu. Disitulah hidayah muncul, dia datang saat ikhlas dan cinta sudah terpatri didalamnya. Dan hanya 1:1000 manusia yang Allah beri hidayah tanpa perlu paksaan. Bahkan perubahan drastis yang muncul dari seseorang yang menurut kita tanpa paksaan pun adalah hidayah dari Allah dalam bentuk paksaan cara Allah. seorang yang mendadak berhijab adakalanya telah melihat, mendengat atau bahkan mengalami sendiri suatu kejadian yang menyadarkannya. Biasanya itu berupa teguran, azab atau musibah dari Allah. Wallahualam.

Lantas, setelah seharusnya paksaan itu terjadi pada perempuan-perempuan disekitar kita, kita menjadi takut untuk melalaikannya. Juga para lelakinya. Sebab sepemahaman saya yang dangkal ini, bahwa kaum pria itu bertanggung jawab atas 4 perempuan dalam hidupnya. Yaitu : Ibunya, Istrinya, saudara perempuannya dan Anak perempuannya. Maka dari itu, sebagai perempuan yang berfikir, artinya apapun yang kita lakukan di dunia ini kelak nanti bukan hanya kita sendiri yang menanggungnya, tapi juga 4 pria di sekitar kita yaitu : Ayah kita, Suami kita, anak lelaki kita dan saudara lelaki kita. Andaikata kita tidak berhijab, maka kita tidak hanya berdosa sendirian, tapi juga menyeret ke empatnya dalam kubangan dosa yang sama. Naudzubillah.

Ada sahabat saya yang mengatakan, bahwa berhijab itu haruslah siap lahir dan bathin. Tidak bisa dipaksakan dan harus dari hati. Tidak masalah tidak menutup aurat secara fisik, asalkan hatinya sudah berhijab.

Itu adalah frasa klise buat saya. Saya akui, kita memang tidak bisa saklek dalam mengutarakan pendapat. Tapi, kelemahan kita dalam menyampaikan syiar agama, terlalu menghindari konflik dan takut terjadi benturan jika menyampaikan dengan tepat, adalah sarana ampuh syetan untuk masuk dan menggoda syiar kita. Saat kita memaklumi adanya kewajaran belum berhijab sebab belum siap, asalkan pribadi yang bersangkutan tetap beribadah sesuai syariat islam ( Sholat, zakat, dsb ) adalah salah satu sebab mengapa akhirnya banyak dari kaum perempuan yang tetap percaya diri membuka auratnya di depan yang bukam mahromnya. Pemakluman itu adalah hal yang tanpa kita sadari sudah melenakan kita semua.

Sadar ataupun tidak setiap kali kita melakukan shalat 5 waktu kita senantiasa bersumpah kepada Allah SWT, “La syarikallahuwabidzalika ummirtuwa anna minal muslimin. “ Yang artinya “Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah” kalimat sumpah dan janji kepada Allah untukmentaati perintah Nya dan Menjauhi larangan Nya senantiasa kita ucapkan di dalam shalat. Dan jika kita tidak menutup aurat, maka sumpah dan janji kita pada Allah saat sholat adalah palsu. sebab menutup aurat adalah perintah Allah untuk perempuan muslimah. Dan seseorang yang berjanji palsu dihadapan Allah, tentu berat hukumannya di dalam neraka.

Tentunya jangan khawatir, sebab Allah Dalam surat An Nurr ( 31 ) hanya memerintahkan kewajiban menutup aurat bagi mereka kaum perempuan yang beriman. Maka bagi yang tidak beriman pada Allah, tidak perlu pusing dan takut untuk membuka aurat. Silahkan membuka aurat, sebab setelah itu Allah tidak akan menganggapmu beriman.

ada hal lucu yang pernah diajarkan ibu saya dahulu tentang menutup aurat. Karna saat itu saya masih kecil, ibu saya menggunakan contoh makanan sebagai penggambarannya. Namun justru karna mudah dipahami itulah akhirnya saya memutuskan untuk berhijab.

Ibarat makanan, perempuan berhijab dan tidak berhijab adalah makanan yang terbuka dan tertutup. Kita akan mendapati makanan yang terbuka dijual di pinggir jalan, dengan harga murah dan terkenan banyak debu. Pembeli pun akan dengan entengnya mencomot dari satu ke lainnya untuk memilih mana yang akan akhirnya mereka beli. Misalnya pisang goreng yang dijual di pinggir jalan. Entah sudah berapa tangan pembeli yang menyentuhnya, lalu urung membeli dan memilih pisang goreng yang lain. Entah sudah berapa banyak debu yang menempel di pisang goreng tersebut, dan harganya sangat murah. Siapapun bisa membelinya. Lalu makanan yang tertutup, dibungkus rapi dengan plastik, akan disimpan dengan manis di etalase. Siapapun tidak berani menyentuhnya, apalagi membukanya. Dilihat boleh di sentuh jangan, sebab siapapun yang menyentuhnya haruslah membelinya. Tidak ada satu butir debu pun yang bisa hinggap, ia akan terlindung dari panasnya matahari dengan kualitas rasa yang tetap sempurna. Bahkan, yang membelipun bukan orang sembarangan. Dengan harga yang pasti lebih mahal, hanya mereka yang telah mapan saja yang mampu membelinya. Hanya mereka yang berfikir untuk sehat saja yang akan menjadi pemiliknya. Mereka yang pelit, akan sayang membeli makanan mahal jika ada yang murah. Sementara begitu banyak debu yang jelas akan menjadi biang penyakit di tubuh pembeli.

Masih tentang makanan, jika kita cukup berhijab dalam hati saja apakah makan juga bisa dalam hati saja? Ibadah -termasuk didalamnya adalah berhijab- adalah tentang luar dan dalam, fisik dan psikis, lahir dan bathin. Apakah jika kita lapar maka kita akan kenyang jika hanya makan di dalam hati saja? Maka itu, hati memang harus berhijab, namun fisik lebih penting lagi. Tidak hanya fisik yang perlu ditutupi, namun hati juga.

Banyak yang mengatakan, bahwa ada perempuan yang berhijab namun hatinya busuk. Tapi ada pula perempuan yang tidak berhijab tapi berhati baik. Bahwa sebaik-baiknya perempuan adalah yang menutupi auratnya. Dan andaikata dia memiliki hati yang buruk, paling tidak dia sudah menjalankan perintah Allah dan menunaikan kewajibannya. Tinggal membenahi hatinya saja. Jangan sudah buruk hati, tidak berhijab pula. Tapi sebaliknya, jika tidak berhijab tapi hatinya baik, saya justru mempertanyakan kebaikan hatinya. Sungguhkan ia memang baik hati? lalu mengapa ia tidak melaksanakan kewajibannya pada yang memilikinya, Allah Ta’alla.

Selayaknya, kita harus membiasakan diri untuk terus menegur keluarga terdekat kita yang belum berhijab, kerabat kita dan orang disekitar kita. Kebaikan akan melingkupi kita jika bergaul dengan orang-orang yang mencintai dan mematuhi perintah Allah. Mulailah untuk memperkenalkan keindahan hijab dengan cara yang menyenangkan, dengan bahasa yang mudah diterima, dengan sikap yang akan menarik hati mereka untuk mengikuti kita berhijab. Bagaimanapun segalanya bermula dari kesadaran masing-masing individu, termasuk diri kita sendiri.

Segalanya memang harus dimulai dari diri sendiri. Apakah kita sudah berhijab? Apakah keluarga terdekat kita sudah menutup aura? Apakah keluarga besar kita masih ada yang tidak dari klasifikasi perempuan beriman karna masih mempertahankan dunia dan tidak berhijab? Segalanya harus dimulai dari diri kita sendiri. Namun sadarkah, jika saja semua berfikiran sama, bahwa berhijab adalah tanggung jawab kita bersama maka niscaya seluruh wanita muslim di dunia ini akan menjadi muslimah yang taat pada syariat Allah. Tanpa keraguan. Maka dari itu, kitalah yang harus menghentikan pemakluman itu, terus dorong sekeliling kita untuk berhijab. Terus semangati mereka untuk menutup auratnya dengan baik. Hanya itulah persembahan terbaik kita pada Allah yang maha penyayang. Subhanallah.

 

Please like & share: