pendidikan anti korupsi sejak dini

Karya KBM1: Pendidikan Anti Korupsi Sejak Usia Dini

Posted on

Penulis: Diah Kusumastuti @d3kusumastuti

Predikat: Pemenang Hadiah Juara Ke-3

Sebagai warga negara Indonesia, saya sangat prihatin menyaksikan berita di berbagai media massa yang hampir setiap hari membahas tentang korupsi. Semakin hari semakin banyak kasus korupsi yang terungkap oleh pihak yang berwenang (dalam hal ini dan saat ini adalah KPK). Itu semua yang sudah terungkap. Saya yakin masih banyak kasus korupsi yang belum tersentuh hukum. Karena nampaknya korupsi sudah mengakar di negeri ini, atau mungkin sudah menjadi budaya hingga ke seluruh negeri?

Sebagai ibu dari seorang anak balita, saya sangat miris menyaksikan berbagai degradasi moral yang terjadi saat ini, di negara ini. Terutama yang berkaitan dengan masalah korupsi. Saya takut, bagaimana lingkungan anak saya nantinya bila telah dewasa, apakah akan sama seperti sekarang? Ataukah lebih parah? Dan mampukah anak saya kelak melawan arus itu?

Untuk melawan ketakutan saya sendiri tersebut, saya bertekad untuk memberikan pondasi terbaik bagi anak saya, agar kelak ia tak akan sampai terjerumus ke lingkaran korupsi. Dan akan lebih baik lagi jika kelak ia menjadi bagian dari orang-orang yang mampu memberantas korupsi.

Menurut saya, pondasi itu harus berawal dari dalam rumah. Karena, bila anak telah memiliki pondasi yang baik dan kuat dari dalam rumah (lingkungan terkecilnya) maka ia akan mampu membawa dirinya ke dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Ia tak akan mudah terombang-ambing oleh arus yang menyesatkan karena pondasinya telah kuat. Lalu, apakah pondasi yang saya maksud? Pondasi yang saya berikan adalah pendidikan yang baik di dalam rumah. Pendidikan tersebut mencakup pendidikan agama dan pendidikan umum. Pendidikan di usia dini yang berhubungan dengan larangan korupsi antara lain menyangkut kejujuran/larangan berdusta, kebenaran, larangan mencuri, dan lain-lain.

Menanamkan Sifat Jujur
Anak saya masih usia balita, jadi menurut saya ini adalah kesempatan yang tak boleh terlewat. Karena pendidikan yang diberikan kepada anak pada saat usia dini akan sangat berpengaruh kuat bagi masa depannya. Di usia balita, kemampuan anak dalam menyerap berbagai hal di sekitarnya sangat cepat, dan akan sangat membekas di kemudian hari. Contohnya, bila ia dididik untuk terbiasa bekata jujur, maka insya Allah kelak ia akan tumbuh menjadi orang yang terbiasa berkata jujur dan memilih kebenaran.

Tekad tersebut sudah mulai saya wujudkan dalam mendidik anak saya dalam keseharian. Saya memulainya dari diri saya sendiri (yang nantinya akan ditiru anak, insya Allah). Misalnya, saya tak akan berbohong hanya karena alasan agar dia diam dari tangisnya. Lebih baik saya berikan alasan yang mudah dia terima, agar dia mengerti dan terbiasa dengan kejujuran.

Misalnya saja waktu dia pilek, lalu dia minta es krim. Saya tak akan mengatakan bahwa di dalam es krim tersebut ada ulatnya atau apalah yang membuat dia takut, sehingga dia benar-benar takut lalu tak memintanya lagi. Tapi, saya akan jelaskan bahwa bila makan es krim, pileknya akan bertambah parah, dia akan lebih lama sakit dan tak kunjung bisa menikmati es krim kembali. Atau bila berada dalam kegelapan, saya tak akan menakut-nakuti dengan berbagai kebohongan, karena hanya akan membuat pemahaman yang salah pada anak, selain kelak ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah merasa resah dan cemas.

Bila kita sebagai orangtua terbiasa jujur kepada anak, secara otomatis dia akan menirunya. Apalagi di usia balita. Karena, anak balita adalah peniru sejati. Dia akan mudah menirukan apa saja yang ia tangkap dari sekelilingnya, entah itu kata-kata, perbuatan, atau bahkan juga sikap-sikap diam kita.

Ada yang mengatakan bahwa kebiasaan itu membentuk karakter. Saya sangat setuju akan hal itu. Dari kebiasaan sehari-hari, akan terbentuk karakter yang kuat pada anak. Dan lambat laun, karakter itu akan mewujudkan sebuah sifat. Begitu pula dengan kebiasaan berkata dan bersikap jujur, hal itu akan membentuk karakter anak menjadi jujur, dan kelak insya Allah akan mewujudkan sifatnya yang suka kejujuran dan memihak pada kebenaran.

Kasih Sayang dari Orangtua
Mendidik anak dengan penuh kasih sayang itu sangat penting. Karena dengan kasih sayang, hubungan antara anak dengan orangtua akan semakin erat. Tanpa sadar, alam bawah sadar anak akan selalu terpaut pada orangtuanya, menjadikannya teladan dengan sepenuh hati. Demikian halnya bila orangtua mengajarkan kebaikan-kebaikan dengan kasih sayang, maka anak pun akan melakukan hal-hal baik dan benar dengan rasa cinta. Bukan karena takut atau hanya demi menuruti perintah orangtua.

Sebaliknya, jika kita mendidik anak dengan kekerasan, meskipun yang diajarkan adalah tentang kebenaran, suatu saat efeknya akan lain. Bisa saja kelak si anak melakukan pemberontakan batin, karena dahulu dia tidak ikhlas melakukan perintah orangtuanya, karena terpaksa. Dampaknya, dia akan melampiaskan keterbelengguannya di masa kecil dengan bertindak sesuai keinginannya. Kalau sudah begitu, bisa saja ia akan mengambil jalan yang salah demi kepuasannya. Seperti berbuat korupsi.

Membiasakan Anak untuk Qana’ah
Qana’ah (merasa cukup dan ridha dengan pemberian rezeki dari Allah) itu penting dibiasakan kepada anak. Diharapkan, dengan pembiasaan bersikap seperti itu sejak dini akan terus terjaga hingga dewasa. Menjadi sangat penting karena dengan sifat itu seseorang akan selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, besar atau kecil. Sehingga dia tak akan mudah menginginkan nikmat/rezeki yang diterima orang lain. Dia akan jauh dari sifat iri dan dengki, hingga mungkin melakukan apapun dengan segala cara untuk mendapatkan seperti apa yang dimiliki orang lain.

Sifat iri dan dengki seperti itulah yang menjadi salah satu sebab seseorang melakukan korupsi. Dia ingin dengan mudah mendapatkan uang/materi tanpa bersusah payah terlebih dahulu.

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya.” (HSR Muslim (no. 1054).

Mendidik Anak Menurut Syari’at Islam
Syari’at Islam itu luas, tidak hanya mencakup hukum pidana-perdata. Tetapi juga menyangkut akhlaq. Maka selain anak harus kita didik mengenai hukum mencuri, berbohong, shalat, dan sebagainya, mereka juga harus kita biasakan untuk hormat kepada orangtua, menghormati hak orang lain, berkasih sayang dengan mereka, dan lain-lain. Semua itu sudah ada panduannya dalam syari’at agama Islam yang sempurna (Al-Qur’an dan Al-Hadits).

Mendidik anak mengenai syari’at (hukum-hukum Islam) bisa dilakukan sejak anak masih kecil. Mengenalkan makna ayat-ayat Allah kepada anak memang tak mudah, namun anak akan bisa menerimanya tergantung bagaimana kita menyampaikannya sesuai dengan tahap perkembangan umurnya. Seperti kepada anak saya yang masih balita, belum perlu saya sampaikan isi dan makna suatu ayat Al-Qur’an kepadanya. Cukup saya berikan pengertiannya saja. Misalnya dilarang mencuri, karena Allah membencinya. Bisa disampaikan ketika sambil bermain, bahwa dia tidak boleh membawa mainan temannya ketika pulang, karena itu bukan miliknya. Kalau mengambil yang bukan miliknya berarti mencuri, dan akan dibenci oleh Allah. Atau bisa juga disampaikan melalui dongeng-dongeng/cerita-cerita baik dari buku atau kita buat sendiri.

Mendidik anak mengenai syari’at Islam juga berarti mengajarkan anak bahwa segala perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah. Selain itu tanamkan pada jiwa anak bahwa segala perbuatannya selalu diawasi oleh Allah.

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan larangan korupsi adalah sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33)

“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (QS. An-Nisa’: 50)

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-A’raf: 37)

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”
(QS. An-Nahl: 105)

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?”
(QS. Al-Ankabut: 68)

“Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 188)

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)

Semoga, dimulai dari lingkungan yang terkecil yaitu rumah, akan terbentuk pribadi-pribadi yang suka kejujuran dan siap membela kebenaran. Sehingga meskipun lingkungan mengajaknya (memberikan celah) untuk melakukan korupsi, ia tidak akan tergiur dan terlena oleh kesempatan yang menyesatkan tersebut. Yang dapat memasukkannya ke dalam siksa api neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Saya membayangkan, jika para ibu melakukan pendidikan yang baik dan benar kepada anak-anaknya di rumah, terutama membiasakan berkata dan berlaku jujur, saya optimis, suatu saat negeri ini akan bersih dari korupsi. Meski saya pun menyadari, 20 atau 30 tahun mendatang ketika anak saya telah dewasa, tantangannya akan jauh lebih berat. Seperti yang kita lihat di masa-masa yang telah terlewat, korupsi kian hari kian menggila di negeri ini. Namun harapan itu selalu ada.

Dan semoga, saya termasuk salah satu ibu yang dapat mengambil bagian itu, dan terus istiqamah mendidik anak-anak dengan baik dan benar hingga kelak mereka dewasa. Aamiin.

Please like & share: