Penonton yang ‘baik’? Monoton

[Karya KBM3] Penonton yang ‘baik’? Monoton

Posted on Updated on

Penonton ‘yang Baik’? Monoton.

Ami Kurnia Dayanti~ (Amikurnia18@gmail.com)

“Berpangkuh tangan atau turun tangan? Menjadi penonton atau pemain? Pilihanmu, menentukan hidupmu. Sebelum, hidupmu ditentukan oleh pilihan yang ada.

Bergerak atau tergantikan, itu harga matinya.”

Wahai para pemuda generasi mendatang, sadarkah bahwa kita tengah dijajah dengan cara halus namun menusuk? Karena sejatinya kejahatan terstruktur akan mengalahkan kebaikan yang ada.

Dewasa ini selera dan trend kaula muda bergeser menuju budaya barat. Tak menampik, perubahan ini pun juga nampak secara fisik ataupun psikis dan mental generasi muda. Mulai dari gaya berpakaian, cara bertutur sapa dan pola pikir yang sedikit-demi-sedikit berbau budaya barat. Menjamurnya trend ala korea pun juga mengambil sebagian peran dalam berbusana. Wanita yang sebaiknya terbalut busana panjang, longgar dan tebal –nontransparan, kini bak patung yang tengah dipertontonkan pada khalayak umum dengan baju minim bahan. Pria pun tak ketinggalan, alih-alih bergaya mengikuti trend, yang ada malah bergaya sesukanya dan cenderung urakan, tidak tertata rapih.

Contoh kasusnya banyak disekitar kita, banyak wanita pun dengan pria menggunakan pakaian ala barat atau menggunakan pakaian yang mirip dengan idolanya yang marak dijual di online shop, pria bertindik, wanita menggunakan celana pendek atau ketat, seperti berubahah menjadi hal yang lumrah. Inikah peran pemuda bangsa sebagai agent of change? Inikah perubahan yang dimaksud disini?

Modernisasi memang harus! Mengikuti mobilitas global yang semakin merambah itu kebutuhan. Tak ada yang melarang. Namun, seberapa kuat saringan yang ada dalam diri kita? Itulah pertanyaannya. Sebagai generasi muda, banyak yang hanya mengikuti trend ke-kini-an tanpa mengolah info yang ada. Seperti anak kecil yang selalu ‘disuapin’ ketika hendak makan. Haus akan informasi itu memang bagus, dan harus. Itulah gunanya pemuda bangsa, haus akan informasi dan ide-ide kreatif baru, kemudian menciptakan sebuah karya, itulah peran pemuda sebagai agen perubahan.

Banyak dari anak muda kini hanya menjadi penonton yang baik, duduk manis dipinggir lapangan dan menggerutui apa yang terjadi dalam area pertandingan. Sementara mereka-mereka yang terjun dilapangan membuat gebrakan-gebrakan yang mengejutkan bagi si-penonton. Haruskah selalu anak muda hanya diam dan menunggu perubahan yang terjadi tanpa melakukan apapun? Ketika hasil telah tercetak haruskan anak muda selalu menikmatinya saja tanpa ada upaya merubah?

Trend memang banyak bergeser, namun jiwa menjadi pemain tidaklah boleh surut dengan gerusan ombak globalisasi. Peran pemuda muslim yang nyata, membuat perubahan berarti, berkualitas. Karena menjadi penonton yang baik itu tidaklah baik. Peran pemerintah, instansi terkait dan juga stakeholder lainnya dibutuhkan disini. Jika banyak kaula muda yang mengganti cara berbusananya, maka keluarkan trend baru yang islami, ciptakan, cetak generasi rabbani minimal dengan busananya terlebih dahulu. Jangan hanya menikmati trend busana saat ini, tapi ambil bagian didalamnya, buat perubahan dengan ikut menciptakan trend yang lebih relevan dengan budaya islam. Kembangkan ide-ide kreatif yang fresh dengan busana islami, pengembangannya dapat dilakukan dengan menjual baju-baju tersebut dengan online, pemerintah pun sebaiknya juga ikut membantu dengan memberikan batasan produk-produk yang boleh dipasarkan, luncurkan produk kreatif yang modis namun islamis, seperti hijab modern namun tetap syar’i.

Kreatif adalah tuntutan kini, terlebih kita tengah memasuki era baru di tahun 2015 ini, ada MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Dimana benih benih kreatifitas dari anak muda sangat diperlukan untuk ikut bersaing dalam MEA, bukan hanya duduk manis menjadi penonton dan menikmati karya orang lain. Minimal, menggunakan karya sendiri untuk diri sendiri, menggunakan produk dalam negeri dan mencintainya.

Masuknya budaya barat, korea dan sebagainya memang lebih kurang telah merubah tatanan berbusana yang sudah ada. Namun, dari sana kita bisa mengembangkannya dengan ide kreatif, kita bisa menginovasikannya menjadi lebih agamis dan layak dikenakan. Bila generasi muda punya banyak ide-ide unik seperti membuat rok non transparan, rok bolak-balik, baju panjang bolak-balik, kerudung tebal dan panjang yang juga bolak-balik, kerudung penuh motif dengan warna cerah untuk menarik minat berhijab, maka ide-ide inilah yang harus dikembangkan. Dukungan dari semua pihak agar kaum muda pun mampu berkarya dan mandiri dengan menghasilkan uang sendiri dari produk-produk yang mereka ciptakan ini sangat dibutuhkan.

Pemerintah pusat atau daerah bisa ikut berpartsisipasi dengan menyediakan pasar khusus busana islami dengan syarat pemilik merupakan kaum muda yang masih produktif seperti pelajar atau mahasiswa dengan harga sewa toko yang cukup murah untuk menyokong perekonomian kaum muda. Stakeholder seperti lembaga-lembaga sosial atau instansi terkait pun mampu membantu dengan mengadakan acara-acara pertemuan kaum muda untuk saling bertemu dan bertukar ide, diskusi kecil dengan tema-tema islami terkini yang diangkat. Pameran-pameran busana islami pun juga dapat dijadikan solusi inovatif dalam menarik minat masyarakat terhadap busana islami. Kerja sama pemerintah-instansi-pemuda dalam menyelenggarakan ‘bulan busana islami’ di departement store di Indonesia dapat dijadikan tumpuan dalam memperkenalkan karya pemuda kepada masyarakat. Kerja sama pemerintah-instansi-pemuda lainnya dalam menyokong ekspansi penggunaan produk busana islami modern ini sa;ah satunya dengan mengadakan siaran tentang produk islami yang tengah trend saat ini di televisi, ataupun media elektronik lainnya, pun juga dengan media cetak seperti koran atau majalah juga dapat dibuatkan kolam khusus tentang busana islami trendi yang tengah populer.

Solusi solutif lainnya dalam memasyarakatkan busana islamis namun modern kepada masyarakat adalah dengan pengembangan sistem online shop yang kini banyak dipilih pemuda dalam mempromosikan produknya, dibuat sistem online shop utama untuk promo produk busana islami, dengan target pasar minimal untuk remaja -penduduk lokal. Islam Cloth Corner dalam mall atau departement store seluruh Indonesia bila mampu terapkan akan meningkatkan nama busana islami yang kini tengah tergerus arus globalisasi. Pembuatan desa islamis, dimana merupakan perkumpulan penduduk yang produktif dalam menghasilkan busana islami layaknya kampung inggris di Pare.

Apabila pemuda telah produktif, salah satunya dengan menciptakan karya-karya busana islamis modern. Produk-produk kreatif pemuda ini yang masih banyak dirintis pada level home industry, sedikit-sedikit akan meningkatkan devisa bagi negara. Lokalisasi karya busana islamis yang terus gencar dilakukan, penggunaan media sosial dalam mengencangkan publikasi produk dapat merambah ke Nasional pemasaran produknya. Terlebih saat ini sudah memasuki era baru, dengan MEA, seakan tidak ada sekat atau batasan-batasan antar negara, publikasi di internet merupakan senjata utama. Apabila produk-produk lokal pemuda sudah kuat, maka insyaAllah pemuda akan siap bersaing dalam MEA 2015. Pemuda Indonesia bukan lagi hanya seorang penonton yang baik, namun menjadi pemain yang baik dalam MEA 2015 dengan memperkenalkan produk lokal busana islami yang modern dan trendi karya pemuda bangsa. Tetap syar’i namun mampu tampil modern.

Hidup Indoensia ku! Majulah, bergeraklah wahai generasi Rabbani!

 

 

www.muslimedianews.com

www.cyberdakwah.com

www.piss-ktb.com

Please like & share: