Peran Televisi Dalam Mendegradasi Moral Penerus Bangsa

[Karya KBM3] Peran Televisi Dalam Mendegradasi Moral Penerus Bangsa

Posted on Updated on

Menonton Televisi
Menonton Televisi (Sumber: http://www.ylki.or.id/wp-content/uploads/2012/02/anak-nonton-tv.jpg)

Televisi sebagai kebutuhan primer.

Tidak dapat dipungkiri, kemajuan jaman yang terjadi sekarang ini memberikan kemudahan serta mampu mendekatkan yang jauh. Di era informasi sekarang, televisi sepertinya telah menjadi kebutuhan hidup. Hampir disetiap rumah memiliki telivisi sebagai akses terhadap informasi utama mereka. Tidak hanya itu saja, televisi juga dijadikan sarana hiburan murah meriah bagi keluarga. Beragam program dan acara disuguhkan untuk memberikan informasi terbaru ataupun sekedar memberikan hiburan di waktu senggang. Walau kini telah ada internet, namun dominasi televisi sebagai sumber informasi dan hiburan yang murah meriah belum dapat tergantikan. Rasa-rasanya, masyarakat tidak mampu untuk hidup sehari saja tanpa televisi.

Komersialisasi yang tidak dibarengi dengan tanggung jawab moral.

Pada awal kemunculan televisi, masyarakat harus membayar untuk dapat menikmati siaran berita atau acara kesenian yang disiarkan oleh TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi kala itu. Pada masa itu, acara televisi pun dapat dihitung dengan jari. Namun walaupun sedikit, acara-acara yang disajikan berisikan nilai moral, sejarah maupun perjuangan yang positif. Saat ini, tidak kurang 15 stasiun televisi lokal dan nasional dapat kita nikmati. Tak kurang ratusan acara televisi dapat kita tonton nonstop 24 jam dan perlu lagi harus membayar iuran apapun. Kita hanya harus merelakan waktu menonton kita disela oleh iklan sebagai gantinya. Tak dapat dipungkiri, televisi kini telah menjadi lahan bisnis yang menguntungkan bagi mereka yang mempunyai modal besar.

Komersialisasi televisi saat ini sesungguhnya memberikan keuntungan yang besar bagi kita selaku penonton. Setiap stasiun televisi berlomba-lomba menyugukan tayangan terbaik mereka mulai dari berita, film hingga acara-acara hiburan. Tayangan-tayangan tersebut sejatinya sangat bagus bila dikemas secara bertanggung jawab dan mendidik. Namun sayangnya, persaingan bisnis yang makin ketat membuat para stasiun televisi berlomba-lomba mengejar target iklan serta mengesampingkan tanggung jawab moral. Banyak sekali tayangan dan tontonan yang kurang mendidik, mempertontonkan akhlak yang buruk serta hanya menampilkan gaya hidup hedonis yang siap meracuni para penontonnya terutama remaja dan pemuda.

Tayangan Televisi yang tidak mendidik mempengaruhi mental anak
Tayangan Televisi yang tidak mendidik mempengaruhi mental anak (Sumber: http://data.seruu.com/images/seruu/article/2013/10/28/27(571).jpg)

Rendahnya standard pengawasan membuat beberapa tayangan televisi berkualitas sangat rendah.

Sebenarnya untuk membendung komersialisasi tayangan yang hanya menguntungkan pengusaha (pemilik stasiun televisi), di Indonesia telah ada lembaga khusus yang bertugas mengawasi tayangan maupun siaran televisi. Setidaknya ada 2 lembaga yang bertanggung jawab akan kualitas tayangan yang kita tonton yaitu Lembaga Sensor Indonesia (LSI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Namun sampai saat ini, peran kedua lembaga tersebut kurang maksimal. Masih banyak tayangan-tayangan yang tak layak dan tidak mencerminkan budaya Indonesia sebagai negeri timur yang santun.

Belum adanya regulasi dan standard yang pasti akan mutu tayangan menjadi sebab banyaknya tayangan yang tidak layak justru malah tayang dan bahkan digemari oleh masyarakat. Sebagai contoh dalam hal berpakaian, seorang pelajar yang baik akan memasukkan bajunya kedalam celana atau rok serta bagi siswi mengenakan rok dibawah lutut. Namun kenyataannya, dalam berbagai tayangan dan hampir 100 persen -baik film maupun sinetron- nilai-nilai tersebut seperti diabaikan. Yang ada justru para siswa memakai pakaian tidak rapi, sementara siswinya berpakaian bak model yang mengenangkan rok mini dan pakaian ketat yang sangat tidak mencerminkan nilai-nilai seorang pelajar. Tayangan-tayangan yang tidak bermutu inilah yang secara sadar atau tidak dicontoh dan ditiru generasi muda -terutama pelajar- kita.

Memang tidak dapat dipungkiri, peran KPI dan LSI dalam membendung tayangan yang negatif sangat besar. Telah banyak tayangan yang diberikan teguran bahkan sampai dihentikan penayangannya oleh KPI. Namun yang sangat disayangkan, penghentian penayangan sering kali bukan karena inisiatif dari KPI sendiri namun karena banyaknya komplain dari masyarakat.

Salah memilih teladan
Salah memilih teladan (Sumber: http://kangfuad.files.wordpress.com/2010/11/aadc_harisfirdaus_3.jpg)

Efek buruk tayangan tidak mendidik
Efek buruk tayangan tidak mendidik (Sumber: http://i.ytimg.com/vi/E4SIXFhAZXQ/hqdefault.jpg)

Peran Televisi dalam degradasi moral Penerus Bangsa.

Kebutuhan masyarakat akan televisi sebagai media hiburan yang murah, tidak didukung oleh regulasi yang jelas untuk menjaga kualitas tayangan televisi tersebut. Akibatnya, sebagian besar acara televisi pada jam utama (prime time) berisikan tanyakan yang tidak mendidik. Disadari atau tidak, tayangan ini telah merasuk dan membekas dalam ingatan para remaja. Dan tidak bisa dipungkiri, degradasi moral remaja yang terjadi saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran televisi. Tidak hanya itu, cara berpakaian, tingkah laku dan gaya hidup remaja saat ini telah berkiblat ke televisi sampai mereka tidak lagi memiliki jati diri.

Ketika para remaja mengalami krisis jati diri dan kepribadian, maka sangatlah mudah bagi mereka terombang-ambing mengikuti apapun yang mereka lihat dan denger tanpa adanya filter yang membendungnya. Mudah bagi mereka meniru cara berpakaian, gerakan, tutur kata bahkan tingkah laku idolanya di televisi. Tidak kah kita sedih melihat generasi penerus bangsa ini tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap diri dan jati diri bangsanya?

Pemerintah dan Keluarga bertanggung jawab dalam memfilter tayangan di televisi.

Sudah saatnya kita semua sadar dan bertanggung jawab terdahap apa yang mereka dengar dan lihat. Pemerintah harus membuat peraturan yang tegas tentang tontonan di televisi. Tidak hanya itu saja, peran serta keluarga sangatlah penting. Jangan biarkan anak-anak kita menonton televisi sendirian tanpa ditemani oleh orang dewasa yang bertanggung jawab. Kesadaran akan pentingnya memfilter tayangan anak harus ditumbuhkan dalam keluarga agar tercipta iklim yang sehat bagi tumbuh kembang anak.

Mereka adalah cerminan masa depan bangsa.

Mereka adalah cerminan masa depan bangsa
Mereka adalah cerminan masa depan bangsa (Sumber: http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2014/11/anak-anak-ceria.jpg)

Menjamin kualitas tontonan mereka adalah bukti tanggung jawab kita akan keberlangsungan bangsa ini. Keceriaan mereka adalah cerahnya masa depan, jangan biarkan keceriaan mereka direnggut oleh tontonan yang tidak bermutu dan mendidik. Mereka adalah cerminan masa depan bangsa.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share: