Sinergisitas Peran Dalam Perbaikan Moral Generasi Bangsa

[Karya KBM3] Sinergisitas Peran Dalam Perbaikan Moral Generasi Bangsa

Posted on Updated on

Fenomena kenakalan remaja yang marak akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa ada yang salah dengan pendidikan moral di negeri kita. Jika ada pihak yang pertama kali patut disalahkan, maka itu adalah orang tua. Sebab mereka adalah orang yang pertama kali memperkenalkan dunia ini kepada sang anak. Karenanya, orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Namun tentu saja orang tua tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Para guru di pendidikan formal serta sistem pendidikan rancangan pemerintah yang kompleks juga ikut ambil peran terhadap dekadensi akhlak generasi muda bangsa. Perlu upaya yang signifikan dan kontinyu dalam upaya perbaikan ini. Karenanya perlu keterlibatan dari berbagai pihak. Dalam hal ini, pihak yang paling berperan adalah orang tua, guru dan pemerintah. Ketiga pihak ini perlu bersinergi dalam menjalankan peran masing-masing demi terwujudnya generasi bermoral.

ORANG TUA
Tidak dapat disangkal bahwa orang tua adalah sokoguru pembangunan moral generasi bangsa. Orang tua adalah pihak pertama yang menentukan baik-buruknya kualitas moral seorang pemuda. Didikan yang baik sejak kecil akan menempa seseorang menjadi pribadi yang berkarakter baik, begitu pula sebaliknya.

Kenyataannya, banyak orang tua yang mengabaikan peran mereka dalam pembentukan moral. Urusan pengasuhan dan perawatan anak diserahkan kepada babysitter. Urusan pengetahuan diserahkan kepada sekolah-sekolah. Urusan pemahaman agama diberikan kepada ustadz-ustadz atau guru mengaji yang didatangkan ke rumah. Sekedar itu saja. Urusan moral diabaikan. Anak jarang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya sendiri. Lalu ketika kasus moral membelit anak, orang tua tak segan-segan menyalahkan pihak sekolah yang seolah telah abai mengurusi anaknya.

Hal ini sepertinya sudah menjamur di negeri kita. Paradigma berpikirnya adalah sekolah bertanggung jawab terhadap semua kerusakan moral yang terjadi. Padahal pada kenyataannya, sekolah tidaklah bertanggung jawab sepenuhnya.

Karena itu, perlu semacam penyadaran publik bahwa orang tua memiliki peran vital dalam pembentukan karakter anak sebagai generasi masa depan bangsa. Orang tua perlu dididik tentang ilmu parenting. Pasangan-pasangan muda yang hendak menikah perlu dibekali dengan berbagai ilmu kerumahtanggaan, salah satunya adalah tentang bagaimana mendidik anak dengan benar. Jika kita melihat apa yang diutarakan Santrock dalam Educational Psychology (2011), maka cara mendidik anak (parenting style) yang terbaik adalah authoritative parenting yaitu gaya mendidik yang hangat namun tegas.

Video berikut menjelaskan tentang empat gaya parenting.

GURU
Dalam UU Guru dan Dosen, UU No. 14 Tahun 2005, guru didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Guru adalah orang tua ketiga setelah ayah dan ibu. Karenanya, perannya sangat diharapkan dalam memperbaiki moral generasi depan bangsa. Sesuai definisi undang-undang di atas, guru memiliki tugas kompleks dalam membangun generasi bangsa ini. Tidak hanya sekedar menyalurkan ilmu pengetahuan, guru juga diharapkan mampu menjadi pendidik, pembimbing dan pengarah anak di ranah moral.

Lantas bagaimana seorang guru harus menjanlankan begitu banyak tugas itu dalam satu waktu sekaligus? Penulis merasa langkah paling efektif untuk ditempuh adalah dengan menjadi teladan moral bagi siswa-siswanya. Keteladanan selalu menjadi jurus jitu untuk menularkan kebaikan. Jika kita telusuri keberhasilan dakwah Rasulullah saw, maka akan kita temukan bahwa keteladanan menjadi faktor yang sangat berperan. Banyak yang terpesona dan akhirnya memeluk Islam dengan sukarela karena keteladanan yang beliau pancarkan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Masalah yang dihadapi sekarang ini adalah moral guru juga ikut bobrok dengan berbagai kasus yang menjeratnya. Bagaimana mungkin guru bisa menjadi teladan di tengah rendahnya kepercayaan masyarakat? Kita kembali menemukan sebuah siklus yang sudah berulang-ulang sekian kali tentang kendala pembentukan moral bangsa. Namun selalu tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki.

PEMERINTAH
Berbagai fenomena memiriskan yang menggambarkan bobroknya moral bangsa seperti tawuran, pergaulan bebas, kecanduan narkotika, remaja hamil di luar nikah, dan sebagainya seharusnya sudah cukup menjadi alasan bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan anak bangsa.

Selama ini, kita melihat betapa pendidikan formal menekankan aspek pengetahuan semata dan menomorsekiankan pendidikan moral. Kurikulum secara gamblang mengatur mata pelajaran moral seperti pendidikan agama Islam dan pendidikan kewarganegaraan hanya diajarkan selama dua jam pelajaran dalam seminggu. Di samping itu, kualitas moral guru yang di luar ekspektasi semakin memperterjal jalan perbaikan moral.

Kenyataan itu semua menjelaskan bahwa ada yang tidak tepat dengan sistem pendidikan Indonesia. Kita bisa katakan bahwa banyak anak-anak bangsa yang bisa berprestasi di pentas internasional. Tapi kita juga tidak bisa melupakan bahwa prestasi sehebat apapun akan tidak bisa digunakan nantinya dalam pembangunan bangsa apabila tidak diiringi dengan moral yang beradab.

Sudah seharusnya pakar pendidikan bangsa ini menilik kembali bagaimana Islam dulu berjaya dan kejayaan itu bertahan dalam waktu lama. Kuncinya adalah pendidikan moral yang mendalam di dalam keluarga. Ibnu Sina boleh saja dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern, Ibnu Rusyd boleh dikenal sebagai ahli filsuf, Al-Khwarizmi boleh dikenal sebagai matematikawan ulung, tapi sesungguhnya semua keahlian itu baru mereka pelajari setelah faqih (ahli) dalam berbagai ilmu dasar agama.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya Kementerian Pendidikan, baik itu yang mengurusi pendidikan dasar, menengah maupun tinggi mereformasi kurikulum dengan memperbanyak alokasi waktu terhadap pendidikan moral dan pembentukan karakter. Langkah tepat untuk ditempuh oleh pemerintah adalah dengan berkoordinasi secara lebih intens dengan Kementerian Agama. Kabar baiknya, kementerian yang digawangi oleh Lukman Hakim Saifuddin sudah mencuri start dengan menggandeng ESQ dalam perbaikan moral internal kementerian (Republika, 31 Oktober 2014).

Ketiga pihak ini diharapkan dapat menjalankan peran dan fungsinya masing-masing dalam membangun moral bangsa yang lebih berkualitas. Sehingga melalui kerja keras yang sungguh-sungguh, mimpi mewujudkan generasi Indonesia Emas pada tahun 2045 mendatang tidak menjadi isapan jempol belaka.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share: