Tak Hanya ‘Mereka’ yang Salah

[Karya KMB3] Tak Hanya ‘Mereka’ yang Salah

Posted on Updated on

Miris, satu kata yang dapat menggambarkan perasaan saya ketika melihat kondisi beberapa remaja di lingkungan tempat tinggal saya. Remaja putra dan putri yang berboncengan sambil berpelukan nyaris menjadi pemandangan yang biasa. Dan yang paling mencengangkan adalah mereka masih menggunakan seragam abu-abu putih bahkan beberapa dari mereka berseragam biru putih. Begitu pula di tempat-tempat wisata, tidak jarang saya menjumpai beberapa pasang remaja putra dan putri tanpa rasa malu dengan asyiknya jalan bergandeng tangan seolah dunia milik berdua.

Kerusakan moral telah nampak jelas di depan mata. Ketika generasi muda dengan bangganya mengumbar kemesrasaan dengan pacarnya, ketika mereka merasa bangga dengan tindakan amoral yang mereka lakukan, dan ketika rasa malu sudah tidak ada lagi pada diri mereka. Melihat realitas beberapa remaja yang seperti itu, rasanya tidak heran jika beberapa tahun terakhir saya sering mendapat undangan pernikahan dari anak yang usianya sangat muda, bahkan beberapa diantara mereka belum lulus sekolah menengah atas. Fenomena sudah memiliki momongan setelah beberapa bulan menikah pun bukan menjadi hal yang tabu lagi. Gambaran tadi merupakan salah satu bentuk merosotnya moral remaja akhir-akhir ini. Apabila generasi mudanya terus seperti ini, mau dikemanakan bangsa kita?

Ada pepatah yang mengungkapkan bahwa tak ada asap jika tak ada api. Tidak ada akibat tanpa sebab. Maka dari itu alangkah bijaknya jika kita mau menganalisis penyebab terjadinya kerusakan moral dan mencari alternatif-alternatif solusi yang tepat daripada hanya menghujat dan menghakimi penyimpangan yang mereka lakukan. Jika kita mau melihat, sebenarnya masa remaja merupakan suatu masa yang canggung. Remaja merupakan sebuah tingkatan umur di mana anak-anak tidak lagi anak, akan tetapi belum dapat dipandang dewasa. Jadi, remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, maka tidak heran jika banyak konflik yang sering muncul seiring dengan penyelesaian tugas perkembangan remaja.

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja. Pertama, permasalahan fisik, perubahan bentuk tubuh yang begitu drastis pasca pupertas menjadikan permasalahan tersendiri bagi remaka. Mereka harus meyesuaikan diri dengan bentuk tubuh yang baru. Namuan sayang terkadang beberapa orang tua acuh dengan hal ini dan tidak memberikan pengarahan terhadap anak mereka dengan tubuh barunya.

Kedua, permasalahan dengan orang tua. Coba intip kehidupan keluarga seorang remaja yang melakukan penyimpangan, bisa jadi permasalahan dengan orang tuanya lah yang membuatnya seperti itu. Kita bisa melihat dari tipe orang tuanya misalnya. Orang tua yang bertipe otoriter sering kali membuat anak tertekan karena mereka cenderung dibatasi dan merasa dirinya terkekang. Nah, anak dari orang tua tipe ini bisa jadi menjadi anak yang tidak berani mengambil keputusan, penakut, atau bahkan mereka bisa juga mencari kebebasan di luar rumah yang terkadang bersifat negatif. Sementara orang tua yang bertipe permisif, atau selalu mengiyakan apa saja yang dilakukan anak akan membuat anak tidak memiliki aturan hidup dan tidak mengerti bagaimana yang baik dan buruk. Belum lagi dengan orang tua yang tidak mau tahu dengan utusan anak dan tidak memberi perhatian pada anak, bisa jadi anak mereka akan mencari perhatian di luar rumah atau lari pada hal-hal yanh negatif.

Ketiga, permasalahan dengan teman. Masa remaja merupakan masa ‘manjauh’ dari orang tua atau keluarga dan cenderung ‘mendekat’ dengan teman. Pada masa ini, remaja cenderung lebih nyaman bersama dengan teman-temannya dibandingkan dengan ketika ia bersama dengan orang tuanya. Namun harus diketahui tidak semua teman yang ada itu baik untuk si remaja itu tadi. Maka dari itu, tugas orang tua adalah mengawal pergaulan anak dengan teman-temannya agar ia tidak terjerumus dengan teman yang kurang baik.

Ketiga, gejolak cinta dan seksualitas yang diaplikasikan dengan salah kaprah. Seperti yang kita ketahui, seiring dengan peristiwa pubertas, maka hormon-hormon cinta dan seksualitas terbentuk. Jika gejolak cinta dan seksualitas tidak dimanage dengan baik, tentu akan berdampak negatif pada remaja seperti sex bebas.

Keempat, masalah akademik. Salah satu tugas perkembanga remaja adalah studi. Namun tidak jarang beberapa remaja yang mengalami permasalahan akademik. Misalnya ketika ia mendapat nilai buruk dalam ujian lalu orang tua mereka memarahi bahkan ia diberi label sebagai anak yang bodoh. Hal ini tentu memberi dampak secara psikologis pada diri remaja.

Kelima, kondisi emosi yang tidak stabil. Kondisi emosi remaja yang tidak stabil sangat mempengaruhi tingkah laku remaja. Tidak jarang kondisi emosi yang tidak stabil menjadi pemicu perilaku yang menyimpang.

Keenam, kontrol diri yang lemah. Kontrol diri yang lemah dapat mengakibatkan tidak adanya filter atau penyaring antara hal yang baik baginya dan yang tidak baik baginya. Lemahnya kontrol diri dapat mengakibatkan segala hal yang bersifat negatif maupun positif masuk dengan mudah pada diri remaja.

Keenam, memampuan menyelesaikan masalah (coping) yang tidak kompeten. Apabila remaja tidak memiliki keterampilan menyelesaikan masalah dengan kompeten, maka bisa jadi apabila mereka mengalami suatu permasalahan, mereka justru mengalihkan dan melampiaskan kekesalan mereka pada hal-hal yang negatif.

Ketujuh, perkembangan spiritual yang tidak kuat. Aspek spiritual merupakan aspek paling penting bagi kehidupan manusia karena aspek spiritual dapat menjadi filter dari hal-hal yang negatif. Namun, apabila remaja tidak memiliki pondasi spiritual yang kuat, tentu tingkah lakunya akan lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat menyimpang.

Setelah kita mengetahui kemungkinan-kemungkinan penyebab kerusakan moral remaja, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah lakukan perubahan. Tak perlu memikirkan perubahan yang besar, karena sejatunya perubahan kecil yang dilakukan jauh lebih berarti daripada perubahan besar yang hanya dipikirkan tanpa ada realisasi. Mari kita mulai dari diri kita, dari keluarga kita. Berikut beberapa alternatif yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi dan mencegah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja.

Pertama, rubah mindsetnya. Pelabelan buruk yang diterima remaja akan membuat remaja berperilaku semakin buruk. Karena dalam proses pencarian jati diri, remaja memercayakan sumber-sumber dari luar untuk memberitahukannya kepada mereka. Padahal sebuah julukan atau label bukan berarti baik atau buruk. Julukan hanyalah sebuah julukan meski sering kali remaja terlalu lebay dalam menafsirkan julukan yang diberi kepadanya. Julukan hanyalah cara orang untuk mengidentifikasi, mendefinisikan, dan mengategorikan sesuatu untuk memusatkan cara kita bereaksi terhadap sebuah situasi. Sayangnya, terkadang lebih mudah bagi remaja untuk menerima label yang diberikan orang lain daripada mengungkapkan siapa diri mereka sesungguhnya.

Sebuah hal yang penting ditanamkan pada remaja adalah ketika mengalami peristiwa yang menyakitkan, para remaja menjadi sadar bahwa meskipun mereka tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi pada diri mereka atau apa yang orang lain pikirkan tentang mereka, mereka dapat mengendalikan bagaimana cara menanggapinya. Ajarkan pada mereka bahwa tak peduli masalah apa yang timbul, mereka dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang hebat dan beranggapan “Ini adalah kesempatanku. Aku punya peluang untuk menerima sesuatu yang menyakitkan kemudian mengubahnya”.

Kedua, beri wawasan tentang potensi yang ia miliki. Setiap anak memiliki potensi-potensi pada dirinya. Terkadang mereka tidak mengetahui potensi-potensi apa yang ada pada dirinya. Maka dari itu, mereka perlu diarahkan dan dituntun untuk menemukan potensi serta mengembangkannya.

Ketiga, beri wawasan tentang tugas-tugas perkembangannya. Setelah kita merubah mindsetnya menjadi berpandangan lebih baik tentang penilaian terhadap dirinya sendiri dan mengetahui potensi-potensinya, langkah selanjutnya adalah beri ia wawasan tentang tugas-tugas perkembangan yang harus ia jalani. Pemberian gambaran tentang tugas-tugasnya seperti beradaptasi dengan perubahan fisik yang drastis, menjalin hubungan interpersonal dengan baik, menempuh pendidikan, mencari identitas, dan lain sebagainya dapat memberi ia wawasan untuk melangkan ke depannya. Kebingungan remaja akan berkurang seiring dengan bertambahnya pengetahuan mengenai apa yang yang terjadi pada dirinya dan apa yang harus ia lakukan.

Keempat, orientasi masa depan. Selain memberi wawasan tentang tugas-tugas perkembangan remaja, hendaknya kita juga memberi mereka orientasi masa depan. Salah satu cara untuk mengajarkan remaja tentang orientasi masa depan adalah dengan memintanya untuk menulis semua harapan dan langkah-langkah untuk mencapai harapan tersebut pada sepuluh tahun yang akan datang. Kemudian mereka diminta untuk menuliskan apa yang telah ia lakukan sepuluh tahun terakhir dan perubahan apa yang telah ia perbuat selama ini. Dengan demikian, kita dapat menggiring pemikiran remaja untuk berorientasi pada masa depan. Sehingga hal ini dapat mengubah motivasi yang rendah menjadi pencapaian tujuan melalui membayangkan kesuksesan dan mengikuti langkah-langkah untuk meraih tujuan, baik besar maupun kecil.

Kelima, melatih keterampilan coping atau menyelesaikan masalah yang kompeten. Remaja sering kali membuat keputusan-keputusan untuk menyelesaikan masalah dengan tidak kompeten. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya wawasan remaja tentang ketrampilan coping yang bagus. Orang tua atau pendamping sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang remaja sehingga bimbingan dari orang dewasa terdekat sangat diperlukan untuk melatih keterampilan coping pada remaja.

Keenam, melatih keterampilan managemen emosi yang baik. Konflik yang sering dialami oleh remaja tidak sebanding dengan keterampilan mahagemen emosi pada remaja. Bahkan usia remaja dianalogikan dengan keadaan emosi yang meledak-ledak, tidak heran jika remaja sulit untuk mengungkapkan perasaan sakit hati dengan cara yang positif. Padahal para remaja akan merasa sangat terbantu saat mereka dapat mengungkapkan hal-hal yang menyakitkan dalam suasana yang tidak membuat pembicaraan itu menjadi lebih menegangkan.

Ketujuh, melatih kemampuan relaksasi. Kemampuan relaksasi sangat penting bagi remaja. Mengingat remaja sering mengalami konflik-konflik yang mengakibatkan rasa sakit atau marah sehingga ia perlu berelaksasi dalam menghadapi permasalah tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan selain merelekskan diri saat menghadapi permasalahan adalah dengan cara bersikap fleksibel.

Bersikap fleksibel berarti belajar untuk menghadapi perubahan. Flesibel adalah membuang yang tidak perlu sambil mencari-cari jika ada yang diragukan. Kehidupan ini selalu menyuguhkan hal-hal yang tak terduga dari waktu ke waktu, dan perubahan akan selalu terjadi. Sehingga remaja diminta untuk bersikap releks dan fleksibel dalam menghadapinya. Jika situasi tidak berjalan seperti yang direncanakan, remaja dapat bertahan dengan perilaku yang tidak sesuai rencana atau mereka bisa melepaskannya dan melakukan sesuatu yang berbeda.

Kedelapan. Ubah lingkungannya. Mengubah lingkungan remaja yang tidak mendukung bagi perkembangannya menjadi lingkungan yang mendukung dan menyenangkan bagi tumbuh kembang remaja tidak kalah penting dengan solusi-solusi yang ditawarkan di atas. Secara garis besar, lingkungan yang berpengaruh pada perkembangan remaja adalah lingkungan rumah atau keluarga dan lingkungan sekolah atau teman sebaya.

Remaja sebenarnya hanya ingin didengarkan dan dimengerti sehingga komunikasi antara orang tua dengan anak remajanya harus dibangun dengan ideal. Namun sayang, sebagian orang tua kurang memperhatikan hal ini. Alasan utama putusnya komunikasi adalah para remaja sering menganggap orang lain tidak sungguh-sungguh mendengarkan mereka. Padahal, mereka ingin didengar dan dipahami lebih dari segalanya. Selain itu, remaja dan orang tua sering berbicara melalui dua sudut pandang yang berbeda. Maka dari itu, sebaiknya orang tua memperbaiki gaya berkomunikasi dengan menjadi pendengar yang baik. Ketika anak merasa didengar dan dimerngerti, mereka pun terinspirasi untuk mendengar dan memahami orang lain.

Gaya pengasuhan juga tidak kalah penting. Orang tua hendaknya menunjukkan sikap menerima atas anak remaja mereka, memberi penghargaan atas apa yang telah ia capai dan memberi empati pada mereka sehingga mereka akan merasa dihargai oleh lingkungannya. Mengingat betapa pentingnya menjaga moral remaja demi kelangsungan hidup bangsa ini, sepertinya semua pihak harus ikut serta berpartisipasi dan peduli terhadap tumbuh kembang remaja. Sudah saatnya kita peduli dan ikut bertindak, bukan hanya menjudge dan mencemooh. Bersama, kita mampu mencetak generasi penerus bangsa yang hebat.

 

Please like & share: